Prolog

7.5K 525 26
                                        

Gelap di ruangan itu menekan, seolah setiap bayangan bisa menelan Anggita hidup-hidup. Di depannya, seorang pria berdiri kaku: jas hitam menempel rapi di tubuhnya, menutupi kemeja putih bersih, dipadukan celana bahan hitam. Matanya tajam, menembus setiap inci Anggita yang menunduk ketakutan.

Pria itu bernama Angkasa, sedangkan gadis yang ia tatap sedemikian tajam bernama Anggita.

Langkah Angkasa maju, langkah Anggita mundur—satu lawan dua. Hingga punggungnya menabrak dinginnya tembok malam itu. Senyum miring lelaki itu menusuk; predator yang menemukan mangsanya. Tubuh kecil Anggita gemetar, namun Angkasa membaca getar itu dengan jelas: ketakutan yang terlambat muncul, baru terasa saat karma dari perbuatannya menunggu.

Wajah Angkasa mendekat, beberapa senti dari Anggita. Dia menutup mata erat.

"Kenapa menutup mata? Takut?" bisiknya lirih, namun setiap kata menusuk ulu hati Anggita. "Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu, sebelum perbuatanmu membawamu ke sini.. ke tanganku?"

Anggita menunduk lebih dalam, menelan napas, tubuhnya menegang. Tawa pendek Angkasa terdengar, lima detik penuh ancaman. Mata pria itu kembali menyala, penuh kemarahan dan niat menyakitkan.

"Tenang saja… aku tidak akan menghukummu sekarang," katanya pelan, namun setiap kata seperti pisau. "Aku akan melakukannya perlahan. Setiap detik akan membuatmu menyesal telah dilahirkan dan menantangku."

Sekonyong-konyong, Angkasa pergi. Anggita menarik napas, lega sesaat. Tapi ancaman itu masih membekas, menelusup ke setiap serat tubuhnya. Jantungnya berdegup tak karuan, darah seakan berhenti mengalir. Dia gemetar, takut akan bayangan yang akan datang.








VOTE AND COMENT. 

5 april 2017

Hai temen-temen, aku balik lagi hahaha.  Dengan revisi ugal-ugalan. (10 September 2025)

KLEPTOMANIAStories to obsess over. Discover now