27. Obrolan Siang Ini

182K 19.9K 965
                                    

"Oh, jadi Nak Arkan ini dulunya mahasiswa Ayahnya Khanza ya pas Magister?"

Plisss... Itu Bunda cari perhatian.

"Iya, Tante. Eh, maksud saya Ibu," ringisnya dengan raut bersalah.

Bunda tertawa santai menanggapinya, "gak papa panggil Tante juga. Ya, walaupun muka Tante masih muda gini."

Gubrak! Kok Bunda mendadak alay seperti ini.

"Bun, aku malu tahu. Bunda lebay," bisikku yang kebetulan duduk di sebelah Bunda. Bunda sejak tadi sudah seperti seorang reporter yang terus saja mewawancarai Arkan. Pertanyaan apapun dia tanyakan; umur, alamat, hobi, dan ...

"Kamu single?"

Status pun tak luput Bunda tanyakan. Duh, kok tiba-tiba deg-degan? Menelan saliva berat. Arkan melirikku seolah bertanya lewat matanya 'saya harus jawab apa?'

Aku memelas. Menjawab juga lewat tatapan mata 'jangan, plis. Saya belum siap.' Dia sudah sepakat untuk menutupi hubungan ini sementara. Sampai aku benar-benar siap.

"Saya--"

Aku greget sampai bibirku membentuk garis lurus saat Arkan malah menggantungkan kalimatnya. Aku menggelengkan kepala seraya menampilkan raut memelas.

"Single."

Alhamdulillah...

Aku bernapas lega tanpa bisa ditahan. Bunda sampai menengok ke belakang saat aku menghela napas. Aku nyengir lebar, menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.

"Kenapa, Kak?"

"Ha? Ng-gak papa, kok, Bun." Aku menjawab dengan gagu.

"Itu tadi kayak yang lega gitu, Kak. Pasti karena tahu Arkan single ya?" goda Bunda mencolek daguku.

Aduh Gusti, seharusnya tadi aku tidak ajak Arkan masuk, bila perlu langsung mengusirnya untuk pulang daripada mampir malah kena nyinyir Bunda seperti ini. Hayati gak kuat, Mak.

"Ih, Bunda. Jangan bikin Kakak malu deh," dumelku berbisik.

Sabar, Bunda. Cinderella-mu ini butuh waktu buat mengakui. Paling tidak untuk dua minggu ke depan. Aku akan berusaha memanfaatkan waktu untuk memantapkan hatiku. Kalau ternyata berhasil--aku cinta sama lelaki yang kini tersenyum tipis itu, aku akan jujur. Kalau tidak, artinya Bunda atau Ayah tidak perlu tahu.

"Nak Arkan, makan siang di sini ya? Tunggu sebentar lagi Ayahnya Khanza biasanya pulang buat makan siang di rumah," ajak Bunda.

Pepet saja terus, Bunda. Sebelum sadar kalau umur sudah tua.

Kalau asal bicara sama orang tua diperbolehkan, aku akan benar-benar mengatakan kalimat itu dengan emosi. Dewa putih di telinga kananku langsung menegur.

Jangan gitu Khanza, dia itu Ibumu bukan temanmu.

Suara Arkan kembali menghempaskan aku pada detik di dunia nyata. "Maaf, Tante. Bukannya saya menolak, tapi saya sudah ditunggu sama orang rumah. Ibu saya dari tadi terus mewanti-wanti untuk segera pulang," tolak Arkan halus.

Benarkah dia sudah ditunggu keluarganya?

"Oh, gitu," cicit Bunda kecewa.

"Maaf sekali, Tante. Saya gak ada maksud buat menolak," Ujar Arkan lagi.

Bunda mengulas senyum lebar. Sama sekali tidak keberatan dengan penolakan Arkan. Awas saja kalau di belakang nanti ngomel-ngomel seperti waktu Septian menolak ajakan makan siangnya tempo dulu.

"Gak papa, kalau kamu nggak sibuk bisa mampir lagi kemari. Apalagi nanti ketemu Ayahnya Khanza. Sudah lama gak ketemu kan?"

"Sebulan yang lalu kami bertemu, Tante. Waktu Pak Billy ke Bandung nengokin Khanza. Kebetulan kami bertiga makan bersama," jawab Arkan jelas.

Dosen Idola (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang