Prolog

91.4K 2.3K 80
                                        

Mobil hitam melaju santai menuju sebuah tempat. Mobil berplat AB itu berhenti di depan sebuah Universitas.

"Abi, Una berangkat dulu, ya? assalamu'alaikum." Kata seorang gadis bernama Husna yang biasa dipanggil Una. Gadis shalehah itu mencium tangan Abinya kemudian keluar dari mobil.

"Wa'alaikumsalam." Jawab Usman--Abi Husna--

Hari ini Husna mendapat jatah kelas siang. Tapi ia sengaja berangkat pagi, entah apa alasannya. Husna menempa ilmu di salah satu Universitas Islam di Yogyakarta.

"Assalamu'alaikum." Husna memberi salam kepada ketiga sahabatnya, yaitu Novi, Illa, dan Ica. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMK.

"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka bertiga.

"Ke kantin yuk, aku laper nih." Kata Novi, Novi adalah tipe orang yang makan banyak tapi tidak bisa gemuk, karena metabolisme tubuhnya yang bagus.

"Ya Allah, Novi, masih pagi kok udah laper." Kata Ica. Novi hanya nyengir.

"Aku juga laper nih, belum sarapan." timpal Illa.

"Yaudah yuk!" balas Husna.

Akhirnya para wanita shalehah itu pergi ke kantin bersama.

"Astaghfirullah! Aku ada kelas sekarang! Aku ke kelas dulu ya, Assalamu'alaikum!" Kata Ica yang langsung pergi tanpa peduli salamnya dijawab atau tidak.

Hari ini hanya Ica yang ada kelas pagi. Tiga sahabatnya berangkat pagi untuk menunggu Ica, mereka sudah biasa saling menunggu, empat sekawan itu tak bisa dipisahkan oleh siapa pun, kecuali pencipta mereka, Allah SWT.

"Wa'alaikumsalam." Jawab para sahabat Ica. Mereka sudah biasa dengan sifatnya yang pelupa.

Mereka semua memang memiliki ciri khas masing-masing. Novi yang doyan makan, Ica yang pelupa, Illa yang cerewet, dan Husna yang dewasa.

"Illa, Illa, temenin aku ke toilet bentar yuk, aku kebelet nih." Kata Novi yang terlihat tak tahan lagi.

"Yaudah, ayuk, tapi bentar ya, jangan lama-lama, nan--" Belum sampai selesai berbicara, Novi sudah menarik tangannya.

Novi berdecak, "Udah ayuk." Gadis bergamis hijau pastel itu mempercepat langkahnya.

"Nanti kita nyusul!" Kata Illa yang mulai menjauh.

Husna tertawa kecil melihat tingkah laku kedua sahabatnya itu. Kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Ia membuka aplikasi Qur'an yang ada di Handphone-nya. Ia begitu khushuk membaca huruf demi huruf yang tertulis di kitab Allah tersebut.

Saking khushuknya, ia tak memperhatikan jalanan di sekitarnya. Tiba-tiba ....

BRUK!
Tanpa Husna sadari, ia menabrak seorang ikhwan yang ingin berbelok menuju kelasnya.

"Allahu Akbar." Kata Husna lirih gadis itu terkejut.

"Astaghfirullah, maaf, maaf." Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangannya.

"Maaf, bukan mahram." Husna menundukkan pandangannya dan berdiri.

Lelaki itu menarik kembali tangannya. Ia tahu, bahwa orang yang bukan mahram tidak boleh bersentuhan, tapi ia merasa bersalah, jadi ia memutuskan untuk mengulurkan tangannya.

"Ukhti nggak papa kan?" Tanya lelaki itu.

"Iya, nggak papa. Makasih. Ana duluan ya, Assalamu'alaikum" Husna berlalu meninggalkan lelaki itu tanpa sepatah kata lainnya.

Ia pergi tanpa mengubah posisi kepalanya yang masih tertunduk. Ia tak tahu bagaimana ekspresi lelaki itu. Gadis itu tak peduli apakah lelaki yang tidak diketahui namanya itu menjawab salamnya atau tidak.

Pacar HalalStories to obsess over. Discover now