Cattleya

546 48 14
                                        

Sudah 2 tahun lebih aku mengenalnya, ya kita juga sekelas mulai dari kelas 1 sampai sekarang kelas 3. Dia adalah sosok yang selalu mengisi hariku dengan penuh tawa. Sebut saja namanya Reyhan. Reyhan anaknya baik banget, pinter, ganteng iyalah aku akui dia emang ganteng, famous, banyak cewek disekolah yang suka dia, ya dia juga adalah seorang kapten basket dan futsal disekolah.

Berbanding terbalik denganku , yang cantik, pinter, famous itu semua bukan kategoriku. Dari dulu aku adalah tipikal cewek yang bodoamat. Aku tidak tau kenapa dia milih aku sebagai pacarnya, padahal dia tau aku orangnya cuek dan tidak famous seperti cewek-cewek yang lagi ngejar-ngejar dia.

Aku mah bodoamat kalau dia lagi sama cewek lain yang suka sama dia, karena aku tau Reyhan orangnya tidak macem-macem, tidak genit sama cewek walaupun dia sering diserbu cewek-cewek, tidam main cewek sana sini. Aku percaya saja sama dia.

Tiap hari aku berangkat sekolah sama Reyhan, pulangpun sama Reyhan. Wajar saja sih kalau pada iri ngeliat aku sama Reyhan, cibiran sana sini selalu ada saja. Yaaa... karena aku orangnya bodoamat jadi tidak kemakan hati, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

...

Tringgg....tringgggg....

Bel sekolah bunyi, aku segera berkemas dan meninggalkan kelas.

"Cat...hey kucing manisku." Reyhan menepuk pundakku dari belakang.

Dia selalu memanggilku kucing, aku sebel kalau dia memanggilku kucing. Mula-mula Reyhan memanggilku kucing dari namaku yaitu Cattleya. Dia memotong namaku hanya "Cat" yang artinya kucing.

Padahal namaku adalah nama indah dari bunga anggrek berasal dari Kosta Rika sampai bagian tropis Amerika Selatan dan merupakan salah satu marga anggrek epifit. Nama seindah itu di samakan kucing kan nyebelin.

"Iiihhh kucing lagi..." Kataku kesal.

"Ciyee... manyun. Kamu kalo manyun gitu jadi mirip kucing beneran." Ujarnya, mencubit pipiku.

Reyhan selalu meledekku, kalau aku marah pun ia tetap meledekku, ya karna ledekkannya juga kadang yang mulanya aku marah jadi ketawa karnanya.

Sore ini pulang sekolah, Reyhan ada latihan basket. Aku menemaninya setiap dia latihan. Lebih seringnya aku melihat dia diserbu cewek-cewek, minta fotolah ini lah itulah, bagiku itu hal biasa dan resiko punya cowok famous seperti dia.

Saat dia lagi diserbu cewek-cewek aku cuma diem, aku menyibukkan diri dengan membaca novel, mengerjakan tugas, baca komik itu lebih bermutu ketimbang lihat cewek-cewek yang nyerbu dia.

Selesai latihan Reyhan menghampiriku.

"Cat, ngapain ketawa sendiri kerasukan jin dari mana lo??" Ledeknya seperti biasa.

Dengan cueknya aku pura-pura tidak mendengar apa yang ia katakan.

"Dasar kayak ngomong sama batu, cowoknya selesai latihan engga dikasih minum malah dicuekin." Ujarnya.

Tanpa memandangnya aku menjawab.

"Buka aja tasku."

"Engga mau, maunya diambilin kucing kesayanganku ini." Katanya manja.

"Nih diminum dulu, jadi orang engga usah manja."

"Ciyee cemburu ya tadi lihat aku di kelilingi cewek." Ledeknya lagi, mencubit pipiku.

Karena ini sudah biasa bagiku melihat Reyhan di kelilingi cewek-cewek. Rasa cemburu bahkan tidak ada, walau kadang rada panas saat ada cewek yang keterlaluan.

"Engga cemburu, udah biasa."

"Iya, ayo pulang sekarang."

Dari pulang sekolah tadi sampai sekarang aku belum menerima pesan dan telpon dari Reyhan. Ini membuatku khawatir, dan tidak seperti biasanya ia tanpa kabar. Aku takut Reyhan kenapa-kenapa, seharusnya ia sudah sampai rumah dan memberiku kabar tapi ini tanpa kabar sama sekali.

CattleyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang