prolog

2.7K 238 211
                                        

Aku dan dirimu
Seperti sebuah buku dan sebuah pena
Sederhana, namun maknanya berarti
Tinta yang mengukir setiap perjalanan
Menghiasi kekosongan tiap lembar
Mengubah putih menjadi berwarna

Namun,
Pena tak hanya menghiasi satu buku
Tak hanya memberi warna satu buku
Melainkan untuk buku lainnya.

Gelak tawaku dan dirimu menggema
Memori indah yang bertambah otomatis
Tanpa sadar,
Aku menaruh bintang pada langit matamu...
Dan,
Ada lembar lain yang kau hiasi
Mataku ingin berteriak
Hatiku ingin melompat
Tapi aku hanya diam

Mungkin,
Tidak ada kata 'kita'
Melainkan terpisah menjadi 'aku' dan 'dirimu'
Dan,
Akan terbentuk kata 'kalian'
Tidak pernah di-spasi menjadi kata 'kau' dan 'dia'

✒✒

Secarik kertas berisikan 103 kata itu mewakili perasaan sekaligus keadaan Hana saat ini. Duduk berhadapan dengan meja belajar, lampu kecil di sampingnya menemani dirinya bersama dengan gelapnya ruangan yang hana tempati saat ini. Sebelah earphone dikaitkan di telinga sebelah kirinya dengan lagu I hate you, I love you~ gnash mengalun indah menemani seorang gadis berusia 16 tahun tersebut.

Hana Gracia , gadis dengan rambut sepundak berwarna hitam kecoklatan, mata coklat indah itu menatap lurus ke depan tanpa tujuan, mata yang membuat siapapun melihatnya akan terpaku pada mata itu. Raut wajahnya yang datar seakan menunjukan hidupnya baik-baik saja. Tapi sedikit bahkan sangat sedikit orang mungkin hanya Tuhan yang tau jika gadis yang sekarang sedang duduk di bangku menengah kedua ini sedang berperang dengan pikirannya sendiri.

Merasa kehadiran seseorang, dengan cepat Hana mematikan lampu kecilnya, mencabut earphone dari telinganya, sedikit berlari menuju ranjangnya dan berpura tertidur dengan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.


Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 40 tahun masuk dan melihat anak semata wayang yang dulu hanya bisa menangis, namun sekarang telah tumbuh besar menjadi gadis yang luar biasa. Perlahan wanita tersebut mendekati putrinya yang tengah tertidur, mengusap puncak kepalanya perlahan dan memberi kecupan di dahinya sebagai tanda cinta sang Ibu kepada anaknya.

Merasa pintu kamarnya tertutup dan Ibunya telah keluar, Hana membuka matanya dan menghela napas perlahan kemudian menyalakan benda pipih berlogo apel yang digigit itu untuk melihat waktu saat ini.

Huhhh. Untung gak ketahuan. Ya ampun, udah jam setengah 12. Batin Hana.

Untung saja Hana berhasil berpura-pura tidur. Jika ia ketahuan Ibunya belum tidur sekarang, maka otomatis ia akan mendapat pencerahan rohani yang luar biasa mencengangkan.

Pikiran Hana yang masih memutar serangkaian video tadi siang yang langsung tersimpan otaknya membuat ia bingung. Apa yang harus gue lakuin? Batinnya lagi. Tidak mau terus menerus bergelut dengan pikirannya karena besok ia harus pergi ke sebuah tempat bernama sekolah, ia mulai memejamkan matanya dan tak lama setelah itu, mimpi pun mendatanginya.


.....
Vote?
Comment?

3H [HS#1] [Completed]Where stories live. Discover now