For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

Chapter 11: Cerita seorang kakek 2

1.2K 56 5

Kakek Pov

  Kulangkahkan kakiku perlahan, mendekati seorang anak laki laki yang terlihat ketakutan. Tubuhnya bergetar dengan hebat, lalu terduduk di atas lantai yang berdebu. Aku hanya tersenyum menyeringai, lalu menendang tubuh kecilnya dengan keras hingga jatuh tersungkur. Anak laki laki itu meringis sejenak, tangan kanannya menggegami bagian kepalanya yang sakit, dan tangan kirinya ia gunakan untuk menumpu berat tubuhnya. 

  " Kau tak akan bisa melarikan diri dariku, anak kecil!" Ucapku dengan suara yang terdengar serak, membuat suasana semakin mencekam

  Anak laki laki itu berdiri perlahan, masih sambil memegang bagian kepalanya yang sakit. Sudut bibirnya bergerak keatas, membentuk sebuah senyuman yang tak bisa diartikan. Ia melangkah ke depan, menatap kedua mataku dengan tajam. 

  " Kau salah kakek, kau yang tak akan bisa lolos dariku" Ucap anak itu, masih dengan senyumannya yang sulit diartikan

  Dan sedetik kemudian, kedua tangannya yang kecil itu merebut kapak yang masih berada di genggamanku, lalu melayangkannya tepat di ujung kepalaku dan membelahnya menjadi dua bagian.

 Gelap

   Kini, tubuhku terjebak di dalam lemari. Mencari bantuan dan perhatian kepada manusia manusia di luar sana, namun nihil. Hanya sebagian manusia saja yang bisa mendengar jeritanku, namun tak digubrisnya dan menggangap semua itu hanya imajinasi semata. 

  Saat di hari pertama kematian, aku merasa hampa. Semua memoriku hilang dan sulit untuk diingat ingat. Aku tidak ingat apapun, tidak ingat siapapun, tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi, tidak ingat berada di mana sebenarnya diriku ini. Aku kira, dunia ini hanya gelap dan tak terbentuk. Namun, sebuah mimpi mimpi yang mengingatkanku kepada peristiwa itu muncul dalam tidurku. 

  Hari dimana mimpi mimpi itu muncul. Aku ingat siapa sebenarnya diriku, aku ingat kepada dua cucuku, aku ingat peristiwa peristiwa itu, aku ingat berada di mana sebenarnya diriku ini. Hingga aku tersadar bahwa ada sebuah kunci kecil yang tersimpan di dalam saku bajuku. Entah kunci siapa dan kunci apa itu sebenarnya. 

  Selama seharian penuh, waktu ku hanya kuhabiskan untuk mencari cari lubang kunci. Meraba raba sana sini, menemukan beberapa tumpuk baju yang terasa kasar. Menemukan selembar kertas yang entah tertulis apa di dalamnya.Menemukan debu debu yang membuat hidungku gatal. Hingga akhirnya ujung ujung jariku menemukan sebuah benda berbentuk bulat yang terasa dingin.  Aku ingat bagaimana bentuk lubang kunci yang seringkali kulihat, tak berbeda jauh dari apa yang kutemukan kali ini. Kumasukkan kunci itu pada lubang kunci, dan kuputar putar hingga menimbulkan suara cklek di dalamnya. Dan pada saat itu juga, aku bisa mendengar sebuah percakapan antara Dea dan seseorang yang tak kukenali.

  " Apakah kau hanya ingin berdiam diri disitu tanpa melakukan sesuatu?" Tanya orang asing

 " Lalu, apa yang ingin kau lakukan, mengajakku bermain dan menyiksa manusia manusia itu lagi?" Tanya Dea dengan suaranya yang terdengar ketus, membuat sebelah alisku terangkat.

  Jadi, anak itu suka menyiksa manusia.

