Sorry for typos!
***
Qatar menatap wajah temannya penuh keseriusan. Dia cantik, hanya laki-laki buta yang tak ingin menjadi pacarnya. Begitu juga dengan Qatar yang hanya berstatus sebagai teman dekatnya. Selama ini Qatar hidup dengan topengnya, palsu. Menahan segala hasrat didalam dirinya untuk tidak egois, dia hanya bisa menunggu. Menunggu sampai gadis itu menyetujukan permintaannya untuk menjadi pacarnya. Perasaan sakit itu ada, saat Qatar melihat gadis pujaannya lebih bahagia bersama laki-laki lain. Qatar hanya ingin dia lah yang menjadi alasan mengapa bibir gadis itu terseyum, mengapa hati gadis itu bahagia, dan Qatar rela menjadi Pensil Warna untuk mewarnai dan mengisi kekosongan hidup gadis pujaannya meski nantinya sebuah pensil itu akan habis dan tak berguna lagi. Dia selalu rela melakukan apapun asal gadis itu bahagia.
Tapi sekali lagi,
Qatar ingin.
Itu hanya keinginan Qatar yang hanya Tuhan lah yang mampu berkehendak. Seandainya Qatar bisa melakukannya, dia akan. Namun lagi-lagi hati dan otaknya tidak sejalan. Qatar tidak pernah bermimpi menjadi laki-laki egois yang melakukan berbagai cara untuk mimpinya. Jadi yang dia bisa lakukan sekarang adalah Ikhlas.
"...Terus kamu tau gak? Hanin itu cantik, baik, pinter, dia selalu ranking pertama dikelas. Kalau kamu ketemu sama Hanin, kamu pasti langsung suka sama dia, Tar! Nanti deh kapan-kapan aku ajak Hanin kalau kita mau hangout." Sebagian cerita yang Qilan bicarakan tidak dapat diterima ditelinga Qatar, hanya ucapan tadi yang Qatar sadari bahwa Qilan terus-menerus mengoceh soal teman sebangkunya yang katanya masih jomblo.
"Qil, lo tau itu percuma. Gua gak kenal sama temen lo, begitu juga sama temen lo yang gak kenal gua."
Qilan memberhentikan langkahnya, tak terasa dua insan ini sudah sampai ditengah jembatan. Qatar mengikuti Qilan dan memberhentikan langkahnya sejenak, menghirup udara pagi yang segar sambil menggosokkan kedua telapak tangannya untuk mendapat kehangatan. Pun Qilan menoleh pada laki-laki yang sudah menjadi temannya selama 7 tahun belakangan ini, Qilan paham betul bahwa Qatar paling sulit untuk menyinggahkan hatinya untuk gadis lain.
"Dan lo tau hati gua untuk siapa," Bisik Qatar, membuat bulu kuduk Qilan merinding. Qilan mendesis sambil menegapkan tubuh kurusnya.
"Tapi gak ada salahnya kan untuk mencoba?" Sahut Qilan, berharap Qatar mau merubah keputusannya.
"Gak salah, Qil. Tapi itu semua bakal berujung sia-sia. Gua bukan cowok brengsek yang mandang cewek dari satu sisi, maaf, gua gak gitu. Lo sendiripun tau butuh waktu 6 tahun bagi gua buat ngerasain jatuh cinta sama cewek yang gak tau hati nya buat siapa," Qatar menoleh pada Qilan. "Tolong jangan ikut campur tentang hati gua." Qatar melanjutkan.
"Hanin udah 7 kali pacaran, dia berpengalaman soal itu. Aku liat-liat kalian itu banyak persamaannya. Hanin berpikiran dewasa, begitu juga sama kamu. Kalau kalian bersatu, kalian pasti bahagia." Lirih Qilan, nampaknya dia masih belum menyerah untuk membujuk Qatar.
"Itu dia, kalo dia punya pemikiran dewasa dia gak akan punya mantan pacar sebanyak itu. Kenapa? Karena kalo orang pemikiran dewasa gak akan main-main soal hubungan, mereka cukup pacaran sekali dalam seumur hidup dan membangun rumah kebahagiaan. Qilan, jawab gua, harus berapa kali gua bilang ke lo kalo gua bukan anak kecil lagi, yang selalu lo arahin ke suatu jalan yang menurut lo benar. Oke, mungkin menurut lo itu benar dan gua bakal bahagia. Tapi gimana kalo pemikiran kita bersebrangan? Seperti minggu lalu saat lo ajak gua ketemuan di Caffe dan sialnya gua gak tau kalau lo lagi ngejalanin rencana konyol lo supaya gua bisa ngobrol sama temen cewek lo yang kaku itu. Bisa gak, lo paham keinginan gua, sekali aja?" Suara bariton Qatar lama-lama menghilang ditelan angin-angin yang masuk ke dalam tubuhnya.
YOU ARE READING
The Collection of Short Stories
RandomIni bukan cerita yang bersambung, tapi satu part langsung sampai ke endingnya, atau bisa dikatakan sebuah cerpen. 1: Too Late. 2: Lie, Love, and Lost. 3: Naughty Boy
