Part 1

63 8 1
                                        

Sambil memegang medali emas dengan tangan kiri dan melambaikan tangan kanan, Ray melangkahkan kedua kakinya pasti. Tersenyum melihat dua orang didepannya lalu berkata, "Mah, Pah, Emas lagi nih." Dan mengalungkan medali di leher ayahnya. Keluarga bahagia sepertinya bukan?

Bagaimana tidak? Ray Bramantyo, anak sulung sekaligus anak bungsu keluarga kecil Bramantyo. Tika nama ibunya. Bramantyo kerap disapa Bram, ayah Ray, adalah pemilik perusahaan yang cukup terkenal. Bisa dibayangkan bukan, Anak tunggal dari keluarga kaya yang penuh kasih sayang, bagaimana bahagianya Ray? Sangat bahagia.

Setelah pengalungan medali, mereka bertiga melangkah menuju parkiran dan menaiki mobil merah dengan Bram dibalik kemudi.

"Mah, besok gak belajar yaa?" ucap Ray memecah keheningan didalam mobil. Ngomong-ngomong, karena sibuk didunia Taekwondo, Ray memutuskan homeschooling setelah belajar 1 semester di SMA Global.

"Oke, tapi lusa belajarnya double." Tika menjawab dengan senyuman.

Dobel-dobel lusa yang begitu menyiksa Ray, Ray lebih memilih latihan seharian daripada belajar 2 jam, memang ia sedikit gila latihan.

Dengan mata yang tetap fokus pada kemudi, Ayah Ray buka suara, "Lusa kami ada jadwal latihan persiapan buat kejuaraan di Jepang loh mah. Jadi Ray gak bisa belajar lusa."

Ray tersenyum penuh kemenangan, "Okay Mah, Papah udah angkat bicara, berarti mamah Kal- PAAAAAAHHH AWAAAAAAAASSS!!!!" Saat jalanan sepi, Bram memacu kendaraannya cukup kencanng, tiba-tiba ada anak kecil yang berlari melintas jalan. Bram yang kaget langsung membanting stir ke kiri. Nahas, ternyata keputusan yang salah. Mobil menabrak pembatas jalan lalu terbalik-balik menghempas jalan dan berhenti ketika menabrak pohon besar. Kondisi mobil rusak parah.

"Mah.. Pah.." dengan tubuh terjepit penuh darah dan kesadaran diambang batas, Ray memanggil dua orang terkasihnya, setelah itu semua menjadi gelap.

**

"Dua korban meninggal ditempat, satu korban mengalami pendarahan kepala. Kami menuju rumah sakit, segera siapkan ruang operasi." Orang-orang berseragam putih segera memindahkan Ray menuju Ambulan. Memasang berbagai alat-alat penompang hidup Ray hingga rumah sakit.

**

Hanya mengenakan piyama dan jaket, Keela berlari menuju ruang ICU setelah mendapat kabar dari sekretaris keluarga Ray bahwa Ray dan keluarga mengalami kecelakaan. Semakin mendekat, semakin berat langkahnya, tidak kuat melihat orang yang disayanginya tak berdaya. Keela memeluk Bi Imas, asisten rumah tangga Ray.

"Keela yang kuat yaa, Operasi den Ray alhamdulillah lancar, kita tinggal tunggu Ray sadar." Bi Imas mengelus punggung Keela. "Mamah dan Papahnya den Ray udah duluan, besok dimakamkan. Bibi mohon kalau Ray sadar, jangan pernah tinggalin dia yaa, kuatkan Ray."

Keela menangis semakin dalam, memikirkan nasip Ray saja sudah membuatnya sangat sedih, bagaimana Ray yang mengalaminya?

---------

Mohon dimaklumi teman-teman, my first story btw.

Di part 1 emang feelnya belum dapat, tapi mudah-mudahan dipart-part selanjutnya, teman-teman bisa menikmati dan lebih dapat feelnya.

Terimakasih.

ONE TIMES TWOWhere stories live. Discover now