" Aku baru akan puas jika kita mendapatkan delapan buah mata lagi." Jawab orang asing itu lagi, membuat mataku terbalalak kaget

" Kau gila! sejak kapan kau menyukai bola mata?" Tanya Dea

 " Aku baru sadar bahwa bola mata itu sangatlah indah, dan lidahku terasa licin ketika menjilatnya" Ucap orang asing

  Ide bagus, aku akan mencobanya jika ada waktu

 " Ekkhhh.. kau sangat menjijikkan" Ucap Dea 

 " I..ini sangat lengket dan lembek" Ucap orang asing itu

Dan beberapa detik kemudian

" Yahh... bola mataku hancur, sepertinya kita harus menemukan sembilan buah bola mata lagi" Ucap orang asing , membuatku tertawa tertahan

  Namun, aku sadar bahwa pintu lemari ini sangat sulit sekali untuk dibuka. Berkali kali kedua tanganku mendorong pintu lemari hingga terdengar suara gaduh yang membuat pembicaraan mereka terhenti. Aku tahu mereka akan mendekatiku dan menjadikanku korban selanjutnya, tapi aku tak peduli karena mungkin merekalah yang akan terkejut setelah melihat diriku yang sebenarnya. 

  Dan ketika pintu lemari berhasil dibuka, tanganku lah yang terlebih dahulu keluar. Merasakan udara segar yang selalu kurindukan. Dan, entah darimana sebuah kepala yang tampak menyeramkan mengelinding di hadapanku. Membuatku tersentak kaget dan kembali meringkuk di dalam lemari. Namun, aku baru menyadari bahwa pemilik kepala itu adalah cucuku. Cucu perempuanku yang kupotong potong tubuhnya untuk makan malamku. 

  Aku mengeluarkan tubuhku dari dalam lemari, merasakan angin yang berhembus menabrak kulitku yang pucat. Namun, entah darimana seorang anak yang sepertinya berusia sembilan tahun itu berdiri dibelakangku sambil berkacak pinggang. Aku terdiam sejenak, memperhatikan anak itu lalu menceritakan semuanya pada anak itu.

***

Dea Pov

  " Jadi, begitu ceritanya?" Tanyaku sambil memainkan ujung ujung jariku 

  Kakek itu mengganguk, membuatku teringat akan hal sesuatu yang belum diceritakan oleh kakek itu

  " Bukankah kakek pernah bilang bahwa kakek jadi memakanku?" Tanyaku lagi yang disambut oleh gelengan kakek

  " Tentu saja tidak, aku hanya bercanda " Ucap kakek kemudian, membuatku mengganguk paham

  Rini yang sedari tadi hanya menikmati minumannya itu berdiri sejenak. Memperhatikan wajah kami berdua satu satu. Entah apa yang kali ini berada di pikirannya. Sedari tadi, ia hanya terdiam tanpa mengeluarkan sedikit katapun. Yang ada hanya suara ketukan jarinya pada meja yang rapuh.

  " Kau kenapa, Rini?" Tanyaku denga hati hati, membuatnya menatapku sejenak lalu berlari ke suatu tempat

  " Mungkin, ia teringat akan masa lalunya" Ucap kakek, lalu menikmati minumannya yang telah disediakan di atas meja

  Sepertinya, aku belum mengetahui apapun tentang masa lalu Rini. Setiap kali aku bertanya akan hal itu, Rini menampakkan wajah cemberutnya dan mendiamkanku selama beberapa jam. Tentu saja hal ini membuatku hampa dan kesepian. Tapi, kali ini ia harus menceritakan masa lalunya kepadaku. Aku tidak ingin menjadikannya arwah penasaran yang hobi menyiksa manusia. Aku ingin membantunya, menyelesaikan masalahnya yang hingga kini belum terpecahkan, dan membantunya menuju ke tempat yang seharusnya ia berada.

Yay! akhirnya selesai juga chapter yang ke-sebelas ini. Makasih banyak ya bagi yang telah membaca, dan vomment cerita ini.

Next chapter >>>>>>>

Horor GameBaca cerita ini secara GRATIS!