Hujan deras tak menyurutkan seorang gadis untuk memacu motornya lebih kencang di atas sirkuit balap. Dengan motor KLX150 Extreme miliknya perpaduan warna navy, kuning, hitam, dan putih, serta helm full face yang terpasang erat di kepalanya, dia memacu motornya semakin kencang.
Tak peduli embun yang menutup kaca helm-nya karena hujan dan dinginnya udara, serta arena balap yang dapat dibilang cukup licin.
Hanya ada sedikit penerangan dari beberapa lampu yang terpasang di sekitar sirkuit.
Dia tetap memacu cepat motornya di atas arena balap tanpa berniat untuk mengurangi kekuatan gas motornya. Justru Ia semakin menambah kecepatan motornya diatas aspal yang belum diresmikan itu.
Seakan tuli, dia tak peduli teriakan orang-orang yang memintanya agar berhenti dan keluar dari arena balap. Untuknya, harga dirinya adalah hal yang tidak boleh disinggung dan diganggu gugat oleh orang lain.
Dia cukup sakit hati dengan Frans. Ya, Frans, laki laki itu adalah mantan pacarnya yang saat ini sedang bertarung kecepatan dengannya di atas sirkuit.
Kata- kata Frans, mungkin cukup menohok hati gadis itu hingga membuatnya menerima tantangan yang ditawarkan Frans, dan tentunya ada hal yang menjadi taruhan.
Karena sudah di kuasai emosi, dia langsung mengambil keputusan untuk menerima tantangan itu tanpa berpikir dulu.
~~~
"Ann, Lo ga perlu ngeladenin cowok kaya diaa!!! plis berhenti Ann!!!" teriak gadis dengan rambut di cepol dengan membawa payung berwarna navy yang berdiri di samping jalur balap.
"Ann, Lo bisa mati! Berhenti Ann! Dasar keras kepala!!!"
"Ann, plis berhenti. Kalo lo berhenti. Lo boleh bawa Muzza main di rumah lo 7 hari 7 malem!!!"
Teriakan teman temannya yang meminta dia berhenti tak dihiraukan nya. Terlihat raut kekhawatiran di wajah mereka. Teriakan mereka sudah tak mampu di serap telinganya. Mungkin telinganya sudah tuli.
Dia tetap melajukan motornya, bahkan semakin kencang. Teman-temannya di tepi sirkuit itu semakin histeris.
~~~
Hingga putaran terakhir telah usai dia lalui. Ban motornya telah menginjak garis finish terlebih dahulu. Dengan pendaratan terakhir di atas sirkuit yang dia lakukan dengan memutar mutar motornya di atas sirkuit, dan bunyi rem yang terdengar oleh siapapun yang ada di sekitar sirkuit. Suara gesekan ban motor dengan aspalpun turut mengiring. Nampak juga tilas ban di atas aspal.
Dengan tegap dan tetap duduk di atas motor dia melepas helm full face yang terpasang di kepalanya. Di bawah guyuran hujan, dia biarkan butiran air mengguyur rambut dan badannya.
Tak dihiraukan nya hawa dingin di sekitar. Kini seluruh tubuhnya sudah basah. Tapi dia puas. Karena bisa mengalahkan cowok yang dianggapnya brengsek.
Teman-temannya mulai menghampirinya dengan berbagai ekspresi. Rose, berlari ke arah gadis yang masih duduk di atas motor itu dengan membawa payung navy-nya.
"Heh! Gobl*k!!! Lo kalo udah ga sayang nyawa bilang ke gue. bakal gue bunuh lo dengan cara terhormat! organ-organ lo bisa noh gua jual. kalo lo mati di sini kan sia-sia!!!" ucap Rose kesal
"Berisik lo, Rose. Liat kan sekarang? kaki gue masih napak. nih nih liat! gue masih idup" ucapnya sambil menghentakkan kakinya.
"Ann. Lo jangan nekatan gini dong. Ga kasian apa sama kita yang khawatir ke lo?" Ucap Jisoo
