Ruangan Pertama

89 22 2
                                        

Pada musim panas dihari itu kami kelas 2-2 yang ingin belajar dikelas seperti biasanya.
Desiran angin yang masuk melalui jendela yang tertutupi gorden membuat rambut panjang berwarna cokelat kayu Aisaka yang digerai ikut tertiup desiran tersebut. Awalnya ia tidak peduli dan memperbaiki surai rambutnya ke belakang telinganya. Tapi karena terulang kejadian tersebut ia merasa kesal dan ingin menutupnya jendela itu.

"Aisaka! jangan ditutup dong..! panas tau" Tangan Irta yang langsung menahan jendela yang ingin ditutup Aisaka.

Aisaka yang kesal membalas dengan tatapan sinis, "kan masih pagi! yah ditutup dulu lah...! mentang-mentang musim panas emang semua harus dibuka apa?!"
"dasar rambut yang dicat pirang!" ejek Aisaka, karena rambut Irta yang sedikit pirang di ujung poninya.

"hahh?! kenapa kamu tiba-tiba bahas itu sih..?!!" Masih menahan jendelanya agar tidak ditutup Irta melanjutkan tidak terima atas ejekan Aisaka.

mereka berdua masih saling berdebat, sampai Angel. Teman Aisaka yang berambut sebahu berwarna pirang, Angel pun datang.
"sudah cukup kalian berdua! sedikit lagi bel mau dibunyikan dan guru bakalan masuk.. kalau kalian dipergoki sedang bertengkar dikelas..." Jarinya yang menyentuh pipi Aisaka, "kalian berdua pasti tau kan apa yang akan terjadi." Senyum Angel dan menarik Aisaka kembali ke tempat duduk.
"Angel kalau sudah kasih tau bayangan yang akan terjadi seram juga ya..." Aisaka yang masih membayangkan kalau kejadian itu benar terjadi, ia akan disuruh lari keliling lapangan di musim panas ini sampai istirahat tiba.
"Sini aku ikatkan dengan gaya kuncir kuda" Angel menunjukkan sisir dan ikat rambut lalu Aisaka pun mengangguk setuju.

Pukul 8 pagi bel pelajaran pertama  dibunyikan dan semua murid duduk di bangku masing-masing.
Terdengar pintu yang terbuka membuat suasana hening di kelas. Guru perempuan itu masuk dengan percaya diri dan aura mencengangkan.

"Baiklah pelajaran akan segera di mulai, dan sebelum itu mari kita absen" ucap guru perempuan itu.

"Aisaka"
"Hadir" jawabnya
"Angel"
"Hadir"
"Hiki"
"Hadir Bu!"

Guru itu pun berhenti sejenak memanggil para murid kelas 2-2 "baiklah saya rasa semua sudah hadir ya.." Senyum guru itu dengan di bibirnya.

"Bu semua belum dipanggil, tetapi kenapa anda tau semuanya sudah hadir?" Hiki, sang ketua kelas yang berambut hijau tua dan terkenal anak ajaib yang keren dan pintar mengangkat tangan.

"Sudah kok Hiki" ucap guru itu "Ruangan pertama dimulai!!" teriak guru itu dan tertawa kencang.

Seketika semua ruangan berubah memudar dengan perlahan dan meja bangku yang diduduki oleh para murid pun menghilang seketika, karena hal itu para murid pun jatuh terduduk.

"Aduh, sakit...!" Aisaka mengusap-usap bagian yang jatuh tiba-tiba dan masih kesakitan.
Para murid yang lain sama seperti Aisaka, mereka kelihatan kebingungan apa yang sudah terjadi. Ada yang menangis, ada juga yang memukul-mukul tembok dan mencari pertolongan.

Suara berisik dari speaker yang ingin dipakai, lalu terdengar "Selamat datang para murid kelas 2-2 di ruangan pertama" Terdengar suara guru itu dari Speaker yang berada di setiap tembok ruangan itu. Ruangan itu besarnya seperti ruang kelas mereka dan hanya perbedaannya adalah jendela-jendela yang menghilang menyebabkan ruang kelas hanya menerima cahaya dari lampu yang masih menyala lalu di depan mereka yaitu ada sebuah kaca tembus pandang dan menyebabkan bisa melihat para monster seperti gurita. Kaca tembus pandang itu tidak semua tertutup karena sebagian atas kaca itu terbuka.

"To..tolong aku, aku tak bisa bergerak!" Suara teriak dari salah satu murid. Tetapi, tiba - tiba suara rintihannya menghilang.
Semua murid kelas 2-2 pun langsung mencari asal suara tersebut dan ternyata ada murid laki - laki yang sedang terduduk lemas terkulai.

Sebuah RuanganDonde viven las historias. Descúbrelo ahora