part 2

27 2 0
                                        

"kakak panggilnya Rabel aja ya, lucu kayaknya" gadis kecil yang dimaksud menatap sang kakak garang . "Gak au, panggil Abel pokonya " ujar gadis itu, "tapi dek Rabel lebih lucu" anak laki laki itu tersenyum kecil kala telah berhasil menggoda adiknya, dia tidak sungguh-sungguh, dia hanya senang melihat adiknya merajuk. "Mama...... Kak tata akal," gadis kecil itu berlari menghampiri mamanya, memeluk lutut wanita itu.

"Sayang," Nabel tersentak kala merasakan tepukan halus dipundaknya , "iya ma?" Tanyanya beralih menatap sang mama. Wanita itu mengerti apa yang dialami gadis ini, gambaran masa kecil selalu menjadi bunga tidur gadis kecilnya, hingga membuat gadis itu bingung dan memikirkan nya. Namun, dia tidak bisa menjelaskan apa2. waktu itu gadis ini masih sangat kecil jadi wajar jika dia lupa. Namun akan dibuat nya gadis ini ingat. Nanti bila waktunya tepat.

"Woii" Arta tersentak kala teman temanya datang dan menepuk pundaknya cukup keras. Dia mendengus sebal. "Lo kenapa sih diem aja?" ucap Adam. Namun cowok itu tidak perduli asik dengan pikirannya sendiri. Matanya lurus memandang ke depan namun bukan objek didepan matanya lah yang ia pandang, objek lain yang masih melekat pada ingatannya.
"Woii, Lo ngapa sih? Ngelamun mulu perasaan" ucap Dion. Saat dilihatnya cowok itu hanya melirik sekilas membuatnya mendengus keras. "Gak ada gunanya kita disini, mending cabut. Gue cabut aja, Lo pada juga cabut gak faedah banget nungguin orang nglamun" Dion menyambar tasnya yang tergeletak di tanah dan berlalu pergi, yang diikuti teman teman lainnya. Rangga tidak ikut pergi cowok itu ikut duduk disisi Arta. Menikmati semilir angin yang bertiup disekitar lapangan futsal itu. Rangga mengerti Arta ada masalah, tepatnya masalah pada hatinya. hatinya yang belum mau berdamai dengan masalalu. Rangga tidak tau masalalu macam apa yang temannya ini lewati tapi dia mengerti bahwa itu cukup sulit. Rangga merasakan getaran disaku celananya, cowok itu merogoh benda pipih itu dan melihat pesan masuk dilayar ponselnya. Cowok itu tersadar bahwa dia harus segera pergi bila tidak ingin mendengar ocehan mamanya karena telat menjemput aga sang adik. Rangga menatap Arta sekilas cowok itu masih asik dengan bayangan masalalu rupanya. Cowok itu menepuk bahu Arta pelan berusaha mengalirkan semangat pada sohibnya. "Gue cabut dulu ya, Lo juga harus cepet balik" sukses Arta beralih menatap Rangga, cowok itu ikut tersenyum saat temannya menyunggingkan senyum padanya.
"Jijik GA, gue bukan bocah" ucap Arta dengan pandangan jijik.
Rangga terkekeh saat mendengar jawaban sohibnya, lalu cowok itu menyambar tasnya. "Gue duluan" ucap cowok itu sebelum benar2 meninggalkan Arta sendiri. Arta mengangguk dan tersenyum memberi restu atas kepergian temannya.

"Kita mau kemana mah?" Tanya nabel saat sudah memasang seatbeltnya.

"Nanti juga kamu tau sayang" ujar mama dengan senyum manisnya.

Nabel diam. Tau takkan mendapat jawaban dari mamanya. Namun saat mobil sedan putih yang ditumpanginya memasuki perumahan elite cewek itu kembali menatap sang mama.

Masalahnya gerbang berwarna krem yang berdiri angkuh, bak raja dibanding gerbang gerbang lainnya, membuatnya yakin kalau tempat yang dimasukinya tempat orang orang kelas atas.
Di gerbang itu dituliskan 'NIRVANA' yang pastinya adalah nama dari perumahan elite itu.

"Sebenarnya kita mau kemana sih Ma?" Tanya gadis itu, matanya fokus melihat pemandangan yang dilewatinya. Rumah yang dibangun disana unik. Nabel yakin perumahan disana dirancang oleh perancang ternama.

Nabel ternganga saat mobil yang ditumpangi dia dan mamanya memasuki salah satu pekarangan rumah disana. Desainnya cukup unik.

Gerbang rumah itu menjulang tinggi berwarna putih. Pagar pagar lurus tanpa sekat menyamping selain pada bagian atas dan bawah. Tanpa sadar nabel terkikik geli saat dirinya membayangkan maling yang akan berusaha masuk kerumah ini akan gagal menaklukkan gerbang angkuh itu.

Saat dirinya memasuki gerbang matanya kembali dimanjakan oleh keindahan taman kecil yang ada disamping kanan halaman rumah itu. Ada air mancur disana beserta patung sepasang angsa ditengah tengah kolam. Sedangkan disisi kiri, nabel yakin bahwa disana tempat parkir mobil, sebagian dari sisi kiri juga ada lapangan kecil. Lapangan apa nabel tidak tau.

"Ayo masuk sayang" nabel membulatkan matanya saat dirinya melihat apa yang dilakukan mamahnya. Mama membuka pintu utama rumah itu.

"Apa yang mama lakukan?" Desisnya pelan. Takut sang empunya rumah mendengar.

"Selamat pagi nona" sambut wanita paruh baya

Nabel tersentak. Dirinya mengelus dada pelan saat yang dilihatnya wanita paruh baya berpakaian seragam. Nabel yakin kalau wanita itu hanya dipekerjakan dirumah besar ini.

"Gimana kabarnya Bi Mina?"
Tanya mama nabel.

"Baik non, baik" lalu orang yang disebut bi Mina itu menikah menatap nabel.

"Ini non nabel ya nya?" Mama nabel mengangguk.

"Udah gede, jadi cantik ya nya" ucap bi Mina.

"Oh ya sayang, kenalin ini bi Mina"

Nabel mengulurkan tangannya menjabat tangan wanita itu.

"Nabel" ucap nabel, tersenyum canggung.

"Ayo silahkan masuk non, nya kita ngobrolnya didalam"

SorryStories to obsess over. Discover now