Part 1 : Hurt

751 14 0
                                        

"Vanesha, will you be mine?"

Kalimat itu sempat membuat Vanesha terkejut. Dia tidak habis fikir apa yang dilakukan oleh Iqbaal diantara kerumunan siswa di SMA Global Internasional School atau biasa di sebut SMA GIS.

Lapangan basket sudah dipenuhi oleh manusia di SMA ini. Untung saja tidak ada guru yang melihat karena guru sedang rapat besar hari ini. Vanesha nampak bingung apa yg harus ia jelaskan kepada Iqbaal.

"Sha, gue udah nyimpen perasaan ini udah lama, gue suka sama lo semenjak mos kita dulu pas pertama masuk SMA dan kita satu grup. Gue seneng ada di deket lo, gue suka liat senyum lo, gue tertarik sama lo. Yang ada pada diri lo semuanya gue suka."

Iqbaal menarik nafas dalam dalam dan di keluarkan dengan perlahan. "Sha, lo mau kan jadi pacar gue?"

Vanesha masih menatap Iqbaal dengan tatapan bingung. Ia bingung harus bagaimana menjelaskannya.

"Mungkin cara gue buat nembak lo gak seromantis seperti yang di film-film. Gak se indah yang lo bayangin. Dan mungkin bunga dan boneka ini tidak seberharga yang lo inginkan. Gue cuma bisa ngasih yang sederhana kaya gini"

Iqbaal kembali berucap dengan senyumnya yang terus mengembang.

"Baal" Vanesha kini mulai membuka mulut.

"Iya Sha?"

Vanesha mendekatkan dirinya dan diri Iqbaal dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Iqbaal. Vanesha mulai memajukan bibirnya ke telinga Iqbaal dan berbisik lirih agar tidak terdengar oleh yang lain.

"Maaf."

Hanya itu yang bisa Iqbaal dengar. Vanesha mulai menjauhkan tubuhnya. Iqbaal mengembangkan bibirnya memberikan senyum tulus walaupun dihatinya sakit karena tau maksud jawaban dari Vanesha.

Siswa yang melihat di hantui dengan perasaan penasaran yang tinggi. Secara, seorang Iqbaal most wanted di Sekolah tengah menyatakan cinta kepada seorang cewek yang menurut mereka biasa saja. Walaupun mereka akui jika Vanesha adalah seseorang yang cantik, seorang model, kaya, dan juga cukup pintar. Tapi semua cewek tidak ingin sang pangeran jadi milik orang lain.

"Tapi walaupun lo gak nerima perasaan gue lo mau kan nerima ini dari gue? Anggep aja ini sebagai kenang-kenangan dari gue."
Iqbaal tersenyum. Vanesha pun menerima pemberian Iqbaal.

"Makasih ya Baal"

Vanesha tersenyum dan memeluk Iqbaal erat. Entah kenapa ia sangat merasa bersalah dan ada rasa kecewa didirinya. Iqbaal yang di peluk Vanesha tersentak. Ia sekarang seperti patung yang tidak bisa bergerak. Iqbaal pun tersadar dan segera membalas pelukan Vanesha.

Semua yang melihat bertepuk tangan dan memberikan siulan menggoda untuk mereka. Ada siswa yang merasa kecewa dan ada juga yang mendukung mereka.

Vanesha melepaskan pelukannya sambil berkata pelan kepada Iqbaal.
"Gue akan ngejelasin jawaban gue tapi bukan disini. Gue tunggu lo jam 7 di cafe yang dulu pernah kita kunjungi bareng"

Iqbaal mengangguk tanda setuju.
Iqbaal sempat tidak mengerti dengan perkataan Vanesha barusan, tapi ia lega sudah bisa menyatakan cintanya walaupun ia di tolak.

Disisi lain ada cewek yang sedang meneteskan air mata yang terus saja mengalir dipipi mulusnya. Cewek itu adalah Zidny. Sahabat Iqbaal dari kecil yang selalu menemani Iqbaal begitupun sebaliknya. Zidny tidak bisa menghentikan aktivitas nya tersebut. Untung saja toilet putri sedang sepi dikarenakan hampir semuanya sedang berada di lapangan menyaksikan kejadian yang membuat Zidny tidak tahan melihatnya.

"Haruskah gue merasakan sakit ini terus menerus Baal? Gue gak bisa nyatain perasaan gue ke lo kalau gue cinta sama lo seperti lo nyatain perasaan lo ke Vanesha. Gue gak bisa. Gue akui gue gengsi sebagai cewek harus nyatain perasaan duluan ke cowok yang gue sayang dan gue juga lebih milih persahabatan kita ini tetap utuh. Gue takut bakalan kehilangan lo kalau gue nyatain perasaan gue. Gue gak mau ngerusak persahabatan kita Baal"

Batin Zidny yang kini kembali terisak. Zidny melihat dirinya didepan kaca. Matanya merah dan sembab. Wajahnya sudah kusut tak karuan.

"Dasar cewek lemah!" maki Zidny kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba aktivitas Zidny terhenti mendengar nada dering dari HPnya. Zidny melihat nama yang tertera di layar, ada nama sahabat perempuan nya disana. Salsha. Zidny menarik nafas dalam dalam mencoba mengontrol kondisinya agar terlihat baik-baik saja. Setelah Zidny merasa tenang, Zidny mengangkat telepon dari Salsha. Belum sempat Zidny membuka mulut, suara di seberang sana sudah menyambarnya terlebih dahulu.

"Zeeeee! Woyy Zee lo dimana sih?! Ke toilet lama bener! Lo ngapain? Setor? Cepetan gih kantin gue udah lumutan nungguin lo disini!" cerocos Salsha tak henti.

Zidny hanya bisa menghela nafas panjang.

"Iyaaa Saall bentar lagi gue kesanaa. Dasar emak²"

Zidny mematikan sambungannya walaupun Salsha masih saja mengomel tak jelas. Zidny mencuci mukanya agar terlihat segar kembali. Tapi masih ada tanda yang bisa menyangka bahwa Zidny baru saja menangis yaitu kantung mata Zidny yang membengkak akibat terlalu lama menangis.

"Ah sial" umpat Zidny tak tertahankan.

Zidny keluar dari toilet dengan muka tertunduk agar ia tidak bisa ditatap dengan orang lain walaupun sekitar toilet masih sepi.

Bruuk!
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers! Jangan lupa like, vote and comment yaahh😊
Cerita sedikit boleh yaa 😅 ini adalah cerita pertama gue yg gue buat. Maaf kalau pendek😁. Jujur nih gue masih belajar buat ginian. Maklumin lah ya kalau ada typo sama kata-kata yang kurang pas namanya juga lagi belajar✌️semoga aja gue bisa lebih baik lagi ngelanjutin ni cerita.
Selamat membaca dan semoga suka yaahh 🤗

Love love 💕

Credence Where stories live. Discover now