Sudah kebiasaan seorang Dara terlambat masuk sekolah. Entah sudah keberapa kalinya ia di jemur di lapangan sekolah. Tidak capek apa setiap hari terlambat terus.
Tidak jauh dari lapangan tempat Dara berdiri. Terlihat Pak Suryo guru paling tegas dan disiplin sedang mengamati Dara dari depan Pos Satpam. Was-was kalau cewek itu kabur Pak Suryo akan cepat menangkapnya.
"Dara! Lo terlambat lagi?" Pertanyaan itu membuat perhatian Dara yang tadinya sedang berdiri tegap menghadap tiang bendera berbalik dengan sigap.
"Tanpa gua jawab lo pasti udah tau."
Riri yang sudah tau maksud dari perkataan Dara memalingkan wajahnya kesamping kanan. Kenapa juga ia meminta penjelasan dari Dara yang pasti jawabannya selalu gue telat bangun, Selalu dan selalu. Memang berteman dengan Dara harus siap mental juga.
"Lo nggak capek apa di hukum terus setiap hari?" Lagi-lagi Riri bertanya dengan pertanyaan yang sudah pasti ia sendiri tau jawabannya.
"Pagi-pagi gini jangan mancing emosi gua." Peringat Dara mencoba untuk bersabar. Meskipun tingkat kesabarannya tinggal sepuluh persen.
"Ya kan gua cum--"
"RIRI,DARA!!" Perkataan Riri terpotong karena suara teriakan Siska. Sampe-sampe Pak Suryo yang sedang berada di Pos Satpam terlonjak kaget kerena suara teriakan tersebut.
"Siska kamu bisa ndak tidak teriak-teriak, ini sekolah bukan pasar!" Ucap Pak Suryo dengan logat khasnya.
"Maaf Pak, orang saya toh ndak teriak di sebelah telinga bapak." Dengan polosnya Siska melontarkan perkataan tersebut dengan nada bicara persis seperti Pak Suryo.
"Tapi suara kamu tuh melengking sekali Siska! Sampe-sampe kepala saya hampir pusing gara-gara kamu."
Bagaimana tidak, Siska memiliki suara paling cempreng dan melengking di sekolah. Sehingga kalau ia sedang berteriak rasanya tuh satu sekolahan akan runtuh kerena teriakannya. Tapi, biarpun begitu Siska paling jago dalam bidang menyanyi.
"Pak udah jangan marah-marah nanti cepet tua." Tambah Dara memanas-manaskan suasana.
Riri mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan perkataan Dara barusan. Padahal ia juga sering marah-marah tidak jelas kenapa malah membalikkan fakta. Bisa di bilang juga Dara dan Pak Suryo sebelas dua belas. Sama-sama emosian.
"Auh nih Pak udah tua juga masih marah-marah, nggak takut tuh nanti keriput di muka bapak makin banyak." Ujar Siska sambil berlari kearah kedua sahabatnya.
"Eh terlambat lagi nih lo?" Tanya Siska yang sudah berada di lapangan tempat Dara berdiri.
"Iya."
"Kapan sih lo nggak terlambat lagi."
"Kapan-kapan." Jawab Dara cuek.
"Yee dasar judes." Ujar Siska dengan menoyor kepala Dara.
"Btw lo berdua udah bikin tugas kimia?" Seketika Siska menjerit heboh kerena lupa membuat tugas.
"Gue udah," dengan santainya Dara menjawab.
"Ehem ehem ehem." Dara yang sudah tau maksud dari kedua sahabatnya tersebut hanya mengangguk pasrah.
"Pak Suryo itu ada siswa yang mau loncat lewat tembok." Seketika Pak Suryo yang masih setia berdiri di muka Pos Satpam mengalihkan perhatiannya ke tempat yang di ucap Siska.
"Haha mampus kena tipu,"
"Ayok ke kelas numpung tuh guru nggak liat kita," Ajak Riri sambil menarik kedua tangan mereka.
••••
YEY AKHIRNYA BISA POST PART 1 NYA HEHE.
GIMANA NIH PART 1 NYA?
NEXT PART? KOMEN DISINI.
BTW SORRY BANGET KALO ADA TYPO ATAU KATA-KATA YANG KURANG TEPAT DI PART INI SOALNYA GUE PEMULA JADI MAKLUMI YAA ;)
DAN JANGAN LUPA JUGA BUDAYAKAN BUAT VOTE AND KOMEN, SETIDAKNYA MENGHARGAI DIKIT JERI PAYAH PENULISNYA :)
By.sarahondangg
YOU ARE READING
DARA
Teen Fiction"Sumpah, lo nyebelin banget!" Dara tidak tahan lagi melihat cowok di hadapannya ini. Ada sedikit seringaian muncul di sudut bibir Alfi. Ternyata ia tidak perlu susah payah memancing kemarahan wanita di hadapannya. "Udah jangan Marah-marah ntar cepet...
