Pukul 07.00 aku telah berada di gerbang sekolah. Aku sepertinya datang lebih cepat dari satpam sekolah, selain menjaga keamanan juga membuka gerbang sekolah.
Terlalu bersemangat sepertinya aku hari itu, hhhmm.... bisa jadi mungkin bisa jadi karena itu hari pertama menjadi siswi SMP yang terkenal sekecamatan, mungkin bahkan lebih. Karena setauku SMPN 1 Embu telah ditetapkan sebagai sekolah berstandar Nasional.
Rumah yang begitu jauh dari sekolah membuatku mengambil keputusan untuk berpisah dari orang tua. Belajar ditempat yang berfasilitas lengkap, dibandingkan sekolah-sekolah lain telah menjadi keputusan terbesar saat itu. Meski harus tinggal jauh dari orang tua.
Senyuman sumbringa selalu ku berikan kepada yang menyapa. Meski jauh aku sama sekali tidak merasa takut berada ditempat asing itu. Karena aku masih terngiang dengan ucapan salah seorang saudara ibu
"Nanti kamu ngak akan sendiri, ada saudaramu juga yang akan menjadi teman penuntun selama berada ditempat baru itu".
Dengan senyuman dan keluguan, aku memandang segala arah untuk mencarinya, jelas memang karena aku sendiri juga tidak mengenali wajah yang akan menemaniku. Ahhh.... sudahlahh
Dan sapaan itu tiba-tiba saja
"Hai kamu Tia kan? Ya jawabku lepas
"Aku Imet, senang berkenalan. Mau jalan-jalan kemana? Hari ini aku siap menjadi pembimbingmu mengelilingi sekolah.
"Ahh kemana aja Imet pergi aku ngikut aja.. hehhe".
"Ok... untuk hari pertama, kita menuju ke ruangan tes". Sip kataku. Sampai ruang tes, untuk masuk sekolah yang telah aku impikan, aku malah ketemu dengan orang-orang yang sangat asing bagiku, baik dari segi sifat atau bahkan semuanya.
Tak banyak kata yang bisa terucap ketika berada diruangan itu.
Dan tiba-tiba saja pengumuman bahwa tes akan segera dimulai.
Akhirnya Imet pamit, karena ruang tes kira berbeda.
Entah ada angin apa, tiba-tiba saja seorang anak cewek bertubuh sedikit lebih besar dengan rambut keriting datang dengan nada marah-marah memintaku untuk pindah tempat duduk. Jelas saja aku tidak mau pindah, karena yang pertama menempatinya adalah aku.
Tapi ia tetap kersih keras, memintaku pindah lagi pula ucapnya ayah dia adalah salah satu guru sekolah.
Ya sudahlahh, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah.
Tidak mau mengambil pusing dan memperbesarkan masalah.
Beberapa hari setelah tes Matematika, IPA dan IPS seleaai, pengumuman tespun keluar.
Kami semua para peserta siswa baru berkumpul di lapangan sekolah untuk mengambil hasil tes yang menegangkan.
Aahhhh aku menyelah saja, aku tak mau membukanya tanganku terlalu berat, keluhku dalam hati.
Sanpai mereka banyak yang tertawa bahagia dan kecewa aku masih saja dengan muka murung, karena takut takut kecewa dengan hasil kerja kerasku.
"Haaaa,,,, gimana hasilnya? Luluskan? " Imet tiba-tiba datang menghampiri dan melenyapkan lamunanku. " eehh met bikin kaget aja, belum buka takut ngak lulus" balasku.
"Ah masa sih kata mamaku kamu pintar, masa ngak lulus" sambung Imet kembali menyemangatiku.
Ketika amplop hasil tes itu dibuka, yang membuatku kagen bukan hasik yang menyatakan aku lulus. Aku lebih bersyukur dan sangat-sangat mensyukuri hal yang tak pernah ada dimimpiku. " Tia kamu lulus, masuk kelas unggulan lagi, wahhh berarti kita bakal sekelas dong".
"Hahahaa tenang kamu ngak bakal sendiri Tia, ada imet... ada imet, ya semoga saja", desahku sambil mengelus dada.
Waktu terus berjalan, aku sekelas dengan Imet, tapi tidak sebangku.
