"Untuk kaum wanita, cogan itu pencerahan..."
🍂🍂🍂
Kelas berubah agak riuh ketika terdengar suara bel istirahat berbunyi. Tiap sepasang tangan masing-masing sibuk merapikan buku miliknya, ada yang dimasukkannya ke dalam tas, ada pula yang hanya sekadar merapikannya, dan membiarkannya di atas meja. Suasana riuh hanya sebentar, karena setelahnya kelas menjadi sepi karena semuanya pergi keluar kelas dan menyerbu kantin.
"Cepet deh kita ke perpus dulu ngambil buku lo, takut keburu masuk, nanti gue nggak bisa jajan, lagi." Perempuan yang baru saja berdiri dari kursinya itu mengajak kedua temannya.
Anya yang masih sibuk dengan ponselnya pun hanya bergumam, pandangannya tetap fokus pada layar ponselnya. Sedangkan Variel menatap Mela yang berdiri, lalu ia mengangguk dan ikut bangkit berdiri.
Mela menggandeng tangan Variel lalu menatap Anya yang masih sibuk dengan ponselnya. Mela berdecak kesal, "Ya udah tinggal aja si Anya. Nanti kalo ada cogan nya dia, kita aja yang kedipin."
"Eh, enak aja lo! Baby boy itu cogan nya gue!" Anya langsung nge-gas.
"Baby boy, siapa?" Variel mengernyit bingung, ia sama sekali tak mengerti dengan obrolan kedua teman barunya ini.
Memang, Mughvy Avariella atau biasa dipanggil Variel merupakan anak pindahan dua hari yang lalu. Baru Mela serta Anya lah yang dekat dengannya seperti ini. Ini pun karena Anya dan Mela yang memang friendly. Sebenarnya Variel mudah bergaul, hanya saja terkadang Variel tak ingin dianggap terlalu SKSD.
Variel orang biasa, tidak pemalu, tapi kadang juga selalu merasa tak percaya diri. Variel bukan anak kekinian, ia cenderung kalem, tapi untuk orang baru. Jika sudah kenal lama, pasti tau bagaimana konyolnya sifat Variel.
"Pacar gue!" sahut Anya.
"Idih, ngarep lo!" sela Mela sambil terkekeh.
"Aminin kek, elah!" Anya bersungut.
"Jadi, baby boy itu siapa?" Variel bertanya lagi.
"Kakel Riel, salah satu cogan di SMA kita." jawab Anya.
Mela manggut-manggut, "Iya, tapi kalo si baby boy nggak terlalu menonjol orangnya. Ada lagi yang lebih cakep, menonjol juga di sekolah. Namanya Calvin. Beuh, pokonya lo juga pasti suka deh sama dia."
Variel mengangkat sebelah alisnya lalu manggut-manggut sambil mengulum senyum, "Jadi, kalian ini pemburu cogan nih ceritanya?" Variel terkekeh pelan.
"Bisa dibilang begitu," sahut Anya dan langsung disusul jentrikan jari dari Mela.
Variel tertawa, "Emang di sekolah ini banyak cogan nya ya?" tanyanya.
"Emm, jangan salah. Anak kelas dua belas banyak cogan nya. Tapi kalo untuk anak kelas sebelas angkatan kita ini nggak ada cakep deh kayaknya," jawab Mela.
"Eh ada, si Lionel. Anak 11 IPA 4, dia lumayan cakep." sela Anya.
"Eh iya bener, Lionel juga cakep." kata Mela.
Variel manggut-manggut pelan, "Jadi, kita ngambil buku ke perpusnya kapan?" ia mengangkat kedua alisnya seraya menatap mereka berdua.
Mela dan Anya nyengir. Setelahnya mereka langsung menarik Variel pergi keluar kelas untuk menuju ke perpustakaan.
Sekolah baru, suasana baru. Koridor serta lingkungannya pun baru. Variel merasa ia menjadi sorotan mata ketika melewati setiap kelas yang terdapat siswanya tengah mejeng di depan kelas. Variel hanya tersenyum tipis menatap mereka.
ESTÁS LEYENDO
ALVA
Novela JuvenilMughvy Avariella sama sekali tidak tau siapa orang tua kandungnya. Sejak kecil ia tinggal bersama teman-temannya di panti asuhan. Yang Variel punya satu-satunya hanyalah selembar foto yang di belakangnya tertulis nama Variel. Namun kehidupan bersama...
