WARNING!
18+ Dibutuhkan kebijakan dalam berpikir. Kalau tidak kuat dengan beberapa adegan, tidak usah dibaca.
Andrew dan Aulia dilahirkan dalam latar belakang keluarga yang kontras. Andrew beragama Katolik, berdarah campuran Kanada-Jawa. Sedangkan...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Perempuan ini, kuamati dari bangku di belakangnya, ada yang berubah.
Seingatku, dia dulu periang, berisik, tak kenal malu dan sangat manja padaku.
Sekarang, dia berbeda jauh, bertolak belakang dengan yang dulu. Bukan dari penampilannya. Aku tidak keberatan jika sekarang dia terbalut gamis dan kerudung rapat. Sebab dulu pun dia sering berpakaian serba panjang --minus kerudung, tapi tak pernah mengganggu segudang aktifitas ekstrim kami.
Sejak kedatanganku kembali ke Indonesia, dia berubah menjadi lebih introvert, pendiam, menunduk waktu diajak bicara, dan menghindariku sepanjang waktu. Apa ada yang salah denganku?
'Assalamu'alaikum' tulisku di secarik kertas. Lalu aku berdiri dari kursi, dan berjalan untuk memberikan kertas itu padanya.
Dia terkejut melihatku datang. Diambil dan dibacanya kertas itu, lalu mendongak dengan mata terbelalak. Dia menampakkan wajah yang selalu disembunyikan dengan menunduk.
Aku tertegun.
Sejak kapan wajahnya jadi secantik ini? Bola matanya hitam legam, kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih bersih. Bibir dan pipinya sewarna merah muda. Hidung mungilnya itu, sejak kapan jadi menggemaskan?
Tuk tuk ...
Dia mengetuk meja dengan jari telunjuk yang lentik.
Aku tersadar dari kekaguman. Kutundukkan kepala pada secarik kertas yang baru saja disorongkan padaku. Kuambil dan kubaca kertas itu ...
'wa'alaikum'
Aku bahkan tidak sadar, kapan dia menulis jawaban ini.
Tunggu. Jawaban salamnya hanya ini? Bukan wa'alaikumsalam? Apa dia lupa menulis sisanya?
Mana mungkin, dia Muslimah taat, berpakaian gamis dan kerudung rapat. Mana mungkin lupa cara menulis balasan salam yang benar?
"Ada apa dengan balasan salam-mu?" Aku bertanya, meminta penjelasan.
"Aku menjawab salam seperti orang kebanyakan" jawabnya dengan kepala menunduk lagi, tanpa mau melihatku.
Aku merasa jawaban itu terkesan dipaksakan, daripada tidak dijawab.
Menanggapi jawabannya yang terkesan asal, aku mendengus kesal, lalu menggeret kursi di sebelahnya untuk kududuki.
Dia refleks melihatku sepersekian detik kemudian menjauhkan kursinya dariku. Oh, man!
Apa dia menganggapku kusta yang harus dijauhi? Menyebalkan sekali sikapnya ini.
"Jangan tersinggung, aku hanya tak nyaman duduk berdekatan denganmu. Kita bukan mahram."
Wah, luar biasa.. Dia bisa membaca pikiranku?
"Oh ya? Lalu, bagaimana dengan balasan salam-mu?" tanyaku tak puas. Aku masih penasaran dengan balasan salamnya yang tidak lengkap itu.
Dia belum mau menjawab. Tatapannya masih tertuju pada buku yang sedang dibaca.
Kulongokkan kepala untuk mengintip buku apa yang sedang dibaca. MuslimahDuniaAkhirat. Hm, buku religi yang sangat cocok dengan image-nya.
"Apa yang perlu dibahas? Aku sudah menjawab salam-mu, kan?" Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah ganti bertanya.
Apa-apaan anak ini? Sejak kedatanganku seminggu yang lalu, dia selalu saja menghindariku. Seolah aku adalah serial killer yang harus dihindari. Kalau tidak, aku akan membunuhnya secara sadis. Yang benar saja.
Sudahlah. Percuma kukejar, dia sulit ditangkap. Kuputuskan untuk mengambil Hp dari dalam tas, lalu mengetik 'balasansalamuntuk non Muslim'
Benar, kan? Benar dugaanku. Dia menjawab salam sesuai statusku sebagai kaum Kafir, istilah bagi mereka yang cacat iman dan tidak termasuk dalam golongan Islam, setidaknya itu yang pernah kudengar.
Aku ingin mengumpat sejadi-jadinya, kalau tidak mengingat bahwa perempuan ini adalah Aulia Purnamasari, teman masa kecilku.
Kami sudah berteman sejak masih bayi. Tapi saat berusia dua belas tahun, aku harus pindah ke Kanada, dan berpisah dengannya dan tinggal di sana selama enam tahun. Kemudian sebulan yang lalu, keluargaku kembali ke kota ini untuk merintis bisnis properti milik papa. Atas saran Uminya, aku berkuliah di Universitas yang sama dengannya.
Perempuan ini dulu membuatku tergantung padanya. Meskipun berbeda agama, bukan masalah bagi kami. Dia menerimaku apa adanya, di saat yang lain mengejek karena aku berbeda. Dari segi fisik, karena aku keturunan warga negara asing dan dari segi agama, karena aku beragama Katolik.
Tapi itu dulu. Sekarang? Rupanya kenangan itu harus kutepis jauh-jauh. Kerinduanku padanya sedang dibayar kekecewaan seperti ini.
"Because i'm kafir, isn't it?" tanyaku menebak.
Dia melirikku, bergantian dengan melirik Hpku. Lalu napasnya terhembuas panjang. Tak hanya itu, dia juga membanting punggungnya ke kursi dan memijat dahi seperti sedang mengusir pening. Jelas terlihat bahwa dia tak senang menanggapi pertanyaanku.
"Aku tahu, banyak yang nggak suka istilah kafir. Tapi memang seperti itulah yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur'an."
Oh, kali ini dia mau berbicara banyak padaku. Mungkin masih ada harapan untukku menjadi akrab dengannya seperti dulu lagi.
"That's why i don't wanna talk about it."
Tapi ternyata dia memasukkan bukunya ke dalam tas, beranjak dari kursi dan meninggalkanku pergi begitu saja.