"Heh, beruk sulawesi. Nasi dipandangin doang, makan bego!" Bara mengusap wajah adiknya yang sedari tadi melamun, alhasil Caca kaget atas perlakuan kakak laki-lakinya itu.
"Kecolok mata Caca nih, gatau apa Caca lagi mikirin Someone."
"Alah Monyet Kalimantan sok mikirin cowo."
"Ih apaan si lo, beruk Sulawesi lah, monyet Kalimantan semua aja dibawa-bawa."
"Lagian itu makanan disediain buat dimakan, bukan buat persembahan lamunan lo."
Caca kesal dengan sikap Bara yang merusak khayalan tingginya. Matanya kini menatap kakak laki-laki semata wayangnya itu, tatapan dendam terpanah tertuju untuk Bara.
"Ca.."
"Paan?" Sebenarnya Caca malas untuk menjawab panggilan Bara, tetapi mulutnya reflek menjawab dan sekarang ia menyesal telah menjawab.
"Gausah pacaran."
"Hah?" Caca belum bisa mencerna ucapan Bara, karena dia tidak seratus persen fokus pada suara kakanya itu.
"Gausah pacaran, maksud gue lo jomblo aja sampe lulus SMA." Jelas Bara sambil menatap Caca.
"Siapa lo ngatur-ngatur gue, bilang aja lo takut keduluan gue kan. Pokoknya gak mau, suka-suka Caca lah mau pacaran apa enggak."
"Bukan gitu, maksud gue tuh..." Bara memotong ucapannya, wajahnya terlihat bingung.
"Apa? Hah? Yang jelas dong kalo ngomong."
Bara bingung mau menjelaskannya, kalau soal takut didahului adiknya dia tidak perduli, jelas saja Bara adalah salah satu cowo populer disekolahnya. Ia melarang adiknya itu karena ia takut Caca salah memilih dan jatuh kelubang yang sama seperti setahun yang lalu. Dia paling tidak tega melihat adik perempuannya itu patah hati, Bara tau sampai sekarang Caca masih belum bisa melupakan mantannya yang terakhir.
"Yang jelas lo gausah pacaran, masih kecil bau kencur. Yok berangkat aja takut telat."
"Nanti dulu ih, makanan gue belom abis."
Caca menatap kakanya aneh, dia bingung melihat tingkah kakanya yang seperti orang linglung. Tanpa pikir panjang karena takut ditinggal Bara kesekolah, ia langsung bergegas memasukkan semua nasi dan mengunyahnya dengan tidak beraturan. Terdengar suara motor Bara telah pergi meninggalkan pekarangan rumah.
"Woi, tungguin gue." Teriak Caca dengan mulut yang penuh dengan nasi. "Sialan ah, ninggalin gue."
Karena sudah ditinggal Bara, Caca terpaksa lari mencari kendaraan umum. Ia memendam benci kepada kakaknya itu. Ia berniat akan menjambak rambut Bara dan menonjok perutnya.
Sialan, gara-gara dia gue jadi susah gini kan. mana duit jajan gue bakalan berkurang.
Setelah berhasil menemukan angkutan umum yang mengarah kesekolahnya, ia memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar. Caca adalah tipe orang yang tidak suka naik kendaraan umum, karena menurut dia kendaraan umum itu mengekang dan tidak bebas.
"Lo tau Bara? Anak kelas XI IPA -1 yang ganteng banget. Katanya dia juga pinter Mel, gue denger-denger dia banyak ikut olimpiade wakilin sekolah."
Mendengar nama Bara, Caca reflek menengok mencari sumber suara tersebut. Ternyata suara itu adalah suara anak perempuan yang sedang menurumpi di sebelah tempat duduknya.
"Iya gue tau, temen-temennya kak Bara juga ganteng-ganteng. Itu kak Raufal lo tau gak? Dia ganteng parah mana katanya masih pada jomblo." Ucap anak berambut ikal persis bersebalahan dengan Caca.
YOU ARE READING
Vernielde
Teen Fiction"Heh, beruk sulawesi. Nasi dipandangin doang, makan bego!" Bara meraup wajah adiknya yang sedari tadi melamun, alhasil Caca kaget atas perlakuan kakak laki-lakinya itu. "Kecolok mata Caca ih, gatau apa Caca lagi mikirin Someone." "Alah Monyet Kali...
