"Over and over again....
Hmmmm...
Over and ov-"
"RAQUEL!"
Raquel melepas earphone yang ia pakai dengan volume rendah saat mendengar sebuah suara memanggilnya.
Ia memutar badannya kebelakang, ke arah suara yang tadi memanggilnya dengan volume tidak santai.
"Lu manggil gue?"
Perempuan yang ditunjuk Raquel menganggukkan kepala layaknya anak kecil. Raquel berjalan mendekat kearah orang tersebut.
"Gue gak budeg kaya lu, jadi gak usah teriak-teriak." perempuan yang dimaksud malah cengengesan menampakkan deretan giginya.
Ia terkadang bingung. Sebenarnya, makhluk yang berada didepannya ini mengerti atau tidak bila ia sedang berbicara. Tetapi Raquel selalu berpikir positif dan menerimanya, buktinya saja Raquel mampu bertahan duduk sebangku bersama makhluk ini sejak kelas 8 SMP, dan sekarang ia sudah menduduki bangku kelas 11 SMA.
Aleshia. Sifatnya tidak sebagus namanya. Ale biasa dia dipanggil ini dikenal dengan kupingnya yang rada kurang mendengar, sebut saja budeg dan otaknya yang sering telmi, bukan sering, tapi selalu telmi.
Sebenarnya dia itu mendengar apa yang dikatakan orang atau saat dia dipanggil, hanya saja dia terlalu malas untuk menjawab dan menoleh. Makanya dia diberi julukan budeg oleh teman-temannya. Tapi kalau soal urusan menguping pembicaraan orang lain, kuping dia sangat teliti untuk mencerna kalimat demi kalimat yang sedang dibicarakan.
Dan untuk masalah dia yang telmi, itu hanya dia dan Tuhan yang tau.
"Malah nyengir lagi, ada apaan lu manggil gue? Waktu lu 1 menit buat menjawab."
Raquel memperhatikan detik demi detik jarum jam yang bergerak di jam tangan yang tertempel di pergelangan tangannya.
"Waktu lu habis! Udah ah, pergi sana lu, kembali ke tempat asal lu." Raquel mengibas-ngibaskan tangannya, maksud hati ingin mengusir Ale pergi, tapi yang diusir tidak peka sama sekali.
Aleshia memasang puppy eyes andalannya.
Bukannya terlihat menggemaskan, dia malah terlihat menjijikkan dimata Raquel.
"Gu-gu-e..." Raquel dengan sabar menunggu kata demi kata yang diucapkan.
"Gu-gu-gue... Gue kebelet pipis, anterin yuk, El, plisssssss banget!!! Dikelas gak ada yang mau nganterin." Ale langsung berlari sambil menarik tangan Raquel menuju kamar mandi perempuan.
"Dua menit, lama gue tinggal beneran!" Ale langsung masuk kesalah satu bilik kamar mandi.
Raquel mengeluarkan handphone dari saku bajunya. Ia membuka kontak dan mencari nama teman sekolahnya, ia menimang nimang siapa orang yang pas dalam situasi seperti sekarang.
Raquel menjentikkan jarinya. Catelyn.
Kenapa gue gak kepikiran dia daritadi, sih?
Raquel langsung menghubungi nomor Catelyn.
"Hal-"
"Lu dimana?"
"Bego tuh jangan dipelihara! udah tau gue dikelas, pake nanya segala!" omel Catelyn dari ujung sana.
Catelyn heran, Raquel ini sudah tahu bahwa Catelyn berada dikelas, tapi tetap saja dia masih bertanya.
Raquel menepuk jidatnya. Habis sudah dia, pasti dia nanti akan menjadi bahan ejekan oleh Catelyn.
"Lu bisa kesini sekarang gak? Gue lagi butuh bantuan nih."
"Ban-"
"Udah, pokoknya lu cepetan kesini, gak usah banyak tanya!" sekarang gantian Raquel yang kesal.
"Ribut yuk, El! Lu tuh dari tadi cuman nyuruh gue ke situ terus, tapi lu gak ngasih tau kalo lu lagi dimana, kumat, kan! Udah minum obat belom sih?! Mit amit gue bisa kenal orang macem lu!"
