"Aku pikir jarak dan waktu bisa membuat semua hilang... tapi kenyataannya, kehadiranmu di sini lagi, membuat semuanya terasa seperti pulang."
----
Riuh suara menggema di sepanjang koridor, layaknya gelombang hiruk-pikuk kota yang menembus dinding-dinding sekolah yang terletak di tengah-tengah Jakarta. Bedanya, jika padat kota dipenuhi suara mesin-mesin kendaraan, koridor ini dipenuhi dengan derap sepatu yang beradu dengan pecahan tawa, sementara pintu yang terbuka-tutup menambah ritme kacau tapi hidup dari keramaian itu.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pemuda berambut sebahu dengan hoodie hitam yang menutupi kepalanya melangkah dengan tergesa, bahkan setengah berlari. seolah ada sesuatu yang mendesak.
Pandangannya tertuju pada sebuah sebuah papan kecil yang tetempel didepan ruangan yang masih jauh diseberang Lorong.
"IPA Empat"
Dua kata keluar dari bibirnya. Disaat itu pula, suara bel masuk terdengar menggema. Napasnya masih tersengal-sengal, sedangkan langkahnya semakin ia percepat untuk menuju ruang kelas itu.
Mata elangnya berpindah ke jendela yang ada di samping pintu, menyapu seisi ruangan yang tampak lebih tenang dibandingkan tempatnya berdiri sekarang. Dengan langkah mantap, ia masuk ke ruangan itu dan menuju ke bangku seorang gadis yang barusaja ia lihat dari luar jendela.
Ia berhenti di depan bangku itu, memegangi kedua lututnya yang terasa kewalahan dengan nafas yang tersengal-sengal. Kedua tangannya menepuk-nepuk dada, sembari mengatur nafas.
''R-ra, pinjem PR lo dong. Gue kelupaan ngerjain.'' Ucapnya terengah-engah. Namun bukannya sebuah buku pr yang ia dapat, melainkan tatapan tajam dari gadis itu.
''Gak.''
''Please, ARA!!. Gue ga mau kena marah bu Anita lagi, entar gua traktir deh, ya?'' pemuda itu kembali memohon, kali ini dengan kedua tangan disatukan didepan dada, dengan mata memelas seperti anak kucing yang minta di kasih makan. Namun rupanya, itu tidak membuat gadis yang di ia panggil Ara itu luluh dan memberikan prnya begitu saja.
Ara menghela napas panjang, sangat panjang seolah sedang mempertimbangkan apakah menyelamatkan Ethen, pemuda itu, dari nilai buruk atau mengorbankan ketenangannya pagi.
''Ethen..'' ia menatap pemuda itu lama, tajam, namun ada sedikit tawa yang naris lolos dari bibirnya. ''.. lo sadar gak sih, ini udah ketiga kalinya minggu ini lo ngomong mau traktir gue. Tapi gue nggak pernah liat traktiran itu terwujud?''
Pemuda berma Ethen itu terdiam, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah diam cukup lama, iapun dengan tenang menjawab. ''Ya, itu sih.. nunggu gua gajian dulu. Tapi tenang aja, Ra. Gue tuh tipe orang yang suka nabung janji.''
''Nabung janji?'' Ara mengulang kalimat terakhir pemuda itu, dan mengangkat satu alisnya bingung.
''Lah iya. Nanti kalau janji-janji gue udah numpuk, baru gue traktir gede-gede. Pas birthday lo mungkin.''
Ara melotot. ''Birthday gue masih setengah tahun lagi, Eth..''
Ethen geleng cepat, masih dengan ekspresi polos sok-yakin.
"Gak apa-apa dong. Investasi jangka panjang."
Ara nyaris melempar buku PR-nya ke kepala Ethen saat itu juga.
Namun sebelum ia sempat membalas, suara pintu berderit pelan. Suasana kelas yang tadi sedikit riuh mendadak sunyi. Semua kepala menoleh hampir bersamaan.
Di ambang pintu berdiri seseorang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Seragamnya rapi, rambut hitam pendek dengan potongan presisi, menandakan kesan disiplin dan patuh pada peraturan sekolah. Tatapannya tajam tapi tenang, kontras sekali dengan Ethen yang terlihat seperti tipikal anak SMA biasa, santai, dan sedikit nakal.
ESTÁS LEYENDO
13: Tentang kita, yang melepas
Novela Juvenil13 Chapter mengenai kita, aku menulis tentangmu.
