"Dan kumulai merasa, cukup tau tanam dalam diri, tak usah ku ganggumu lagi, ku tak mau lagi, tak mau lagi, sayang."
🎵cukup tau-Rizky Febian
◼🔼◼
"Reza tunggu!" ujar seorang gadis berambut hitam legam dengan seragam putih abu-abu. Raut wajahnya mengguratkan keputusasaan yang begitu dalam. Kecewa, sedih, marah, itu adalah apa yang dia rasakan saat ini. Dirinya terlihat sangat lelah, bisa saja dia pingsan kapanpun dia mau. Tangan kecilnya bergetar sembari menggenggam sebuah kotak makan berwarna biru gelap.
Pria dengan seragam yang sama itu menoleh, dan menggumam kecil. "Hmm."
Wajah gadis itu terlihat sedikit lebih cerah. Dia merasa ada celah kecil untuk sedikit bernapas. Dia tidak menatap wajah pria di depannya. Dia menunduk. Takut. Hanya itu yang bisa dia rasakan sekarang. Tubuh ringkihnya bergetar. Dia menggigit bibit bawahnya untuk mengurangi rasa takut dan gugup.
"Ada apa? Gua nggak punya waktu buat ngeladenin elo." Ujar pria itu dengan ketus.
"Maaf," itu adalah kata pertama yang keluar dari bibirnya. "Untuk semuanya. Maaf selama ini gua udah ganggu lo dan buat lo nggak nyaman. Tapi mulai hari ini," dia menjeda kalimatnya. Memberanikan diri untuk menatap mata elang yang sedari tadi membunuhnya. Tersenyum palsu. Ya, hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Gua nggak akan ganggu lo lagi. Untuk terakhir kalinya, gua bawain lo ini. Dan gua mohon, karena ini yang terakhir, lo harus terima dan cobain pake lidah lo sendiri. Please!" ujar gadis itu dengan sisa suara yang dia punya. Kerongkongannya sakit. Suaranya tercekat. Tangan ringkihnya berusaha mengangkat kotak bekal biru gelap itu.
Pria itu bergeming. Masih menatap gadis itu dengan mata elangnya. Dua detik, empat detik, enam detik, delapan detik, gadis itu sudah tidak kuat mengangkat kotak bekal biru gelap itu. Tangannya bergetar hebat.
Pria itu berdecak sebal. Dia merampas kotak bekal biru gelap dari tangan si gadis. Lalu mengangkatnya menunjukan ke gadis itu kalau dia sudah menerimanya. Dan berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.
Setengah jam kemudian, gadis itu masih berdiri mematung menatap jalan yang di lalui pria tadi. Suara gemuruh bersautan. Kilatan petir mulai menerangi keberadaannya.
Tepat di saat tetesan pertama hujan, bulir bening membasahi pipinya. Dia menangis bersama hujan.
Kali ini dia menyerah. Membiarkan logikanya menang. Hatinya kalah telak. Hancur berkeping keping. Logikanya menguasai jiwanya. Pertahanannya selama ini hancur. Pertahanan yang dia buat dengan jerih payahnya.
Terkadang, kita memang harus mundur. Di saat kita sudah diminta untuk mundur.
Flashback:
"Karena gua sayang sama lo nggak pake alasan. Jadi gua nggak punya alasan untuk pergi."
"Gimana kalo gua sendiri yang ngusir elo?"
Hening.
"Ya, gua minta, lo buat berhenti sayang sama gua."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haiiiiii semua!
WELCOME TO MY NEW STORY!
Semoga kalian menikmati cerita ini.
Di baca ya! Vote sehabis baca ceritanya. Jangan asal vote aja tanpa di baca. Okay? Komenin aja sesuka hati kalian. Tapi jangan komen yang bikin semangat authornya ilang ya. Kritik dan sarannya sangat di nantikan. Kolom komentar berbuka lebar.
Oh iya, bagi kaka kaka yang bisa bikin cover. Aku lagi butuh cover untuk cerita ini. Yang baik, bantu bikinin ya ka. Silahkan di kirim ke alamat di bawah ini ya ka. Mohon bantuannya.
Email: pratisyara.nur.avatari@gmail.com
Id line: tisya.26
Oke segitu dulu ya. Btw, ini baru prolog. Babay!
See you on the next part!
-fursie
YOU ARE READING
Heart VS Brain
Teen Fiction"Gua masih kuat berjuang" itu adalah kalimat konyol yang selalu di lontarkan oleh sang Hati. "Tapi lo udah di sakitin berkali-kali," ujar sang Otak. "Persetan! Gua yang sakit kenapa jadi lo yang ribet? Kalo lo ga suka, pergi aja sana." Cecar sang...
