Prolog

192 11 0
                                        

22 Oktober 2015

Hari ini,
Jingga melukis indah di langit senja,
Pelangi menampakkan diri setelah hujan turun,
Dan anak burung pipit kecil untuk pertama kalinya,  akhirnya dapat terbang.
Namun,  dihari yang sama pula...
Aku merasa terbangun dari rasa bodohku. 

"Fa?"

Suara yang tak asing itu mengalihkan perhatiannya.  Dengan cepat,  Fara menutup sampul diarynya.

"Hey,  Sa!"

Fara tersenyum simpul, menyambut hangat Salsa yang kini duduk di samping bangkunya.  Hari ini kelas sangat sepi,  mereka datang lebih awal dari biasanya.

Salsa ikut tersenyum,  sesaat sepasang obsidian hitamnya teralihkan pada sebuah buku berukuran sedang dengan sampul merah polos di hadapannya.

"Oiya, Sa?  Liat pr bahasa Inggris kamu dong, aku belum ngerjain sama sekali".

Tanpa butuh waktu lama Salsa untuk berfikir, ia langsung mengeluarkan buku dengan sampul bendera Amerika dari tas selempangnya.  Mata Fara berbinar saat Salsa memberikannya buku itu.

"Thanks ya, Sa".

Salsa mengangguk.

Beberapa menit setelahnya keadaan kembali sunyi. Fara yang sibuk menyalin tugas,  dan Salsa yang sedang menjelajah beranda instagramnya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.  Hingga sebuah berita yang muncul di laman instagram teratas Salsa cukup mengagetkannya.  Salsa sedikit tersentak, dan itu membuat Fara menyadarinya.  Ia berhenti menulis dan menatap tajam sepasang mata Salsa yang tampak gugup sekarang.

"Lo kenapa?", tanyanya.

"Nggak,  nggak ada apa-apa".

Fara menyipitkan mata,  pandangannya tertuju pada handphone yang Salsa sembunyikan di balik tubuhnya.

"Siniin handphone lo,  gue mau liat sesuatu".

Fara mengukurkan tangannya ke hadapan Salsa, namun dengan cepat ia menggeleng.

"Ngapain? Lo juga punya handphone kan".

Alis Fara berkerut,  jelas ada sesuatu yang aneh dari sahabatnya itu.

"Siniin,  bentar doang".

Fara berdiri,  ia berusaha mengambil paksa handphone Salsa yang ia sembunyikan.

"Hey,  lo udah dengar beritanya?"

"Apa?"

"Katanya kak Sandra siswi yang paling populer sekolahan itu pacaran sama Ryan si anak baru"

Fara melihat ke arah Salsa yang kini menunduk,  tak ingin menatap mata Fara.  Fara mengangguk,  ia kembali duduk di bangkunya.

"Jadi ini yang kamu sembunyiin?"

Mengerti? Benarkah? Apa Salsa bisa mengerti sakit hati yang Fara rasakan sekarang?

Orang itu.. Ryan. Benar-benar membuat Fara muak.

Long timeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang