01

171 15 0
                                        

"Apa aku akan sendiri?"

Seorang gadis datang dengan peluh yang membajiri wajahnya. Kepangan rambut hitamnya berterbangan seolah menari-nari tertiup angin. Dengan tergesa menggoes pedalnya menuju sebuah gedung putih bertulis "SMA Harapan"

"Bagus Del, telat terus! Kapan ga telat sih?" Omelnya disepanjang jalan entah pada siapa. Nafasnya terengah-enah, kedua tangannya membelokkan arah ke kiri. Disana tampak sebuah lahan kosong yang penuh dengan mobil.

"Sepeda boleh parkir kan?" Monolognya sendiri saat langkahnya membawanya kesalah satu mobil hitam yang tampak sekali kemewahannya. Gadis itu meringis sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.

"Bolehlah, kan sama-sama murid." Monolognya lagi berusaha netral dengan situasi.

Gadis itu memarkirkan sepedanya dan memakai kacamata bulatnya. Tangannya terulur melihat mobil itu.

"Sepertinya baru." Gumaman kecil terdengar hanya oleh gadis itu.

Kedua tangan gadis itu terangkat dengan membentuk huruf 'v' mengarahkab ke pipi gula jawanya. Bibir merah muda itu terangkat membentuk lesung pipi yang manis seolah berpose pada kaca mobil.

Tak sadar bahwa didalam mobil ada segerombol anak yang memperhatikan gadis itu rendah. Bibir semua orang itu terangkat dengan tawa yang ia tahan. Namun, mereka tertawa lepas saat gadis itu hanya terbengong tak mendengar tawa dari dalam mobil.

TENG TENG TENG

Oke, sepertinya suara itu berhasil menarik atensinya. Ia menyudahi aksi 'terpukau dengan mobil hitam' kemudian kerlari kecil kearah gerbang yang di jaga oleh bapak kumis dengan sorot mata tajam. Sang gadis tersenyum manis dan mengangguk kecil dan dibalas oleh bapak kumis.

"Anak tukar pelajar ya?" Ucap bapak itu ramah.

"Iya pak, bapak tau kelas saya?" Ucap gadis itu sopan.

"Lantai 2 belok ke kiri nanti ketemu ruangan. XI-MIPA2 sama ini titipan bu kepsek."

Sang gadis menerima sambil menganggukan kepalanya dan mengucapkan terima kasih lalu berlari kecil sambil menelusuri tempat baru itu. Langkah kecilnya membawa tubuh gula jawanya kedalam kelas bertulis "XI-MIPA2"

Bisikan demi bisikan menyapu pendengaran sang gadis namun hanya dianggap angin lalu oleh sang gadis. Tangan kecilnya ia pakai untuk  menelungkupkan kepalanya hingga bel berbunyi dan kelas pun dimulai dengan perkenalan dirinya sebagai murid baru.

"Perkenalkan, Saya Kirana Adelie Chandra biasa dipanggil Kirana." Ucap seorang gadis yang hanya diselimuti canggung. Tak lama banyak komentar merespon.

"Cupu!"

"Anak beasiswa ya?"

"Ga cocok sama namanya."

Kirana menunduk bergumam lirih "Apa aku akan sendiri?"

"Dia cantik." Gumaman seorang pemuda dengan pelan sambil tersenyum tulus juga maniknya menghangat bertemu dengan Kirana.

Suasana menjadi hening saat suara seseorang yang terkenal irit bicara setero sekolah. Gumaman pemuda itu lolos terdengar satu kelas dan membuat semua mata memandang kearahnya. Ia seorang most wanted karena ketampananya dan otak berliannya. Semua orang berusaha mendekatinya sejak ia datang tak terkecuali para guru. Sorot matanya tajam dan dingin dengan langkah tegas menulikan semua teriakan demi teriakan sepanjang lorong. Kening gadis bernama Kirana muncul saat bertemu mata dengan pemuda itu. Sebuah kehangatan yang terpancar. Berbeda dengan tatapan satu kelas yang menatapnya tajam dan rendah.

SMA Harapan, sekolah yang terkenal dengan siswanya yang pandai dan kaya raya. Disana tempat berkumpulnya anak penjabat atau anak artis lainya. Sekolah dengan rating terbagus dalam fasilitas juga dan akademik. Lulusan sana juga terkenal dengan kepintarannya yang bisa langsung diterima oleh universitas terkenal. Dan karena alasan terakhir itulah Kirana masuk ke sini dengan beasiswanya.

"Sudah-sudah. Kirana duduklah dimana kursi kosong yang kau mau mau." Ucap Bu Hana. Guru Fisika yang kini menjadi wali kelas Kirana.

"Baik bu, terima kasih."

Langkah kecil Kirana yang tertunduk membawanya atensinya ke sebuah kursi belakang dekat dengan jendela. Sepasang meja kursi yang kosong yang sepertinya tidak pernah terisi.

"Memang kursi anak beasiswa." Sautan dingin terdengar setelah situasi dingin tadi. Semua orang tertawa kecuali beberapa manik yang menatapnya iba. Bu Hana mempertajam netra hitamnya membuat seisi kelas kembali diam dan melanjutkan pelajaran.

"Ayo semangat Kirana!" Monolognya sendiri entah pada siapa. Kedua tangannya ia angkat seperti seorang suporter dan menggoncangkannya seolah menyemangati seseorang. Dirinya sendiri. Aksi kecil itu tak menarik perhatian pemuda yang tak jauh dari sana. Sebuah senyum kecil terbit dari bibir yang selalu tertutup itu. Senyum yang jarang ditunjukan kecuali bagi sahabat/keluarganya. Dan semua orang melewatkan salah satu peristiwa langka yang mungkin akan membuat kaum hawa memekik histeris.

Ini revisi "Harapan" yang dirombak  sama Mei karena alurnya beneran dangkal kemarin (foto dibawah). Semoga revisi lebih baik dengan alur sekarang ya...

Terima kasih

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Terima kasih.

Voment boleh kak!

KiranaWhere stories live. Discover now