1. Pertemuan

506 16 0
                                        

ps author : coba dengerin lagu ini sambil baca heehehehe 




"Tolong.. aku mohon tolong aku" teriakan seorang gadis kecil terdengar diujung gang sempit yang gelap. Kegelapan menyelimutinya, kesendirian menemaninya. Ia terus berteriak dengan sekuat tenaga namun teriakannya tak terdengar, tidak ada orang yang datang menolongnya. Tubuhnya sakit, tangannya yang terluka parah, jari jarinya yang patah membuatnya menangis menahan sakitnya. 'siapa saja ku mohon tolong aku' batinnya ikut berteriak.

"Tolong,, kumohon tolong !!!" Killa terbangun dari mimpinya, keringat mengalir dengan deras ke pelipisnya, bulu matanya yang tebal di basahi oleh air matanya. 'sial kenapa mimpi itu lagi' batinnya. Ia melihat jam bekernya, jam 6 pagi. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya yang tidak begitu besar menuju ke toliet.

Setelah membersihkan tubuhnya ia segera memakai seragam SMPnya, hari ini adalah hari upacara penerimaan siswa di SMAN 1 Jakarta. Rambutnya yang panjang ia gerai dengan indah, wajahnya yang tanpa make up sudah cantik natural. Setelah siap ia segera berangkat ke sekolahnya.

Hanya membutuhkan waktu 15 menit berjalan kaki dari apartemennya menuju sekolah. Di perjalanan ia menyempatkan membeli roti untuk sarapannya. Sesampainya di gerbang SMAN 1 Jakarta ia segera mencari ruang auditorium karena semua siswa baru berkumpul di ruangan tersebut. Tiba tiba ada seseorang yang menabrak tubuhnya, roti yang baru ia beli terjatuh dan terinjak oleh orang tersebut, ia segera memandang orang yang menginjak rotinya tadi.

'sialan roti gue' batinnya memaki, dalam hati Killa mengucapkan seribu sumpah serapah pada cowo yang menabrak+menginjak roti stawberrynya.

"aduhh sorry sorry gue gak sengaja, gue ganti ya" ucap cowo itu menyesal. Killa hanya memandang kesal cowo di hadapannya lalu pergi menjauh.

'pagi pagi udah sial aja' batin Killa. Lalu ia bertanya pada siswa yang ia yakini siswa itu adalah senior karena ia menggunakan almamater berlogo SMAN 1 Jakarta. "maaf, ruang auditorium ada di mana ya ?" Tanya Killa.

"eh ada di sebelah tangga itu, lo anak baru ya boleh gue minta Id Line lo ?" tanya siswa beralmamater itu.

"Terima Kasih" ucap Killa lalu meninggalkan senior itu.

Setelah menemukan auditorium Killa mencari tempat duduk, ia memilih tempat duduk di dekat jendela. Wajahnya yang kecil bertumpu pada tangannya, ia berdoa dalam hatinya 'semoga hari ini tidak ada kesialan dalam hidupku'

"selamat siang, apa kabar semua ?" salam dari siswa yang menjabat sebagai ketua OSIS.

"saya Ari selaku ketua OSIS, salam kenal adik adik kelas sekalian, dengan puji rahmat tuhan yang maha esa kita telah di pertemukan di Auditorium SMAN 1 Jakarta dalam keadaan yang sehat...." lanjut ketos itu dengan berpidato.

Setelah Ketos SMAN 1 Jakarta selesai berpidato ia mempersilahkan Kepsek SMAN 1 Jakarta untuk berpidato lalu di lanjutkan dengan pidato guru BK.

Setelah itu saatnya upacara penerimaan murid baru dengan penyematan topi kerucut dari karton dan kalung papan nama yang lumayan besar yang artinya kegiatan Mos atau Masa Orientasi Sekolah dimulai.

Setelah itu semua siswa bertepuk tangan dengan meriah, dilanjutkan dengan pengenalan senior OSIS lalu pembagian kelas dan penutupan acara. Killa pulang dengan malas, ia berjalan sambil menggunakan earphone, lagu A Thousand Years mengalun indah di telinganya, tak sengaja ia melewati ruang musik, disana terdapat beberapa alat musik ada gitar, drum, bass, angklung dan piano.

Killa berjalan mendekati piano besar itu, tangannya gemetaran, jantungnya berdebar tak karuan ia ingin menyentuh piano itu namun hal itu kembali mengingatkannya. Tangannya yang gemataran dan berkeringat akhirnya memegang tuts hitam putih itu. Ia ingin memainkannya namun ingatan tentang kejadian itu seakan menghalangi Killa untuk memainkan piano tersebut.

"Kenapa lo diam aja, kenapa gak lo mainin ?" ucap seorang cowok dengan rambut coklatnya.

"gu.. gue gak bisa" jawab Killa lalu ia hendak pergi dari ruang musik itu, namun tiba tiba tangannya di cekal oleh cowo itu.

"lo cewe yang tadi gue tabrak kan ? sorry ya roti lo gue injek" sesal cowo itu. Killa hanya diam, ia ingin melepaskan cekalan cowo itu tapi apa daya tubuhnya yang kecil tidak sanggup melawan tenaga cowok berambut coklat gelap di hadapannya.

"nama gue Rasya, nama lo siapa ?" tanya Rasya

"lo gak perlu tau, lepasin gue" ucap killa dengan tatapan tajamnya, Rasya hanya tersenyum lalu ia menarik Killa untuk duduk di hadapan piano besar itu.

"jangan kemana mana, lo mau dengerin suara piano kan ?" tanya Rasya

"gue mau pulang" ketus Killa

"pleasee 5 menit" mohon Rasya

"enggak"

"oke 3 menit, please?" ucap Rasya sambil mengacungkan 2 jarinya.

Killa sebenarnya juga ingin mendengarkan musik dari piano itu, sebenarnya ia ingin memaikannya juga namun ia masih takut.

'♬ֆ♫♪♫♬♪ֆ∲ֆ♬♫♪'

Tuts Piano berbunyi mengikuti gerakan jari Rasya, ia memainkannya dengan lembut, Killa mendengarnya dengan saksama, indah satu kata di pikirannya.

Ia mendengarkannya lebih lama, suara tuts piano itu seakan membawanya terbang ke langit yang luas, lalu waktu berikutnya ia melihat Rasya sedang bermain piano di bawah langit gelap yang di penuhi bintang, gemilaunya membuatnya indah.

Namun sedetik lagi membuatnya seperti di padang bunga yang sangat luas, kenapa bisa seperti ini, ia seperti di bawa kesana kemari oleh Rasya dengan permainan pianonya, 'Hebat, permainannya membuatku untuk ingin terus mendengarnya, makna-nyapun tersampaikan' batin Killa terkagum

"Chopin - Nocturne Op.9 No.2" ucap Killa tanpa sadar.

"heh lo tau ?" Jawab Rasya bersemangat, Killa hanya diam menanggapinya.

"udah kan ? gue mau pulang" jawab Killa sekenanya lalu ia segera pergi meninggalkan Rasya.

"Gue pengen jadi temen lo" teriak Rasya yang masih terdengar oleh Killa yang sudah keluar dari Ruang musik itu.

KillaWhere stories live. Discover now