Eviction

126K 5.2K 104
                                    

Bulan pertama....

"Mah, ini Tristan dateng sama Merlyn" kata Tristan disamping Merlyn.

Sampai detik ini Karin masih terbaring lemah, belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Bahkan, keadaannya semakin lemah.

Detak jantungnya suka kadang tidak berdetak secara normal. Kadang melemah, kadang berdetak begitu cepat. Tidak stabil.

***

Bulan kedua....

"Mah, cepet sembuh ya. Murid-murid di Cendrawasih tadi doa bersama buat kesembuhan mama" kata Tristan dengan air matanya.

Kali ini ia tidak bersama dengan Merlyn, karena Merlyn ada meeting dengan client pada jam makan siang.

Detik ini pun, Karin masih terbaring dengan mata tertutup. Detak jantungnya belakangan ini stabil, dan nafasnya pun teratur.

Namun masih belum ada tanda-tanda ia akan sadarkan diri juga.

***

Bulan Ketiga....

"Mah, cepet bangun dong" isak Vera. "Mama harus cerita ke kita semua kenapa mama kaya gini" isaknya lagi.

Sudah 3 bulan Karin terbaring di ranjang yang sama, detak jantungnya sekarang malah seperti bulan pertama. Tidak stabil.

Kemarin jarinya bergerak, tapi hanya sebentar setelah itu diam kembali. Dan dokter bilang, Karin baru melewati masa kritisnya, namun sepertinya Karin masih betah 'disana'.

Ia belum mempunyai tanda-tanda untuk tersadar dari tidur panjangnya.

***

Bulan keempat....

"Mah, cepet sembuh ya, Merlyn sedih ngeliat mama begini" kata gadis disebelahku. Merlyn. Ia memang memanggil mamaku dengan sebutan 'mama' juga, karena dia yatim-piatu sejak masih umur 5 tahun. Ia tumbuh dan besar di panti asuhan. Tapi, saat ia besar, ia bertemu dengan keluarganya yang selama ini tinggal di Amerika.

Sudah sejak 10 menit yang lalu ia sampai di kamar mamaku ini. Semenjak 4 bulan yang lalu, berita mama terbaring di rumah sakit masuk di TV bisnis, karena aku yang notabenenya adalah seorang CEO Ardinata Group ditonton oleh Merlyn, hampir setiap minggu Merlyn datang untuk menjenguk mama.

Ia tidak pernah datang sendiri, ia selalu menelponku terlebih dahulu. Jadi aku selalu janjian bertemu di depan rumah sakit, ini.

Sudah sejak 4 bulan yang lalu juga aku tidak bertemu dengan Luna, ia menghilang begitu saja. Nomor telponnya pun sudah tidak aktif lagi.

"Tan, kamu yang sabar ya, aku tau kamu pasti sedih karena mama kamu kaya gini karena Luna" katanya sambil menatapku sedih.

Aku menatap lurus ke Elektrokardiogram yang tersambung ke tubuh mama. Selalu. Setiap Merlyn datang, detak jantung mama selalu saja melemah. Tapi entah kenapa, kalau siapapun menyebutkan nama 'Luna' detak jantung mama berdetak secara normal lagi. Seakan-akan mama mendapat ketenangan saat nama keramat itu disebut.

Beberapa minggu yang lalu, aku juga bercerita tentang Luna kepada mama, aku ingin memancing apa reaksi yang akan tubuh mama berikan.

Dan kalian tau apa yang terjadi?

Air mata disudut mata mama yang tertutup mengalir. Mama menangis.

Waktu itu kupanggil dokter yang menangani mama, dan saat itu dokter bilang kalau aku sudah berhasil menyentuh sisi emosional mama. Dan itu artinya positif.

Bitter-Sweet Wedding ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang