part 1

127 10 2
                                        

"ANJING LO!"

Bug! Bug!

"MAU JADI JAGOAN LU DI SEKOLAH INI?! HA?!!!"

Sambil mencengkram kerah baju lawannya. Athala Arkana Putra terus- terusan murka atas kelakuan lawannya itu (baca=Ade kelas).
"A...a... ampun kak" Lawannya nyaris kehabisan tenaga untuk melawan Arkana.
"Halah bacot!"

Ketika Arkana siap melayangkan tinjunya untuk yang kesekian kali terdengar suara berat memanggilnya "ATALA ARKANA PUTRA! BERHENTI DI SANA!"

Dengan membawa guru BK dan anggota PMR, pak Agung selaku kepala sekolah di SMA Harapan Bangsa itu berjalan cepat menuju tempat dimana Arkana memukuli adik kelasnya. Sesegera mungkin Arkana melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju adik kelasnya. Adik kelasnya yang baru saja ia pukuli itu langsung terduduk dengan muka memerah sambil memegangi perutnya yang habis di tonjok berulang kali oleh Arkana.

"Arkana! Sudah berapa kali saya bilang, kamu itu sudah kelas dua belas jangan suka bikin ulah! Ini malah setiap hari ada saja masalah yang kamu buat!" Pak Agung mulai emosi. Habis sudah kesabaran beliau untuk menasehati Arkana. Bahkan guru BK saja tidak sanggup untuk menangani Arkana.

"Retha dan Raga, cepat bawa Bagus ke UKS. Bu Nadia, ikut saya menangani Raga di ruang kepala sekolah. Dan Arkana, kamu ikut saya ke ruang kepala sekolah." Ucap Pak Agung tegas sambil menarik lebih tepatnya menyeret pergelangan tangan Arkana di ikuti Bu Nadia di belakangnya. Sementara Retha dan Raga membawa Bagus, anak yang di pukuli oleh Arkana.

💥💥💥

Suasana di ruang kepala sekolah itu tampak tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Pak Agung hanya melihat Arkana yang sedang menyulut rokok nya. Asap terlihat mengepul di sekitar muka Arkana, membuat kesan dingin dan kejam yang menghiasi wajahnya semakin kental.

Pak Agung menghela nafas berat. Seolah lelah dan bingung harus dengan apa Arkana di beri tau.
"Arkana. Kamu itu maunya apa?"
Pak Agung menatap Arkana jengah.
"Saya? Mau saya?" Tanya Arkana sambil menunjuk diri sendiri.
"Iya."

Dengan senyum meremehkannya Arkana berkata "Mau saya gampang pak. Keadilan disekolah ini harus di tegakkan." Kembali ia menghisap puntung rokoknya yang nyaris setengah batang.

"Keadlian? Maksud kamu?" Tanya pak Agung bingung.
"Anak yang barusan saya pukuli itu habis mengintip teman sekelas saya. Dia mengendap ngendap ke toilet perempuan seperti kucing yang mengincar mangsa. Masih bagus saya lihat. Kalau enggak? Kacau." Ucap Arkana enteng, seolah olah apa yang baru ia perbuat adalah perbuatan yang benar.

Lagi-lagi pak Agung menghela napas berat. Ia tau Arkana itu anak yang pandai, baik, serta penurut. Tapi semenjak ibunya meninggal beberapa bulan sebelum kelas 12 Arkana menjadi urakan.

Bolos saat jam pelajaran, ulangan jarang-jarang, telat terus-terusan, nilai semuanya merah.  Seperti kehilangan arah Arkana menjadi anak yang badung.

"Baik, jika itu benar kenapa kamu tidak langsung membawa anak itu ke ruang BK?"
"Betul Arkana jika kamu langsung membawa Bagus ke ruangan saya, saya pastikan dia mendapat hukuman." Bu Nadia yang semula diam, angkat bicara.
Sambil tertawa meremehkan Arkana bertanya "Ia kalau dia ngaku? Kalau ngelak atau bahkan ngefitnah saya? Ujung ujungnya yang akan dihukum siapa? Saya lagi kan?"

Pak Agung dan Bu Nadia berpandangan. Pertanyaan Arkana tadi seolah olah menyudutkan mereka karena sering menghukum Arkana atas kesalahan yang bagi Arkana itu kebenaran.

ArkanaWhere stories live. Discover now