Chapter 7: Mimpi itu lagi

1.7K 52 0

  Srek...srek...srek...srek...

  Aku mengenal suara itu. Seperti suara tubuh yang bergesekan dengan lantai. 

  Srek...srek...srek....

  Aku menajamkan pendengaranku, sambil mengamati telapak tanganku yang tergores pisau

  Srek...srek...srek..

  Suara itu terdengar mendekat dari arah dapur. Aku hanya berdiri mematung di sana, ingin menyambut kedatangannya yang tak diundang. Namun, aku terkesiap ketika mendapati sosok itu yang tampak familiar. 

  " Se..la...matkan...diri..kal..ian" Ucap sosok itu sambil memandangku dengan pandangan berkaca kaca. 

  Apa apaan ini? Kenapa seluruh ruangan berubah, dan kenapa telapak tanganku terasa sangat perih. Disebelahku, berdirilah tiga manusia yang tampak kaget dengan kehadiran sosok mengenaskan itu. Sosok itu tak memiliki sepasang kaki, membuat dua anak manusia itu menjerit ketakutan. 

***

  Dinyalakannya unggun api itu, membuat sekujur tubuh terasa hangat dan nyaman. Aku memainkan bercak bercak darah yang mengering di telapak tanganku. Ada bekas goresan disana yang membuat sepasang alisku bertautan hingga menumbuhkan tanda tanya di dalamnya. Sejak kapan telapak tanganku terluka?

  " Aku lapar, hiks,,," Rintih anak perempuan itu, sambil memegangi perutnya yang masih kosong

  " Beruntunglah kau karena belum memakan daging menjijikkan itu" Jawabku dengan ketus, sambil merebahkan tubuhku di gumpalan jemari

  " Bisakah kalian diam!" Perintah seorang anak laki laki yang duduk tepat disebelahku, lalu mengintip dari balik semak semak

  " Ada siapa disana?" Tanyaku heran dengan tingkahnya yang sok pemberani itu

  " Kakek.." Bisiknya lirih hingga membuat ku bergidik ngeri

  " Apakah kakek mengikuti kita?" Tanya anak perempuan itu dengan memelankan suaranya

  Anak laki laki itu hanya menggaguk pelan, lalu meletakkan sebuah kunci di pangkuanku. Aku mendelik kesal, ketika sebuah tangannya menjulur tepat di hadapanku. 

  " Aku tahu dimana kita harus pergi, raihlah tanganku dan mari kita temukan rumah itu" Ucapnya dengan bijak

  DEG

  Aku merasakan sesuatu yang hangat menjalar di tubuhku. Bukan karena api unggun itu, tapi karena sebuah tangan yang tiba tiba saja meraih tanganku dan menariknya hingga tubuhku bangkit dengan goyah

  " Apakah kau ingat rumah lama kita?" Tanya anak laki laki itu pada anak perempuan yang berdiri tepat di sebelahku 

  " Oh aku ingat. Tapi kan jauh ya?" Tanya anak perempuan itu lalu menundukkan kepalanya dalam dalam

  " Iya, tapi tidak jauh jauh amat kok. Aku ingat jalannya dari sini ke sana." Ucap anak laki laki itu yang membuat anak perempuan itu tersenyum senang

Hai readers^^ maaf ya telat upload. Binggung mau ngelanjutin dari mana dulu. Dan maaf banget ya kalo ceritanya pendek.

Next chapter >>>>

Horor GameBaca cerita ini secara GRATIS!