Everything that you've ever dreamed of
Disappearing when you wake up
But there's nothing to be afraid of
Even when the night changes
It will never change, me and you...
Seorang gadis tengah berjalan melewati jalanan panjang menuju rumah. Telinganya berhiaskan headphone kesayangannya, benda yang rela melingkar di kepalanya setiap hari untuk menemaninya ke sekolah. Mulutnya tak henti-hentinya ikut melantunkan bait demi baik syair lagu yang tengah ia dengarkan. Senyumnya sesekali mengembang dengan sangat manis.
Tak peduli dengan awan tebal yang sudah menghitam. Pertanda hari akan hujan, namun ia masih tak peduli. Ia menyukai musik dan menyukai hujan. Tak ada salahnya jika hujan turun saat ini juga, ia hanya akan basah dan bisa bernyanyi di tengah deraian rintiknya. Dia adalah Aura Zaskia. Gadis yang merupakan siswi SMA Harapan Bangsa. Gadis pemilik senyuman paling cerah, seakan tak ada beban sedikit pun dalam hidupnya.
Ia terkekeh ketika melihat teman-temannya yang berlari karena takut kehujanan. Baginya, hujan adalah salah satu Rahmat Tuhan yang harus disyukuri. Baginya hujan masih tetap air, bajunya masih bisa kering.
Meski begitu, mamanya selalu mengomel ketika Aura pulang dengan keadaan basah kuyup. Beliau khawatir kalau nanti anaknya itu akan sakit jika terus-menerus pulang dengan hujan-hujanan. Bukannya menuruti apa yang mamanya katakan. Aura justru menggoda mamanya dengan mengatakan bahwa sang mama terlihat bertambah cantik ketika sedang memarahinya.
Tada! Hujan mulai turun. Gadis itu tersenyum hangat. Sungguh manis. Kakinya masih melangkah ke jalanan yang lurus itu. Sebentar lagi ia akan sampai di rumah dan mendapati mamanya yang akan menunjukkan kecantikannya itu.
Di tengah alunan musik yang menggema di gendang telinga, langkahnya terhenti. Mulutnya kini diam tak bergerak. Matanya menatap seseorang yang sedang memayunginya kini. Seorang pria tinggi dan berparas tampan telah berada di sampingnya berdiri. Entah sejak kapan. Gadis ini sama sekali tak menyadari.
"Siapa kamu?" Tanya Aura. Aura menatap bola mata cokelat keruh pria itu. Indah. Sungguh membius. Berbahaya.
"Untukmu." Katanya, alih-alih menjawab pertanyaan Aura, pria itu justru memberikan payungnya. Aura tersadar dari lamunan singkatnya.
Aura bingung siapa sebenarnya pria ini. Ia tak pernah melihat pria itu sebelumnya. Pria itu langsung pergi entah ke mana setelah memberikan payungnya. Aura semakin terlihat bingung sambil menatap payung yang kini ia pegang.
Setelah berjalan beberapa menit, Aura sampai di rumah. Dia menutup payungnya dan meletakkannya di samping pintu masuk. Matanya menyoroti empat buah payung yang berada di wadah dan meletakkan payung pemberian pria itu beserta. Meletakkan payung di tempatnya karena habis dipakai bukan hal yang biasa ia lakukan.
Gadis yang sudah dipastikan basah kuyup itu kemudian memasuki rumah dengan santai. Air yang membasahi seragam terus menetes di lantai ketika ia berjalan. Ia baru merasakan dingin ketika sampai di dalam rumah. Rasanya suhu di dalam rumah terlalu jahat pada tubuhnya, seakan menusuk sampai ke tulang. Ketika sampai di ruang tamu, mamanya telah berada di sana menunggu kedatangannya gadis itu. Wanita bernama Larasati menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak bungsunya, Aura.
"Sudah puas kamu hujan-hujanan?" Lontar wanita itu. Larasati memandangi tubuh anaknya yang basah dengan pandangan lelah. Lelah karena Aura kembali mengulangi hal ini meski dilarang.
YOU ARE READING
Vampir Romantis (REVISI ✓)
FantasyIni cerita tentang Aura, seorang gadis yang menyukai hujan dan musik, yang tertawa riang dalam guyurannya sambil bersenandung. Aura yang merasa kalau hidupnya yang damai itu terkesan monoton. Hingga sampai suatu siang dengan hujan cukup lebat memper...
