Dia lagi

559 40 17
                                        

Maaf Typo.. hehe..

SELAMAT MEMBACA...😊😊😊

Gelsa PoV

"Ma, baju ku dimana?.." Gue berteriak sambil mencari baju sekolah satu persatu di lemari, dan mencari di tumpukan baju yang belum di seterika.

"Di belakang pintu sa." Jawab mama sambil berlarian dari dapur ke meja makan, kayak chef yang lagi kompetisi gitu.

"Ma... kaos kaki ku ga ada.." Teriak Leo, adik cowok gue yang super duper nakal. Dia malas banget, ga peduli sama sekolah, dan masa depan nya. Mungkin, karena dia masih kecil kali ya?.

"Mama, dasi papa yang warna dongker kok ga ada?." Itu papa gue, papa... ya sama saja sama kita berdua suka lupa dimana tempat letakin barang-barang.

"Aduh., cari aja dulu, di tempat biasa Leo. Dasi papa di meja kerja, udah mama siapin." Jawab mama kesal, karena hal seperti ini yang dihadapinya setiap hari.

Semuanya udah beres dan siap untuk sarapan. Gue, Leo, dan papa udah di meja makan. Mama masih beres-beres dapur, yang udah berantakan kayak perang dunia ketiga.

"Ayo cepat makan, ntar terlambat. Kalau terlambat lagi, papa ga mau ke sekolah urus masalah kamu. Papa malu ketemu sama buk Gita, hampir tiap minggu ketemu hanya untuk ngurus keterlambatan kamu. Jadi, ayo cepat makannya." Ujar papa gue sambil ngoles roti pake selai cokelat kesukaannya.

"Ya pa, dengan kecepatan 4G lte ++, Gelsa akan cepat makannya." Jawab gue sambil ngehabisin roti gue yang tinggal sepotong lagi.

Ya, belakangan ini gue sering telat, sampai-sampai udah banyak surat peringatan sama surat untuk orang tua yang gue terima. Ini karena gue harus begadang semalaman menyiapkan materi untuk olimpiade biologi gue.

Di sekolah gue masuk organisasi atau semacamnya dibidang olimpiade, ya bidang gue di biologi. Dua bulan lagi gue harus ikut OSK, guru pembina gue sangat mengharapkan gue untuk menang, jadi gue harus berusaka keras untuk persiapan OSK nya.

"Aku duluan ya ma, papa, dan lo Leo." Ujar gue sambil mengambil tas yang gue gantung di pegangan pintu kamar gue. Gue bersalaman sama mama dan papa, dan langsung lari keluar rumah.

Gue harus berjalan keluar kompleks, gue harus naik bis di halte depan kompleks. Sebenarnya sih bisa naik Ojek online, tapi gue ga mau, ntar rambut gue rusak terbang-terbang kena angin, sampai di sekolah gue udah kayak nenek sihir naik sapu terbang. Hehe...

***

"Gelsa, tungguin gue dong."

Gue dengar ada yang manggil-manggil nama gue, gue menoleh kebelakang, dan ternyata, ya.. dia lagi, dia lagi.

"Cepetan, udah hampir telat woi." Jawab gue kesal sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan gue.

"Iya, sabaran dikit napa?." Jawab Miko sambil terang-engah dengan napas yang hampir habis, kayak orang udah sekarat mau mati.

"Lo lama amat sih, ntar gue telat lagi, gue malu sama buk Gita. Masa gue harus kena marah terus gara-gara terlambat, kan ga lucu. Papa gue ga mau ke sekolah untuk ngurusin masalah gue. Ntar kalau gue di skors gimana? Kayak anak-anak geng hitam itu! Dan juga, gue ga mau kayak lo yang telat terus. Sorry gue ga mau..blablablaaa." Gue menjelaskan kepada dia dengan panjang lebar kali tinggi bagi dua sin 60 tan 25 limit 2x+5. Hehe..

"Iya, iya, kan ga sampai telat kaleeeee." Jawaban yang selalu gue dengar tiap mau masuk gerbang. Fiuuh...

Gue dan Miko jalan berdua memasuki gerbang sekolah, dan melewati lorong. Kami menuju ujung lorong dan menepi ke kanan untuk absen dengan finger print yang udah di siapin untuk siswa. Kami harus antri dan menjaga kesabaran karena, antrian nya panjang banget. Gue benci banget kalau udah panjang banget, ntar bisa-bisa gue telat, belum absen udah bunyi bel... ya tuhan jangan sampai....

"Gue di depan lo ya." Perintah gue ke Miko sambil menyelip kedepannya.

"Eh eh, ga ga, gue ga mau. Kita itu harus membudayak mengantri, ga bisa ga bisa. Lo di belakang gue."Jawabnya sambil narik gue kebelakangnya.

"Lah, kan cuma gue aja, kan ga ada yang lain, cuma satu orang ko, satu orang., jadi please......" gue memohon sama dia. Sebenarnya sih ga mau, tapi karena terpaksa, jadi gue harus ngerendahin harga diri gue satu tingkat, demi nama baik gue yang seribu tingakat.

"Aaaahh, iya deh, tapi kali ini aja. Sebenarnya sih gue ga mau." Ujarnya sambil berpaling tadi tatapan gue.

"Uuuhhhh,, makasih Miko ganteng." Jawab gue sambil mencubit lengan kirinya.

"Iya iya... maju, udah giliran lo tuh." Tunjuk dia sambil ngeliat ke depan gue.

"Oh, okee bos." Gue mengancungin jempol ke depan wajahnya dan berbalik ke depan finger print.

Gue dan Miko udah siap absen pagi. Gue dan Miko harus terpisah, karena kelas kami beda gedung. Gue di gedung Barat, dia di gedung timur. Gue mengangkan tangan dan melambai kepadanya dan senyum denagn senyum manis gue. Dia hanya melambai dan ga mau melihat gue. Ya udah Ko, nanti lo baikan juga sama gue..

Gue masuk ke kelas, belajar seperti biasa, istirahat, belajar lagi, dan pulang. Sebuah siklus yang harus dihadapi setiap hari tanpa henti, kecuali, ya hari minggu dan hari libur, dan tentunya sakit dan pergi lomba atau ada keperluan keluarga yang mendadak.


***

Miko PoV

"Untung dia cewek, kalau cowok udah gue sikat tuh anak, pake sikat gigi, biar bersih tu mulut sekalian. Pufttt...😆." Gumam gue sendiri sambil jalan ke kelas.

Walaupun kadang dia ngeselin, tapi dia sebenarnya baik, hebat dan tampang? Lumayan lah.. hehe..

"Tumben lo datang cepat Ko, biasanya baru jam ke-3 masuk kelas." Ledek teman gue yang namanya kaya pemain sepak bola yang terkenal itu, Ronaldo.

"Emang ga boleh ya kalau gue masuk pagi-pagi?" Jawab gue kesal sambil berjalan ke tempat duduk gue di bagian pojok kanan nomor dua dari belakang.

Gue kesel sama dia, tiap kali gue datang cepat ke sekolah, pasti di ledekin gue terus. Aaah, ngeselin banget...

Guru pelajaran pertama udah masuk, selama 90 menit, berganti dengan guru mata pelajaran kedua. Begitu seterusnya sampi istirahat tiba dan pelarajan dilanjutkan dan akhirnya pulang.

***

Jangan lupa vote dan coment ya..😊

Jangan pelit sama VOTE ya..





HESITANTStories to obsess over. Discover now