Ya karena ada teman Sekolah Dasarnya. Aku duduk du deret paling depan, tepat di depan meja guru bersama seorang siswi yang merupakan keturunan dari Negara onta, yup Arab. Bagiku siapapun itu tidaklah pentung yang pasti aku memiliki teman-teman baru dan akan membuatku kewalahan dalam melawan mereka dari segi akademis. Hal terspesial yang menjadi kado terindah yang Allah berikan hari itu adalah dapat menjadi salah satu yang terbaik diantara orang-orang cerdas yang sungguh tak dapat diremehkan kemampuannya.
Seiring bergulirnya waktu kami semua menikmati hari-hari menjadi siswa SMP. Menjadi murid yang diteladani oleh anak-anak lain di sekolah. Di tambah dengan kekaguman oleh guru-guru yang selalu menyanjung kami. Entah kenapa ada hal berbeda terjadi selama menginjak semester 2.
Ejekan yang bergulir, dan entah datang dari siapa dan bagaimana
Tulisan di papan tulis dan tembok kelas menjadi buktinya. Terukir namaku dan salah seorang anak laki-laki bertubuh sedang dan berkulit indonesia banget tiba-tiba saja menjadi salah satu hal menarik bagi mereka sebagai bahan ledekan.
Anak laki-laki itu tepat duduk berada dibelakang mejaku.
Kami memang terbilang dekat, mungkin sedikit tak wajar bagi anak laki-laki dan perempuan. Saling mengeluarkan ejekan nama kampung halaman masing-masing dan berbagai hal lainnya membuat kami sering jadi bahan perhatian anak-anak kelas.
Mungkin bisa jadi kedepannya nanti ia akan menjadi sesuatu yang spesial bagiku.
Takkan ada yang tau takdir kami dipersatukan dengan cara apa nantinya
"Haaa... mikir apa coba?" Imet menghentikan lamunanku. " hahhaa aku tau pasti lagi ngelamunin Setya ya? Ya kan pasti Indra Prayoga seorang anak laki-laki yang tepat duduk di belakangmu" tambahnya lagi. Mukaku seketika mengeliya dan mencoba mengelak tuduhan yang memang benar adanya.
"Iuuuhhh ngapain mikirin orang ngak penting yang selalu membuat darahku selalu naik karena tingkah anehnya yang mengganggu konsentrasi belajar"
" itu tandanya dia nyari perhatian Tasya" Imet mencoba memperbaiki penafsiranku tentang Setya.
Aku dengan santai dan tak ingin membahas itu terlalu lama, akhirnya beranjak meninggalkan Imet yang masih saja mengoceh hingga telingaku merasa terganggu.
Kutinggalkan jejak cerita yang takkan mungkin terjadi itu. Kurasa hatiku mengelak akan sesuatu, entahlah semakin bingung dengan alurnya.
Mungkin hati memang selalu seperti itu, tak pernah ia menyatu dengan pikiran. Pikiranku mencoba berlari namun hati masih saja ingin diam ditempat dan dengan cara yang sama.
Lihat saja ia si pemeran utama dalam cerita aku dan Imet, hanya berdiam diri seperti biasa di depan kantin.
Dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya. Seolah setiap anak-anak yang datang ke kankin spesial di hatinta. Aahh lucu kalau ingat mukan dan senyum manisnya, seolah dipaksa tapi tulus itu.
Benarkah semuanya spesial sebagai teman atau ada yang benar-benar spesial?
Tapi yang jelas tak pernah kumenangkap basah ia dekat melebihi teman kepada siapapun. Syukur dahhh........
Semoga saja akan selalu seperti itu sampai nanti, sampai nanti.
Entahlah... ..
Terima kasih kepada teman-teman pembaca, semoga terhibur
Jangan lupa lanjut part selanjutnya yaa.....
YOU ARE READING
KARENA AKU CINTA
Teen FictionPlagiat dilarang mampir . Yesss Mungkin hanya ada satu, dari sekian banyak masalah yang bertubi-tubi menyapa. untuknya yang hanya mengharap dimengerti dan dicintai. nyatanya Tasya memiliki harap yang terlalu tinggi. hanya untuk sekedar dipahami oleh...
