-1- Aku Sekeluarga

146 11 3
                                        

Playlist : Introduce Me A Good Person - Joy 🎶

🍦🍦🍦

Namaku Kalila. Bukan orang penting. Hanya rakyat biasa yang senantiasa ikut menggosip tentang cowok tampan apabila ada yang sedang membicarakan.

Aku lahir, besar, dan menetap di Jogja.

Aku suka hujan, bunga, senja, cokelat, es krim, boneka, dan puisi, selayaknya wanita biasa yang mudah tersentuh kemudian menangis hanya karena menonton sinetron Indosiar.

Jangan salah. Wanita memang seperti itu. Mereka cenderung memiliki hati dua kali lebih lembut dari makhluk mana pun. Meski begitu, aku tidak suka dianggap lemah. Karena faktanya memang bukan begitu. Aku tidak lemah seperti yang kalian pikirkan.

Aku adalah 'Super Kalila' yang selalu punya kekuatan menghadapi kehidupan di dunia yang jahat ini.

Ibuku, Mama Lia. Bukan lumba-lumba. Kau harus memberinya sedikit spasi antara kata Mama dan Lia agar tidak salah paham saat memanggilnya. Dia baik, setidaknya karena suka membelikanku es krim porsi besar di akhir pekan. Cantik, pandai memasak, dan mengarang teka-teki konyol --walau lebih sering garing--.

"Kamu tahu, kenapa bulan itu satu?" Tanya mama, saat kami duduk di teras rumah malam-malam.

"Memang takdirnya seperti itu, mungkin." Jawabku, yang sudah menangkap gerak-gerik mama yang bersiap mengeluarkan lelucon garingnya.

Mama menggeleng tiga kali, "mm..mm..mm..SALAH!"

Aku diam. Sebenarnya enggan menanggapi lagi, karena sudah tahu, semua ini pasti berakhir garing. Namun, karena melihat wajah mama yang seolah sedang menunggu tanggapanku, aku pun bertanya,

"Lalu?"

Mama tersenyum dan menjawab, "Karena, tidak ada 'paklan', hahahahah." Tawa mama menggema di teras rumah, tak peduli denganku yang hanya berkedip-kedip sembari tertawa hambar.

Bagaimana pun, itulah mama. Jujur, terkadang aku tak suka sikap kenak-kanakannya, tapi itulah istimewanya seorang Mama Lia.

Papaku, papa Herda. Tampan menawan seperti bangsawan walau sebenarnya hanya seorang karyawan. Papa bekerja sebagai seorang polisi dermawan entah apa jabatanya, tapi yang ku tahu, posisi papa cukup penting di sana. Setiap pagi, dengan rambut berjambulnya yang di sisir selama satu jam --katanya biar mirip artis korea-- papa berangkat ke kantornya --kantor polisi tentu saja--.

Papaku tidak lucu seperti Aziz Gagap, tapi suka bercanda dan mengarang cerita-cerita aneh hanya untuk membuatku ketakutan.

"Kamu tahu pohon lidah buaya di belakang rumah?" Tanya papa pada suatu hari, ketika aku baru selesai mandi.

Aku mengangguk mengisyaratkan kata "iya, tahu."

"Pohon itu, dulunya ditanam oleh seorang nenek-nenek yang suka makan daging buaya. Dia tinggal di rumah kosong di samping rumah kita. Setiap selesai makan, dia menancapkan lidah mayat-mayat buaya itu sehingga tumbuh menjadi pohon seperti sekarang. Katanya, siapa pun yang memetik pohon itu, maka nenek itu akan datang dan terus menghantui orang yang memetiknya."

Konyol memang. Tapi cerita itu sukses membuat aku takut melewati rumah kosong di samping rumah keluarga kami selama satu minggu. Aku juga tak mengerti mengapa aku bisa percaya begitu saja dengan cerita tak masuk akal milik papa, padahal usiaku sudah enam belas tahun.

Semuanya aneh. Entah cerita papa, entah aku yang percaya begitu saja dan ketakutan dengan apa yang dia ceritakan. Itulah keluargaku. Itulah papa.

Satu lagi. Mas Caka. Kakakku yang suka bermain gitar dan berlagak seolah dirinya adalah titisan 'Virgoun'.

OaseWhere stories live. Discover now