We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

BAB I - Hakai (Kehancuran)

468 8 8
                                        

BAB I - Hakai

AtsuhiroEiji, seorang pria berumur 16 tahun. Rambutnya jambul berwarna coklat seperticoklat kayu dan memiliki bola mata berwarna biru tua seperti laut. Ia adalahseorang siswa kelas 1 dari sekolah SMA Fuyumi yang sangat pendiam. Eiji sama sekalitidak pandai dalam bergaul, dan ia hanya mempunyai beberapa teman saja. Banyakmurid yang berkata bahwa Eiji adalah orang yang sangat pemalas, tetapi itusemua hanyalah opini. Walaupun wajahnya terlihat seperti orang malas, namunpikirannya tidak semalas itu, melainkan ia tetap fokus dengan pelajaran yangada.

            Pagi hari ini tepatnya pukul 06:55, sebelum berangkat kesekolah, Eiji mempersiapkan sarapan untuk dirinya. Hampir setiap hari, Eijiselalu memasak hidangan yang sama, Roti goreng. Entah memang ia suka atau tidakbisa memasak, Roti goreng itu seolah-olah dapat menolak rasa laparnya sampaipetang nanti. Rasanya sedikit aneh jika ia hanya memakan roti setiap harinya,tidak seperti yang lain. Pada umumnya, orang-orang menghidangkan nasi dengan laukbeserta sayuran, tidak lupa juga dengan wasabi sebagai penambah rasa pedas padahidangan itu.

            "Selamat makan!" Eiji berdoa sambil menepuk tangannyasatu kali.

            Eiji mulai menyantap dua roti goreng yang telah iahidangkan di atas piring dengan menggunakan tangannya. Roti goreng itu mulaimemasuki mulut Eiji, sampainya di dalam mulutnya, ia pun mulaimengunyah-ngunyah roti itu dengan gigi taringnya. Kunyahan roti itu mulaimenjadi kecil dan membentuk seperti bubur. Roti itu tidak mempunyai rasa samasekali, rasanya sangat monoton, tidak ada rasa manis, asin, gurih ataupunsemacamnya. Namun menurut Eiji roti itu sangat enak, melebihi buatan orang lainsampai-sampai ia ketagihan untuk mengunyahnya. Hanya membutuhkan dua menit,roti itu sudah habis ditelannya, tinggal satu roti lagi yang tersisa.

            "Roti goreng buatanku memang terbaik!" Gumamnya sambilmemegang pipinya.

            "Kring....." Alarm milik Eiji bergetar menunjukkan angka07:00 di meja makannya.

            "Gawat aku sudah telat!" Serunya sambil meraih alarmtersebut lalu mematikannya.

            Suasana seketika menjadi panik, seperti ada kebakaran disuatu tempat, padahal hanya karena telat dan suara alarm saja bisa membuat Eijikegirangan. Ia langsung berlari dari meja makannya ke kamarnya untuk mengambiltasnya yang berisi buku-buku pelajaran yang akan ia pelajari hari ini.

            "Sepatuku mana?!" Eiji kembali berseru sambil melirik kekanan dan ke kiri untuk mencari sepatu miliknya.

            Kesana kemari ia mencari sepatu mulai dari dapur, kamartidur, kamar mandi, sama sekali tidak ada jejak sepatu satupun. Ia mulai panik,level paniknya mulai memuncak atau bisa dibilang mulai sedikit gila.Menurutnya, tidak mungkin sepatunya dicuri, karena di desa yang ia tinggalihanya ada sedikit penduduk.

            "Ah aku lupa! Kemarin aku menjemurnya di luar!" Eijimulai teriak-teriak seperti orang yang tidak waras.

            Ia berlari ke pintu depan rumah seperti tikus yangdiancam oleh seekor kucing. Dengan cepat ia membuka pintunya, ternyata pintunyamasih dalam keadaan terkunci, tetapi ia belum menyadari bahwa pintu ituterkunci.

            "Sialan, kenapa harus dikunci!" Eiji memutarkan kunci kearah kanan lalu membuka pintu tersebut.

            Pintu terbuka, cahaya matahari mulai bersinar terangsetelah dibukanya pintu itu. Angin yang berhembus sedikit kencang, membuatdedaunan bergoyang-goyang. Kegirangan Eiji masih berlanjut, ia masih mencarisepatunya yang hilang. Ternyata sepatunya berada di atap rumahnya yang berkisar3-4 meter.

Ningen no Akuma (Manusia Iblis)Stories to obsess over. Discover now