ARKANIT 01

37 9 0
                                        

Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indah ku yang du....

Anit berhenti bernyanyi dan memandang kesal orang yang menghentikan musik yang sedang didengarnya, "Iss kenapa dimatiin sih bang." Protes Anit kepada abangnya, Reyan.

"Suara lo ganggu."

"Dihh, orang kamar gue kok. Lo nya kalau gak mau keganggu sono pindah kamar sendiri." Kata Anit tak terima.

Reyan memang sedang berada di kamar Anit. Hanya untuk sekedar mengacaukan kasur yang telah dirapikan adiknya itu dan menjahilinya. Begitulah sosok anak pertama Keluarga Nelson.

"Bawel ya, besok abang berangkat ke luar kota awas ya nelponin abang minta oleh-oleh."

"Berangkat kemana?"

"Palembang."

"Abang mah gitu, pempek disana enak-enak loh bang beda sama yang jual disini." Kata Anit mengode. Namun sepertinya tidak mempan. Reyan justru malah bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.

"Abang bawain yaa." Teriak Anit melihat Reyan yang pura-pura tak mendengarnya. Kembali dihidupkannya lagu yang sempat dimatikan Reyan tadi.

...lu pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu
Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita A...

Lagi-lagi musik itu terhenti oleh Reyan. Anit menatap kesal Reyan.

"Dek"

"Hmm"

"Temenin abang makan diluar yok."

"Ayo bang, sate madura ya sama bandrek susu enak kayaknya." jawab Anit dengan semangat.

"Yang mau makan siapa sih. Kenapa jadi lo yang nentuin menunya."

"Pulangnya beli martabak ya bang."

"Berisik, udah cepet abang laper nih. Abang tunggu di teras kalau lama abang tinggal."

"Siaaap abang ku sayang."

❇❇❇

"Dek, lo udah putus ya sama Candra?" Tanya Reyan sambil melirik adiknya yang tengah memainkan handphone.

Anit melirik Reyan sekilas, lalu memainkan handphonenya kembali.

"Eh buset gue tanya juga dijawab kek."

"Kenapa?" Tanya Reyan lagi.

Anit berhenti memainkan handphone dan menatap ke arah Reyan, "Kenapa emang?"

"Jawab aja sih dek."

"Ya udah ga cocok."

"Ck. Klise banget jawaban lo. Gue serius ini."

"Deandra suka Candra. Bang nanti gak usah beli martabak deh pulangnya ya beliin Anit bakso bakar aja deh sama chatime ya." Kata Anit berusaha mengalihkan pembicaraan abangnya.

"Makan dimana jadi nih ?"

"Sate dong tetep, warung sate depan sekolah abang dulu enak tuh."

"Yee bilang kek daritadi kalau mau makan disitu neng, kan kudu muter balik kitanya."

"Yaudah sih tinggal muter itu ada puteran di depan." Tunjuk anit mengarah ke jalan.

Akhirnya mereka sampai juga di warung sate yang dimaksud Anit. Suasana disana cukup ramai tapi masih tersisa tempat untuk Reyan dan Anit.

"Bang, Anit ekstra lontong ya." Kata Anit sambil terkekeh.

"Lo cewek makan malu-maluin gue aja." Kesal Reyan namun yang dimaksud malah meninggalkannya dan mencari tempat duduk.

"Pak, satenya dua yang satu ekstra lontong ya pak." Ucap Reyan kemudian menyusul Anit.

"Siapa yang mutusin?" Tanya Reyan tiba tiba setibanya ia di hadapan adiknya.

"Berisik mau tau banget."

"Siapa yang mutusin?" Tanya Reyan lagi.

"Gue."

"Candra tau alesan lo mutusin dia?"

"Ck. Nggak. Udah ah bang laper ini." Anit selamat karena makanan yang dipesan datang. Anit tak mengerti mengapa Reyan tiba-tiba menanyakan hubungan dirinya dengan Candra. Hingga makanan mereka habis mereka makan dengan diam.

"Kenapa gak cerita ke Candra ?" Tanya Reyan lagi. Entah sudah berapa pertanyaan yang Reyan tanyakan. Sepertinya Reyan benar-benar mengintrogasinya kali ini.

"Males, ngeribetin."

Sebenarnya Anit malas membicarakan ini. Terlebih lagi tentang Candra. Anit tau bahwa dirinya salah. Memutuskan hubungan tanpa ada alasan yang jelas. Bagi Anit sih jelas namun mungkin bagi Candra mungkin tidak. Sakit sebenarnya untuk meninggalkan padahal diri sendiri nyatanya enggan melepaskan karena memang tak ada masalah diantara mereka sebelumnya juga mungkin sesudahnya. Oh tidak mungkin masalah sesudahnya hanyalah kejelasan berakhirnya kisah kita bagi Candra.

"Ayo pulang." Ajak Reyan.

"Bakso bakar sama chatime jangan lupa." Sahut Anit.

"Makasih ya pak" ucap Reyan kepada Pak Eno, penjual sate.

"Yoi mas bro." Jawab Pak Eno ramah.

Anit masuk ke dalam mobil terlebih dahulu meninggalkan Reyan yang sedang membayar makanan tadi.

Kalau dipikir-pikir iya juga ya, kenapa harus putus dengan Candra. Seharusnya Anit menjelaskan kepada Deandra tentang hubunganya dengan Candra. Pasti Deandra mau mengerti, tidak mungkin Deandra akan memusuhinya. Anit tahu betul sifat teman kecilnya itu. Ish, bodoh. Kenapa baru kepikiran sekarang coba, nit.

❇❇❇

Hello, I'm back. Gimana nih kesan pertama part ini ?

Berdoa saja semoga cerita kali ini bakalan dibuat sampai selesai. Dont forget to vote and comment. Kritik dan saran yang membangun boleh diajukan. Thankyou Dear 💕

Palembang, 29 Maret 2019

ARKANITDes histoires addictives. Découvrez maintenant