Izinkan aku telepati di hatimu
Tina selonjor di kursi kayu di depan perpustakaan sambil menutup muka nya dengan buku Sosiologi. Veri bengong sejenak melihat tingkah Tina.
"Eh, Tin lu gimana sih bukannya baca buku malah ngambil kesempatan buat berleha-leha disini" tegur cetus Veri.
"kepala gua rasanya krenyas-krenyus gitu" sahut Tina lemas.
"Mending lu tiduran di UKS , tidur lu nyaman dapet teh hangat lagi" Veri membujuk manja.
Veri sudah tahu kabar terhangat bahwa tadi malam Tina habis mengakhiri status berpacarannya dengan kapten basket terperfect se-SMA Kartika. Biasa lah, perasaan cewek sensitif nya kehilangan gebetan mengalahkan terpukul nya korban tsunami.
Risma adalah sahabat Tina yang kedua selain Veri, dia bukan cewek biasa. Kemampuan nya telepati dan membaca pikiran orang lain. Tina kadang ingin minta transfer ilmu telepati biar dia bisa komunikasi tanpa perlu bicara apapun ke do'i.
Ia adalah sosok cewek kalem berkacamata jengkol dan pandai pelajaran kimia. Barbagai olimpiade kimia telah ia ikuti dengan hasil maksimal membuat siswa lain geleng-geleng takjub pada kejeniusannya.
"Ver, gimana kondisi Tina tadi, dia baik-baik aja kan?, apa dia lupa sarapan ya?, apa dia bergadang semalem?, apa karena dia galau ya?" lontaran pertanyaan Risma yang berbaris seperti gerbong kereta api. Veri hanya menaikkan sedikit bahu nya sambil mengerucutkan mulut nya.
Dari kejauhan terlihat Tina keluar dengan sedikit lunglai dari sebuah ruangan favorit siswa yang ngantuk atau bosan dengan guru tertentu yaitu UKS .
"Cuy, ini ya yang dinamakan patah hati. Semua kinerja fisik gua jadi loyo semua. Apa hati gua ini punya rangkaian listrik yang saling nyengat ya" Curhat Tina tanpa segan.
"Makanya jangan terlalu ngikhlasin hati lu buat orang yang gak pantes dapetinnya" nasehat bijak Risma.
"Kalo udah terlanjur cinta mau gimana lagi, Ris" gurauan Veri seraya menyenggol bahu Tina.
"Sampai detik ini gua gak percaya cinta dan gua gak mau terlibat di dalam nya. Gua takut kalo di awal janji manis diberikan ujung-ujung nya sengsara yang gua terima. Pokoknya ogah forever lah" cerocos Risma.
"Terserah lu, suatu saat lu bakal kejebak dalam dunia cinta juga" Tina mendengus kesal.
🐢
Pulang sekolah Tina, Risma, dan Veri jalan bareng dijalan sambil bales-balesan teka-teki konyol. Giliran Veri beraksi "angin angin apa yang bikin nyam-".
Seketika ada angin kencang yang menerpa ketiga sahabat tersebut memotong banyolan Veri. Risma sampai tersungkur kedalam selokan di pinggir jalan.
"Sueeek,, ada angin tornado yang barusan lewat, tolong gua cuy" celoteh Risma sambil menaikkan tangan kanan nya ke atas minta sahabatnya membantu nya ke atas. Veri bergerak santai untuk memberi pertolongan pada Risma, namun dengan sekejap mata angin perlahan datang lagi dan ada efek yang menolong Risma.
"Nah itu lu bisa mandiri naik sendiri " sahut Veri dengan menaikkan sudut mulutnya sedikit.
"Lohh, gua kan di tolongin sama lu beberapa detik yang lalu, kok lu lupa sih. Makanya jangan kebanyakan makan micin, jadi pikun di usia dini kan lu" sambar Risma sedikit mengejek.
"Udah jangan ribut. Kalian gak jauh beda sama anak PAUD, yok pulang gak sampe-sampe kerumah nih kalo cekcok kalian kayak debat presiden" ujar Tina dengan gamblang.
"Capcus cin" jurus kemayu Veri membuat Tina dan Risma terbahak-bahak.
🐢
"Hari ini ada siswa baru pindahan dari Bali" Bu Tata, guru sejarah mempersilahkan masuk 3 anak baru yang penampilannya lumayan aneh dari siswa yang lain. Mereka memakai kalung dari rangkaian kulit kerang.
"gua Puput"
" gua Soni"
"gua Hamza".
Mereka memperkenalkan diri secara bergantian dengan mata hazel dan wajah datar mereka. Puput duduk di sebelah Devira, tepat di depan meja Veri. Sedangkan Soni dan Hamza memilih duduk berdua di sudut paling belakang di sepasang bangku yang belum bertuan. Mereka tidak mau bergaul dengan siswa lainnya, layaknya punya dunia lain.
"haihai, kenalin gua Tina cewek paling manis di SMA ini." Tina yang kepedean menjulurkan tangan kanannya ke arah Puput. Tanpa kata pengantar apapun Puput menggerakkan kaki nya ke arah menjauhi Tina seperti tikus yang menghindar dari kucing pemangsa. Tina menyadari ada hal yang janggal yang perlu ia tindak lanjuti. Tina memperhatikan langkah kaki kilat yang ditampilkan oleh sepasang kaki Puput, sambil mengedip kan mata perlahan "mungkin gua lagi ngantuk nih".
YOU ARE READING
Titik di Bagian Koma
Teen FictionSekuat apa pun aku meyakini aku tak mungkin jatuh cinta pada siapapun, aku tak tertarik, kurasa itu hal yang membosankan, logika menjadi kacau, berujung luka. Aku bisa hidup sendiri dengan kesempurnaan yang ku punya. Tapi...itu salah, setiap manus...
