1.Yusuf

928 47 1
                                        

Pagi yang cukup mendung, semalam Padang, Sumatra Barat diguyur hujan deras hingga pagi ini. Meskipun awan sudah memberi kesempatan dengan bergeser ke utara. Matahari pun masih enggan menunjukan sinarnya. Uap yang meluncur saat dihembuskan menjadi bukti bahwa pagi ini Padang sangat dingin. Bahkan jaket yang dikenakan belum cukup megahalau udara pagi yang berusaha menembus pori-pori kulit.

Yusuf menutup matanya secara perlahan. Untuk kesekian kalinya, ia berjuang keras untuk menahan dirinya agar matanya tidak menetaskan apa pun. Angin menerpa wajahnya, suara siswa siswi berlalu lalang. Menjadi pengiring yang sempurna untuk sebuah kehancuran dari dalam hatinya. Lagi-lagi ia menutup matanya untuk meminimalisir sesak. Kegelapan dalam penjamannya justru membawa sebuah bayangan kenangan yang berputar rapih bagai potongan sebuah film.

Yusuf melihat semuanya dengan jelas, lengkap dengan semua gema suaranya.

Tidak.

Tidak untuk saat ini.

Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis. Dia harus kuat atas semua ini. Dia harus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia adalah pria dewasa yang tidak cengeng. Ia tidak peduli sapuan angin di dekat lapangan sekolah semakin dingin. Seragam sekolahnya tidak cukup tebal untuk melindungi tubuh kurusnya.

"Yusuf !. apa yang kau lakukan disini?."

Yusuf seketika membuka matanya, tanpa menoleh. Si pemilik suara itu kini berdiri disamping Yusuf .

"Kenapa kau kesini, Kintan."

Tanpa menoleh ke samping, Yusuf sudah bisa tahu bahwa itu Kintan, gadis kurus, dengan tubuh pendek mungil yang selalu identik dengan kuncir satu berbentuk ekor kuda dan poni tipisnya.

"Sudah tugasku sebagai wakil ketua kelas bertanggung jawab atas kehadiran semua murid dalam kelas. Aku kesini untuk menjemputmu." Kintan menoleh pada Yusuf yang masih menatap lurus ke arah lapangan. Entah apa yang sedang Yusuf pikirkan saat ini.

"Ayo kembali ke kelas, kita ada ujian kimia di jam terakhir." Ajak Kintan. Setelah melihat jam tangannya.

Yusuf menarik sebuah senyum hambar. "Kembali ke kelas tidak akan membuatku merasa jauh lebih baik." Jawab Yusuf sambil menatap awan yang luas.

Kintan menarik napas, perlahan ia juga duduk dibangku kelas, mengikuti posisi duduk Yusuf. "Kau bisa melewatinya, kau hanya perlu percaya bawa orang-orang yang pergi, tidak benar-benar pergi. Hanya saja mendahului kita. Menuju ke suatu tempat, kita juga nanti akan disana." Senyum Kintan terukir, dengan bersamaan hembusan angin kencang dari luar kelas yang menyejukan hati.

"Kau mudah saja mengatakannya. Karena kau tidak merasakan posisi ditinggalkan." Yusuf masih enggan menoleh, ada sesuatu yang menahannya agar tetap fokus kedepan saja.

Kintan menundukkan kepalanya dengan menatap ujung sepatunya.

"Aku minta maaf." Ucap Kintan dengan nada melemah.

"Pergilah, aku sedang mencoba merelakan." Yusuf memjamkan mata kembali, merasa sebuah tikaman dahsyat menyerang jantungnya.

Pelan-pelan, Kintan berdiri, lalu dengan kaki yang berat, ia melangkah meninggalkan Yusuf. Mungkin memang Yusuf masih butuh waktu untuk sendiri.

Beberapa langkah kaki yang ia tempuh, pada saat kesekian langkahnya, ia berhenti, lalu memejamkan mata. Ia tahu bahwa dibelakangnya Yusuf sedang menjerit, marah, atau mungkin menangis. Lagi-lagi Yusuf masih belum menerima kenyataan. Pria itu berbohong, dia belum bisa merelakan. Kintan ingin sekali kembali kesana, tapi ia tahu bahwa itu tak mengubah apapun, maka gadis itu memlilih untuk melanjutkan langkahnya dan membiarkan Yusuf hancur bersama perasaannya.

ooo

LONG DISTANCE RELATIONSHIPWhere stories live. Discover now