1. Ryan!!!

4.3K 451 909
                                    

"Tentang ruang yang biasanya kau beri nama abu-abu itu sebenarnya memiliki banyak warna. Sayang, pemikiranmu terlalu kuat untuk menerimanya."

Pensil itu menari dengan gemulai di atas kertas kosong. Meninggalkan jejak tipis yang saling menggenggam. Meski awalnya hanya berupa goresan abstrak yang begitu rumit, tetapi lama kelamaan sketsa wajah seorang perempuan terbentuk lengkap dengan senyumnya yang manis. Sang empu seolah menceritakan perasaannya selama ini. Kerinduan terhadap bayangannya yang sudah pergi, menyisakan warna hitam dalam hidupnya.

Tanpa dia sadari, seorang cowok dengan model rambut side bang menghampiri. Ekspresi wajahnya terlihat tenang, meski ada sedikit gores kekhawatiran yang coba disembunyikannya.

"Lagi ngapain, Dil?"

Dila mendongak, bola matanya seketika membulat sempurna. Dengan tergesa-gesa Dila menutup sketch book-nya.

"Enggak ngapa-ngapain, kok," sahutnya sembari tersenyum.

Cowok yang kerap disapa Ryan itu memicingkan matanya. "Ini ...." Ditunjuknya sketch book yang berada di bawah lipatan tangan Dila. "Lo lagi gambar, ya?"

Dila menggigit bibir bawahnya, gugup. Sesungguhnya pertanyaan tersebut terdengar konyol karena memang tanpa dijawab sekalipun, seharusnya Ryan sudah tahu jawabannya. Namun, saat ini bukan waktunya untuk membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Dila tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ryan, walaupun kenyataanya memang seperti itu.

"Enggak, kok!" jawab Dila akhirnya.

Ryan menghela napas. "Ayolah, Nadila. Lo enggak bisa bohong sama gue. Kenapa harus disembunyiin, sih?"

"Gue enggak bohong, Ryan."

Ryan menggangkat dagu Dila dengan telunjuknya. Menatap iris Dila yang berusaha menyembunyikan kebenarannya. Terlalu kentara. "Gue tahu lo lagi bohong, Dil. Entah kenapa gue merasa lo lagi sedih."

Dila menepis tangan Ryan dan memalingkan wajahnya. "Kalau sudah tahu jawabannya, ngapain nanya lagi?" sahutnya. Percuma berbohong pada Ryan, cowok itu selalu berhasil mengetahui apa yang Dila rasakan.

Ryan menaruh bukunya di atas meja lalu duduk di samping Dila. Melirik gadis itu sekilas sebelum akhirnya menopang dagunya dengan kedua tangan. "Gambar apa, sih? Gue mau liat."

"Enggak boleh!"

"Gue mau liat, Dila."

"Enggak boleh, Ryan!"

"Kenapa? Jangan-jangan lo lagi gambar wajah gue, ya? Ngaku aja!"

Dila menoleh cepat. Ryan sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Dila mendengkus. Cowok itu memang memiliki sifat percaya diri yang terlalu tinggi. "Dih! Ngapain juga gue gambar wajah lo?"

"Lo kan suka sama gue."

Dila menaruh telapak tangannya di dahi Ryan. "Kayaknya lo lagi demam deh, Yan. Penyakit pede lo kambuh."

Ryan terkekeh sembari mengacak pucak rambut Dila. "Kok lo lucu, sih?"

"Lucu gimana?"

Ryan mencubit kedua pipi Dila. "Pipi lo merah."

Dila mendelik, mengerucutkan bibirnya, lalu memukul bahu Ryan. "Cukup bercandanya, Ryan!"

"Enggak. Sebelum ...." Ryan mengambil sketch book Dila dengan cepat. "Gue liat gambar lo."

Ryan berlari meninggalkan Dila yang masih mematung di tempat duduknya. Tangan gadis itu perlahan mengepal, napasnya memburu. Bisa-bisanya seorang Ryan Febrian mempermainkannya.

SORRY (PROSES PENERBITAN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang