2. Olahraga

1.4K 119 1
                                    

                    Dikha menatap tampilannya di cermin yang ada di kamarnya. Ia merapihkan jambulnya sekali lagi. Ia meraih jaket jeans hitam yang menggantung di belakang pintu kamarnya.

Setelah jaketnya telah benar - benar terpasang di tubuhnya, Dhika memakai converse nya dan menyampirkan satu tali tas nya di bahu sebelah kanan.

Niat awal Dikha adalah sarapan, perutnya sangat lapar, namun niatnya ia urungkan ketika di meja makan sudah dipenuhi dengan kedua orang tuanya, Dafhi dan juga adik kecilnya Desha.

"Dikha berangkat duluan" lelaki itu segera menuju pintu utama, ia kehilangan selera untuk sarapan.

"Bang dikha. Abang gak ikut sarapan?" Desha berlari menyusul Dikha.

Dikha menundukan badannya, agar wajahnya dapat sejajar dengan wajah Desha.

"Bang Dikha buru - buru. Ada piket, lain kali aja yaa" setelahnya Dikha mengelus kepala Desha dan melanjutkan langkahnya ke garasi, meninggalkan Desha yg memasang muka cemberut di teras.

~~~

Dara turun dari motor dan melangkahkan kakinya memasuki sekolah setelah ia membayar ojek tersebut. Dara menelusuri koridor dengan tenang sambil memainkan tali tas nya.

Bruk..

Dara menyernyitkan dahi nya. Ia mengusap bahu sebelah kiri nya yang barusan tertabrak. Siapa sih yang nabrak? Pagi - pagi bikin kesel aja. Gerutunya dalam hati, matanya belum lepas dari bahu nya, ia belum tahu siapa yang menabraknya barusan.

"eh maap - maap gak sengaja" Dara mengadahkan kepala nya, menatap laki - laki berkulit putih yang lebih tinggi dari tubuhnya.
Dara mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Ini cowok yang ada di mimpi gue!.

"Maap ya gue buru - buru jd gak sengaja nabrak".

"Iya" setelah mendengar jawaban Dara, cowok itu segera pergi dari hadapan Dara dengan langkah cepat.

~~~

Dara menghembuskan nafas kasar. Ia gusar. Bagaimana bisa seragam olahraga nya tertinggal di meja belajar kamarnya. Dan kini ia tak tau alasan apa yang akan ia berikan kepada Pak Tomo, guru olahraga yang sangat disegani itu.

"Ih kok gue bego sih gamasukin tuh baju, padahal kan udah gue siapin" Dara memaki kebodohannya sendiri. Sekarang ia sedang berada di lorong koridor tempat diletakannya loker para siswa siswi SMA Sewindu.

"Ya mau gimana, pasrah aja ya Dar" ujar Dila.

"Siap - siap lari 10 putaran ya dar" kini ledekan Aysila membuat Dara semakin kesal.

"ahh ngejek lu mah"

"Eh lu pada gak ke lapangan? Pak tomo udh disana tuh" itu suara Rama, sang ketua kelas.

Aysila merangkul tubuh Dara yang masih memakai seragam putih abu - abu. Mereka bertiga melangkah menuju lapangan olahraga. Dara terlihat pasrah, langkahnya pun terlihat berat.

Sedangkan di lain tempat, Dikha duduk di pinggir lapangan bersama Mika, Alfa dan juga Tyan. Mereka tampak gembira karena katanya Pak Agum, guru olahraga kelas dua belas berhalangan hadir.

"Kantin eh, laper nih perut gue" ajak Tyan yang sejak tadi duduk sambil memegangi perutnya.

"Setuju dah. Kita free kan?" Mika menyetujui ajakan Tyan.

TraumeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang