Senja kini telah menampakkan wajahnya, menandakan bahwa sore telah datang.
Diantara anak sekolahan yang berlarian pulang, seorang pria berwajah menyeramkan menampilkan sebuah kegiatan yang sangat tidak senonoh —membuang sampah di tempat yang tidak seharusnya.
Dengan membawa empat kantung plastik besar di kedua tangan kekarnya yang berisi sampah-sampah dengan bau menjijikan, pria itu berjalan dengan santainya memasuki sebuah gang kecil yang sepi dan menaruh plastik-plastik sampah itu di pinggir jalan.
Dari kejauhan, seorang perempuan menyipitkan matanya, menatap tidak suka kegiatan yang dilakukan pria tua itu. Dengan seluruh kekesalannya, ia menghampiri pria bermuka menyeramkan —yang menurutnya mirip preman— itu dan menepuk pundaknya dengan kasar.
"Hei, Preman Pasar! Sejak kapan ada UU yang menyatakan bahwa sampah diperbolehkan untuk dibuang di pinggir jalanan seperti ini?" Seru perempuan berumur 14 tahun itu. Rambut hitam legamnya ia kuncir setengah, sangat kontras dengan langit berwarna jingga di atasnya.
"APA-APAAN LU, BOCAH GENDENG!" Pria bertubuh kekar itu menatap sang perempuan dengan penuh amarah.
"Yang apa-apaan itu lu, Kakek Tua!" Sembur si perempuan.
"Enggak usah sok mencampuri urusan gue, bocah!"
Perempuan berambut panjang itu memutar bola matanya, "kamu yang pantas disebut bocah! Buta tentang hukum yang dimiliki negaranya sendiri, bahkan lebih seperti sebongkah SAMPAH dibanding seorang bocah."
Suara gertakkan gigi terdengar, bersamaan dengan ditariknya kerah baju si perempuan.
"LU MAU MATI YA?!"
"Heh, Pak Tua, denger ya!" Si perempuan mengatur napasnya sejenak, sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Lu tahu kalo SAMPAH pun ternilai harganya? Eh btw, berat lu berapa kilo, pak? Setau gue SAMPAH dihargainya perkiloan. Lu ingin dihargai berapa, hah?? Gopek? Cepek?" Si perempuan tertawa merendahkan.
Pria itu makin mencengkram kuat kerah baju sang perempuan. Amarahnya sudah meletup-letup menginginkan pelampiasan.
"Yaelah pak, gak usah berharap tinggi kalau lo bakal dihargai lebih dari gopek! Lu mah cocoknya dihargainya cuma seratus perak! Moral aja gak punya! Apalagi otak!"
Muka pria itu memerah menahan amarah. Dicengkramnya dengan lebih kuat kerah baju si perempuan. Membuat desisan keluar dari mulut si perempuan disertai rasa sesak yang sangat menyiksa. Seluruh oksigen di muka bumi seakan-akan telah direnggut habis tak tersisa.
"Hei, kayaknya lu niat banget buat masuk penjara dan dapat denda ya. Belum tahu kalau menyakiti anak dibawah umur serta membuang sampah sembarangan bisa membuat lu dikenakan denda jutaan rupiah?" Suara mengejek dari seorang lelaki membuat si pria secara tidak sengaja melemaskan cengkramannya pada kerah baju si perempuan.
Si perempuan tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia langsung menendang tulang kering si pria dan berlari menjauh untuk mengambil jarak aman. Si pria mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya yang memerah. Namun, matanya tetap menatap lancang lelaki yang berada di hadapannya.
"Lu kira gue takut dengan ancaman--" Ucapan si pria langsung dipotong oleh lelaki berambut coklat itu.
"Oh iya, gue hampir aja melupakan kenyataan bahwa preman macam lu tuh ga pernah belajar. Pantes aja bego, otaknya ga pernah digunain sih," Cibirnya.
Si pria menggeram, hampir saja mengambil ancang-ancang untauk melumpuhkan si lelaki jika saja tidak mendengar suara sirine polisi yang berada di dekatnya.
Sirine polisi itu berasal dari motor-motor dan mobil-mobil polisi yang sedang melakukan patroli mingguan di sekitar lingkungan. Patroli itu dilakukan untuk memantau aktivitas para warga agar tidak melanggar peraturan yang ada.
YOU ARE READING
[She]cret
Teen FictionViolent tidak pernah menyadari sejak kapan dirinya memiliki lubang besar di dalam hatinya. Lubang yang tidak dapat di tambal oleh hal sebesar apapun; termasuk cinta. Saat dirinya menginginkan sebuah cinta, Tuhan mengirimkannya Nathan. Namun saat dir...
![[She]cret](https://img.wattpad.com/cover/132841297-64-k82832.jpg)