"Apa maksud dari buku ini?" Tanya cowo itu setengah berteriak.
"..." Cewe yang ditanyainya hanya tersenyum.
"Lo gila." Kata cowo itu frustasi.
"Seperti apa yang kamu tau selama ini." Kata cewe itu akhirnya.
"Sudah gue bilang jangan ganggu hidup gue lagi." Cowo itu menatap sang cewe tajam.
"Aku sudah lakukan apa yang bisa aku lakukan."
"Lo bodoh atau apa? Gak puas lo bikin gue malu. Dan sekarang, lo mau bilang ke seluruh dunia dengan Novel lo ini? Tarik semua novel lo. Dan jangan buat apapun lagi yang berkaitan dengan gue." Kata cowo dan bergegas pergi.
"Rey." Panggil cewe itu membuat cowo itu berhenti berjalan.
"Lo tega." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis. Tapi justru sebaliknya bibir cewe mengulas senyum.
Rey berbalik menatap cewe itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa Rey......" jeda "Cuma satu hal yang aku minta dari kamu. kenapa kamu ingin menghancurkannya?" suara cewe itu mulai bergetar.
"Gue gak mau ngasih apapun buat lo. Lo adalah hal terburuk dalam hidup gue dan lo tau itu."
"Oh ya. Bener juga kata-kata kamu Rey, itu sebabnya kamu gak pernah lepasin aku."
"Apa maksud lo?" Tanya Rey bingung.
"Kamu gak baca Novel itu?" Tanya wanita itu terkejut.
"Buat apa gue baca novel yang memalukan nama gue."
Cewe itu tersenyum masam. "Baik kutarik semua novelku." Jeda beberapa detik. "Kecuali yang ada ditangan kamu."lanjutnya.
Rey mengeryitkan dahi.
"Jika benar aku sudah pergi. Jangan bersedih Ray. Bukankah duniamu lebih indah tanpaku."
"Apa maksudmu?" Tanya Rey bingung.
"Hanya coba mengingat kalimat Novel itu saja."
"Terserah apa kata Lo." Rey berbalik dan ingin berjalan meninggalkan cewe itu untuk kedua kali.
"Ray...." panggil cewe itu lagi.
Ray berhenti dan berdiam ditempatnya.
Cewe itu berlari dan memeluk punggung itu. Ia menangis dengan isakan kecil dibelakang sana.
"Lepasin gue."
"Sebentar saja."
Hening, Rey hanya membiarkan cewe cewe itu disana.
Lima menit berlalu tangis cewe itu berhenti begitupun dengan pelukan yang makin mengendur dipunggung Rey.
"Jangan berbalik." Kata cewe itu saat rey ingin melihatnya.
"Sudah kuduga Ray. Cerita kita hanya sampai sini. Jujur aku tak pernah menyesal mengenalmu Rey. Jangan salahkan dirimu aku yang memilih Ray. Jika disini ditanya siapa yang harus pergi. Kamu tau jawabannya aku yang harus pergi Rey."
Hening,,,
Rey berbalik melihat gadis itu. Tidak ada, hanya kenangan lama yang dilihatnya. Gadis itu pergi.
"PETRISYA....." teriak Rey kencang. Dan hanya hembusan angin yang didapatnya tak ada jawaban sama-sekali.
"Gue emang tega Sya,,,," kata Rey dengan menunduk. Ia mengeluarkan airmatanya. Cowo itu akhirnya menangis setelah dua tahun berlalu.
Rey ingin petrisya kembali, ia ingin gadis itu mendapatkan balasan dari cintanya.
Tapi semua telah terlambat. Petrisya adalah kenangan indahnya bukan kenangan buruk yang dua tahun lalu ia katakan pada gadis itu. Gadis itu benar-benar pergi dari hidupnya dan meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Novel yang dulu dibencinya sekarang dipeluknya erat-erat. Kenangan tentang gadis itu masih disana. Tentang perjuangan cinta yang berakhir dengan pengorbanan sang gadis. Rey menyesal apa yang dikatakan petrisya dua tahun lalu tak ia laksanakan. Rey menyesal dan ingin gadis itu kembali.
Ia ingin gadis itu yang hidup bukan dirinya. Jantung dibalik novel itu berdetak kencang. Petrisya ada disana jantung itu milik Prasetya yang entah mengapa ia sia-siakan dulu.
Rey menyesal. Kenapa Orang yang mengakui adanya Cinta ia yang akan tersakiti. Seperti Petrisya yang harus berkorban karena mengakui cintanya dulu dan ia yang harus tersakiti karena baru menyadari setelah ia kehilangan seperti sekarang.
Cara Cinta Membuktikan adalah pengorbanan hati petrisya untuk Reynal dan Pengorbanan Cinta Untukku Adalah ungkapan Perasaan Reynal untuk Petrisya.
~Selesai~
______________________________________
Pada baper gak sih? Maaf ya kalau gaje. Ini emang curahan hatiku buat si Doi yang gak pernah peka. Siapa tau disini ada yang nasibnya kayak aku. Kita senasib gays. Yaudah itu aja dari aku.
Salam penulis gaje
~jeliliya~
YOU ARE READING
TSTBB
Teen FictionKumpulan ending cerita sedih. ** Karena sesuatu yang menyakitkan kadang itu yang ada di ingatan. ** Bukan bermaksud mengingat luka lama. Tapi kadang hal itu yang menjadi penguat bahwa kita juga pernah jatuh dulunya dan bisa bangkit lagi. ** Gak usa...
