~Setelah Kau Pergi~
🌙
Kemarin adalah hariku memilikimu, hari ini aku belajar melepaskanmu, dan esok aku harus belajar tanpamu. Melukis kisah baru dengan nasehat-nasehatmu.
Ayah, Izinkan aku untuk berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik lagi; menghargai diri sendiri dan kasih dari orang-orang yang mengelilingi.
Serta bisa menjadi orang yang berguna untuk semua.
Sabita N. Anugrah
◇◇◇
Detik-detik waktu saling berkejar-kejaran meninggalkan lembaran-lembaran yang telah tercoret penuh dengan tinta. Menyulam garis-garis baru yang penuh dengan pengharapan akan lebih indah dari gambar-gambar yang telah terukir sebelumnya.
Sabit berdiri termenung di depan jendela kamar. Dari balik jendela yang sengaja dibuka, ia melihat di luar hujan sedang turun dengan deras.
Namun pandangan mata kosong. Pikiran gadis itu tidak pada tempat pijaknya.
Ia seakan berlari—berbalik arah—pada tempat saat ia memutuskan untuk pergi berkelana jauh dari pelukan ayah tercinta. Membuka lembar lama yang tak pernah ia lukis sebelumnya.
Ia khusyuk membaca derai hujan yang seolah menjabarkan semua kisahnya. Tentang rasa sakit hati karena kecemburuan akibat ayah membaginya pada saudara yang tak pernah ia anggap ada sebelumnya, keputusan untuk berlari pergi dari sisi ayah saat tahu ayah selalu membanggakan sang saudara karena perbedaan mereka yang begitu kentara. Dan terakhir, saat dia dibaluti emosi dan memilih pergi. Kini, saat ia kembali, justru ia kehilangan seseorang yang berarti itu. Ayah.
Baginya tidak ada yang lebih berarti dari ayah. Hidup berdua setelah kehilangan sang ibu yang meninggal akibat kecelakaan membuat mereka seakan tidak terpisahkan. Ayah menyayanginya melebihi apapun di dunia ini. Bahkan ketika ia sakit ayah meninggalkan pekerjaannya hanya untuk merawat Sabit kala itu. Hingga gadis itu menggantungkan seluruh harap dan kasih pada sang ayah. Sabit tahu, meski sedalam apapun kasih sayang yang ia coba berikan tidak akan mampu membalas selurus kasih sayang ayah yang tercurah limpah hanya untuknya seorang. Dulu. Sampai Sabit lupa dengan saudaranya yang hilang akibat kecelakaan tersebut. Dan ketika mereka dipertemukan ...
Air matanya jatuh. Suara gemuruh di sertai angin kencang yang menerpa kerudungnya tak dihiraukan. Dinginnya udara yang menyelimuti tak sanggup menandingi otaknya yang membeku dalam kenangan penyesalan.
Karena keeogisannya. Sabit tak ada pada masa-masa terakhir ayah membuka mata. Ia dibaluti amarah, dikobarkan rasa keakuannya untuk menjadi yang pertama di mata ayah. Dan saat sadar ternyata dia telah dikalahkan oleh keegoisan yang perlahan menggerogotinya.
Kini Sabit hanya bisa tenggelam dalam lara yang panjang, dalam lautan kedukaan tanpa dia tahu tempa untuk menepi.
Gadis itu terisak-isak.
Secebis rasa hati memohon maaf pada saudaranya karena tidak mampu menepati janji untuk tidak menangis lagi. Di depan sang kakak ia selalu berpura-pura tegar. Tapi, dibelakangnya justru ia roboh menahan segala kepedihan yang menimpanya. Menyalahkan dirinya.
Karenanya,
Akibatnya,
Semua olehnya.
Sabit cepat-cepat mengahapus air matanya saat suara ketukan di pintu kamar menelusup pada indera pendengarannya. Menghela napas untuk meredakan isakan. Membuat sunggingan senyum menyambut kedatangan saudaranya.
Dan saatnya ia belajar tegar, meski nyatanya kepura-puraan.
YOU ARE READING
Sabit
Teen Fiction-Aku hanya Sabit, bukan bulan di angkasa sana, yang tetap bersinar menerangi bumi meski gelap menyelimuti- Merasakan hidup sebagai anak tunggal yang selalu terpenuhi segala hajatnya saat bersama sang Ayah. Sabit merasa kehidupan itu seakan berubah s...
