Prolog

68 10 1
                                        


JUNI

Bagiku, planet yang paling indah di tata surya adalah Bumi. Mengapa bisa kubilang begitu? Alasannya sederhana, karena hanya disanalah aku bisa bertemu denganmu. Walaupun kata orang lain, Saturnus lebih indah karena memiliki cincin yang terbuat dari bebatuan dan es. Atau mungkin Mars karena menjadi satu-satunya planet yang identik dengan warna merah. Tetapi sungguh, aku tidak peduli dengan yang lainnya. Dan sebenarnya tinggal di planet manapun atau bahkan di bulan sekalipun, selama ada kamu di sana, semua akan tetap terasa indah. Iya, kan?

Jadi, sebelumnya, aku ingin berterimakasih kepada Tuhan karena sudah menghadirkanmu di Bumi. Sebuah ruang yang diciptakan oleh-Nya, yang dihuni berjuta-juta manusia dengan berbagai cerita yang berbeda. Barangkali tentang kesedihan dan kebahagiaan, tentang perjuangan dan kegagalan, juga tentang cinta mendalam dan harapan yang tenggelam.

Namun ada satu hal yang perlu diingat, bahwa Bumi tak pernah sekalipun mengajarkan sebenar-benarnya keabadian, melainkan kefanaan. Iya, seperti sebuah pertemuan, yang sejatinya akan berakhir pada perpisahan.

"Juni, aku minta kamu buat tenang dulu, ya? Sekarang coba kirim lokasi kamu dimana, aku jemput kamu sekarang. Jangan nangis, Juni, tolong. Tunggu aku, sebentar lagi aku pasti sampai."

Hari itu, hari terakhir di mana aku bisa mendengar suaranya lewat telepon. Seharusnya, aku tak memintanya untuk datang padaku ketika langit mulai berubah warna menjadi kelabu dan suara guntur mulai menggelegar.

Hari itu, aku kehilangan satu planet terindah.

Hari itu, aku ingin sekali punya roket untuk terbang ke bulan untuk menebus semua rasa bersalahku karena telah membuatnya hilang.


Bumi dan JuniWhere stories live. Discover now