Raquel menepuk jidatnya lagi. Kenapa ia bisa menjadi sebodoh ini? Ini semua pasti gara-gara Ale yang menarik paksa dirinya kesini.
"Gue dikamar mandi, lu tau sendiri kan gue mau kampanye tertutup hari ini, gc yah gue butuh lu banget nih."
Catelyn mengerutkan keningnya. Sumpah. Ia bingung dengan maksud Raquel.
"Lu mau kampanye tertutup tapi kenapa ada dikamar mandi? Kan aturan lu ada diruangan OSIS? Emangnya sejak kapan ruangan OSIS pindah ke kamar mandi?" tanyanya yang kemudian berjalan meninggalkan kelas yang sedang tidak ada guru. Tidak perlu izin kepada ketua kelas. Toh yang menyuruhnya ketua kelas ini.
"Ruangan OSIS gak pindah pea! Udah, intinya gc Cet gc,"
Catelyn mumutar malas kedua bola matanya.
Always Cet.
"Berisik! Gue udah didepan!"
Catelyn mematikan sambungan teleponnya dan langsung masuk kedalam toilet untuk menghampiri Raquel.
Raquel merasa lega saat tahu Catelyn sudah berada didepan pintu, tapi ia heran, mengapa Catelyn bisa sampai secepat ini?
Raquel menengok saat mendengar bunyi pintu utama kamar mandi dibuka.
"Lu lam- eh sorry, gue kira temen gue." Raquel meminta maaf tidak enak. Hampir saja ia memarahi kakak kelas yang baru masuk kedalam kamar mandi.
Raquel langsung terdiam seketika. Ia lupa memberitahu Catelyn, bahwa ia sedang berada di toilet perempuan kelas 12 yang letaknya di lantai dua.
Pantas saja yang masuk barusan adalah kakak kelas, terlihat dari lambang XII berwarna biru yang tertempel dilengan baju sebelah kirinya.
Dddrrrtttt... Drrrtttt...
Handphone Raquel bergetar. Tertera nama 'Cettembok' di layar handphonenya.
"Lu dimana pea! Gue udah di kamar mandi nih!"
"So-sorry, gue dikamar mandi kelas dua belas."
Catelyn membelalakan matanya kaget. Bisa-bisanya Raquel tidak memberitahu. Catelyn berjanji, dia akan menjitak kepala Raquel bila bertemu.
Catelyn menuruni anak tangga dengan terburu-buru disertai dengan umpatan yang keluar dari mulutnya.
Brakk...
Catelyn terjatuh, ia dapat melihat beberapa buku terjatuh juga tepat didepannya.
"Ih! Lu tuh kalo jalan liat-liat kek! Punya mata gak sih?!" omelnya tanpa melihat siapa yang ia marahi.
Catelyn bangun dan merapikan pakaiannya, pandangan Catelyn masih fokus kebawah, melihat-lihat apakah roknya kotor atau tidak.
Ia mengernyitkan dahinya saat melihat sepatu orang yang menabraknya. Sepatu itu, sepatu yang sangat tidak biasa bila dibandingkan dengan sepatu murid-murid yang lain.
Catelyn akhirnya tersadar.
Keringat dingin langsung bercucuran di tubuh Catelyn saat melihat dan memperhatikan sepatu tersebut.
Jangan-jangan dia...
Catelyn mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang tersebut.
.
.
.
.
.
.
"IKUT KERUANGAN BAPAK SEKARANG!"
Mampus gue!
🍂🍂🍂
New story yeayyy :v semoga suka sama aku. Eh? Maksud aku, Suka sama cerita yang aku buat.
Semoga aja cerita ini gak males-malesan kaya cerita yang onoh dan cepet kelar:v
Salam lopelope dari kembaran selena gomez 💕
Tangerang, 14 Desember 2017
YOU ARE READING
FriendShit
Teen FictionIni cerita tentang tiga orang perempuan. Raquel yang humble. Catelyn yang terkesan jutek. Dan, Ale yang sedikit 'lemot'. Banyak perbedaan memang. Tapi, bukankah perbedaan yang membuat sebuah persahabatan menjadi seru? Cover by: alpredy.
