Bakugou pov
Sejak kecil aku menyadari berbagai hal yang berbeda dariku dengan orang-orang disekitarku. Sering kali aku merasa itu semua hanyalah kebetulan, namun ternyata tidak.
Ketika kecil aku berkali-kali membuat orang lain melihatku sebagai anak nakal. Entah itu dari apa yang kukatakan sangat tidak sopan atau mengganggu, ataupun kebiasaanku yang langsung akan main tangan kepada orang yang menggangguku.
Aku bertanya dari manakah semua kebiasaan ini dimulai, dan pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika aku mulai mengingat apa yang terjadi ketika quirkku akhirnya bangkit.
Setelah berita soal kemampuan quirkku menyebar, orang-orang di dekatku mulai bertindak aneh. Pertama, aku mulai menjadi sorotan. Guru-guru yang sebelumnya memandangku sama seperti anak-anak lainnya mulai memandangiku seolah-olah aku ini terbuat dari emas berharga. Anak-anak lain mulai mengelilingiku, berebut untuk menjadi temanku. Pujian-pujian terus mereka lontarkan kepadaku, yang pada akhirnya membuatku berpikir kalau aku ini benar-benar spesial.
Mereka semua membuatku merasa spesial dan berkuasa.
Tahun demi tahun perlakuan yang kuterima itu masih sama. Suatu ketika aku mulai berpikir, kalau aku berbuat seenakku apa jadinya? Kurasa tidak apa-apa, lagipula semuanya menyukaiku. Itulah pertanyaan yang pada akhirnya kujawab sendiri. Tanpa kusadari aku mulai membuat langkah pertamaku menjadi seorang penindas. Aku mulai menanyakan dan merendahkan orang yang dianugrahi quirk yang tak setingkat diriku. Terkadang aku juga menjadikan mereka sebagai boneka latihan untuk quirkku. Selanjutnya, aku menunggu. Tak ada yang melarangku, tidak ada yang memarahiku, mereka membebaskanku seperti seorang raja.
Aku senang tapi juga sedih. Karena butuh waktu bagiku untuk sadar kalau mereka bukan melihatku sebagai orang yang hebat ataupun idola. Namun, mulai melihatku seolah aku ini adalah seorang monster yang harus ditakuti. Anak-anak yang selalu mengelilingiku mulai menampakkan wajah asli mereka. Karenanya mereka tidak mengucapkan apa-apa kepadaku, melainkan hanya pujian. Mereka takut kalau aku akan mencelakai mereka. Mereka takut kalau aku akan membuat mereka sebagai sasaranku. Mereka bahkan takut ketika aku mencoba menolong mereka.
Sampai pada akhirnya aku melihat sesuatu yang paling aku takutkan. Perubahan pandangan mereka kepadaku menjadi lebih menakutkan daripada sebelumnya.
Mereka saat ini malah mulai melihatku seperti seorang...penjahat.
Apa...aku...salah... ???
KAMU SEDANG MEMBACA
Just My Self
Fanfiction"Kenapa...kenapa orang kuatlah yang paling tersakiti? " "Karena itu yang membuatmu menjadi orang yang kuat." Terkadang apa yang mereka ketahui bukanlah sesuatu yang sebenarnya terjadi. Namun, hanya sebatas dari sebuah anggapan belaka. Di dalam hati...
