"GAVIN!!"
Panggilan bernada tinggi itu membuat Gavin yang tadinya berlari seketika berhenti ditempatnya. Cowok dengan setelan seragam putih abu-abu dan sepatu adidas perlahan menolehkan kepalanya. Wajahnya sudah memasang sebuah cengiran lebar.
"Gila ya lo! Kasih permen karet dikursi gue!" ujar seorang gadis dihadapannya. "Untung mata gue masih normal! Mau lo apa sih?!"
"Apasih, Mel? Lo juga gak papa kan? Rok lo juga gak kotor," sahutnya dengan santai.
"Awas aja ya, sampe lo isengin gue lagi!" ancam gadis itu.
Gavin membulatkan matanya seolah-olah ia terkejut dengan ancaman gadis yang bernama Mella. "Wow, takut nih gue."
"Iihhh, dasar Gavin gilaaa!!!" pekiknya.
"Bodoamat, Mel!" sahutnya sambil berlari meninggalkan gadis yang masih menyimpan dendam padanya.
Kali ini langkahnya terhenti ketika dua pasang matanya menangkap seseorang yang tengah berada di lapangan basket. Dia sedikit menyipitkan matanya guna memperjelas penglihatan.
Laki-laki itu menjentikkan jarinya dan tersenyum jahil. Dia kembali berlari menghampiri seseorang yang kini tengah bermain basket sendirian. Derap langkahnya membuat orang yang berada di tengah lapangan itu menoleh.
"Woy Wildan!" panggilnya.
"Ngapain lo?" tanya orang tersebut seraya berhenti memainkan bola basketnya.
"Gue cariin taunya ada disini."
Bukannya menjawab pertanyaan dari orang tersebut, Gavin justru menyahut tanpa memberikan jawaban. "Tadi gue disuruh Bu Windi buat cariin lo."
Wildan mengernyit bingung, pasalnya hari ini ia tak membuat masalah dengan guru gempal itu.
"Lo disuruh ke ruangannya sekarang," lanjut Gavin.
"Apaan? Gue hari ini gak buat masalah sama dia ya."
"Udahlah, lo kesana aja. Dari pada singa tua itu ngamuk sama lo kan lebih serem lagi."
Akhirnya Wildan pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Gavin. Dia berjalan meninggalkan Gavin yang saat ini tengah menahan tawa. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan sahabatnya terima karena ulah usilnya ini.
Wildan sebenarnya tahu tingkah usil Gavin yang sudah terlewat batas. Dan entah karena apa hari ini ia mempercayai ucapan Gavin. Biasanya dia akan masa bodoh dengan sahabat seperusilannya.
"MANDALA GAVIN PRADIKA!!!"
Gavin yang tengah asik bermain basket pun seketika berhenti dan membulatkan matanya. Ternyata ditepi lapangan telah ada Wildan dan Bu Windi. Jangan lupakan wajah mereka yang sudah memerah. Gavin hanya bisa memasang senyum terbaiknya.
"Eh, Bu Windi yang cantik ada disini," ujarnya mencoba mencairkan suasana.
Gavin melirik Wildan yang saat ini tengah tersenyum kemenangan dibelakang Bu Windi.
"Bersihkan toilet sekolahan selama satu minggu!!" titah Bu Windi pada Gavin.
"Loh, gak bisa dong Bu. Saya gak ada salah," sangkalnya.
"Siapa bilang?! Kamu udah ngehina ibu. Mengatai ibu seperti singa tua!"
Kali ini Gavin hanya bisa memasang wajah cengohnya. Setelahnya ia tersadar, pasti ini ulah Wildan yang mengadu pada Bu Windi. Gavin kembali melihat kearah Wildan yang mengucapkan kata mampus tanpa suara.
"Tap-"
"Apa lagi?" potong Bu Windi ketika Gavin akan memberi alasan. "Dua minggu bersihkan toilet sekolah!"
"Kok nambah sih, Bu?"
"Buaahahaha, rasain lo!" tawa Wildan sudah tak bisa ia tahan lagi.
"Sama kamu juga, Wildan!"
Damm! Tawa Gavin sekarang yang terdengar ditengah lapangan basket tersebut.
"Gak bisa gitu dong Bu. Kan yang ngatain singa tua cuma Gavin, Bu."
"Ibu gak peduli. Bersihkan sekarang sampai dua minggu kedepan!" ulangnya dan pergi meninggalkan dua siswa jahilnya di tengah lapangan.
Inilah kisah seorang Mandala Gavin Pradika. Kehidupannya di sekolah tak lepas dari hukuman. Bukan karena ia nakal ataupun sering melanggar aturan, hanya saja sifat usilnya yang keterlaluan membuatnya sering mendapatkan hukuman.
***
VOCÊ ESTÁ LENDO
GAVIN
Ficção AdolescenteTo : Mandala Gavin Pradika From : Reina Aviarysta Kini aku sadar, kenapa perasaan nyaman ini muncul bahkan sebelum aku mengenalmu lebih jauh. Semuanya telah terjawab. Kamu beda. Beda dari dia yang dulu pernah ada dihidupku, sampai akhirnya dia mengh...
