Namaku Ganu septian. Aku hidup dan dibesarkan di desa yang cukup jauh dari kota. Jarak dari desaku ke kota sekitar 4 jam dengan naik bis pedesaan. Tapi aku tidak mengeluhkan tentang itu. Kehidupan disini bagiku sangat istimewa. Kau tau, hanya di desa lah kau bisa mendapatkan sesuatu yang semua orang inginkan. Udara bersih, Air yang mengalir di sungai, Bintang di malam hari, kau bisa dapatkan semua itu disini.
Tidak perlu khawatir tentang modernisasi di tempat seperti ini. Walaupun agak tertinggal jauh dari kehidupan di kota. Tapi kami juga mempunyai fasilitas yang terbilang cukup untuk kebutuhan masyarakat disekitar desa.
Tempat ini tidak se-sepi yang dipikirkan orang-orang kota. Disini ada hal yang cukup mengesankan. Hal sederhana yang membuatmu merasa hangat. Hal yang menjadikan kami begitu nyaman berada disini. Itu adalah tentang interaksi sosial yang menjadi kebiasaan sehari-hari kami disini. Berkumpul, tegur sapa dan saling membantu satu sama lain bagaikan hal yang wajib kami lakukan disini. Itu bukan karena rasa simpati atau lainnya, tapi orang-orang disini sejak dulu dididik untuk saling mengikat rasa persaudaraan. Tanpa meminta atau terpaksa, semua itu berjalan dengan sendirinya. Dengan begitu kehidupan disini sedikit lebih berwarna dengan wajah ceria penduduknya.
Tapi sayangnya, aku memiliki kenangan suram yang terukir disini. Aku ingat waktu itu, aku sungguh sedih dan hatiku terasa tercabik-cabik. Dari kelas 4 sekolah dasar, aku sudah kehilangan teman-temanku. Maksudku, aku dijauhi orang-orang hanya karena pertengkaran kecil dengan temanku saat bermain. Kala itu, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tau apa yang salah dariku, hingga mereka meninggalkanku sendirian.
Semenjak itu, hidupku tak pernah merasa bahagia lagi. Seakan-akan kejadian itu menghalangi semua langkahku. Aku bahkan tak bisa merasakan senyum indah wajah tempat ini lagi. Itu buruk, itu juga yang membuatku berubah seperti saat ini. Aku menjadi penyendiri.
Entah aku benci atau tidak pada tempat ini. Pastinya, Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Aku mencoba berusaha membuat kehidupanku sendiri. Hingga pada akhirnya, aku menemukan duniaku sendiri. Membaca komik dan buku bacaan yang menjadi hobby ku sampai sekarang ini. Hanya dengan itu, aku merasa nyaman walaupun aku sedang sendirian.
Saat ini, setelah apa yang dulu pernah terjadi padaku. Tentang pandangan mereka terhadapku. Aku hanya bisa pasrah. Dari cara mereka menyapaku, mungkin mereka telah melupakan kejadian itu. Tapi itu sama sekali tidak ada pengaruh bagiku. Kenangan buruk itu masih menempel erat didalam hatiku. Hanya saja aku menekan emosiku tentang itu semua. Memang sungguh pedih tapi harus bagaimana lagi, dan itu mungkin jalan satu-satunya agar aku bisa melupakan semuanya.
Namun terkadang, ingin rasanya aku mengubah hidup ini. Atas semua yang pernah terjadi, lama-lama itu membuatku depresi. Aku benar-benar tidak bisa melupakannya. Aku sungguh tertekan. Kau tau, aku selalu membayangkan bagaimana jika aku menjadi mereka, mungkin segalanya akan berbeda. Itu khayalanku, tapi… aku benar-benar menginginkan hal itu terjadi.
Entahlah, rasanya aku agak bosan dengan semua ini. Menjalani kehidupan yang kadang-kadang tidak aku sukai, seperti terpaksa. Tapi kurasa inilah kenyataannya. Jalan yang ku tempuh, entah itu baik atau buruk, mau tidak mau aku harus melewatinya.
Pada kesempatan lain, aku selalu berusaha dan mencoba untuk mengubah diriku. Memaksa diri untuk bangkit memulai kembali seperti saat dulu kala. Berharap mungkin aku mendapatkan suatu makna hidup yang baru yang mampu merubah segalanya.
Tapi sepertinya percuma, itu sia-sia. Aku tidak mendapatkan sesuatu pun yang dapat melupakan semua hal kenangan burukku. Aku tidak mendapatkan apapun untuk membantu diriku sendiri. Bahkan itu hanya membuatku semakin iri dan terpuruk.
“Huh... Haruskah aku menjadi seperti mereka?”. Pertanyaan seperti itu terus terbayang dipikiranku. Itu terkadang membuatku putus asa.
Hal yang tidak bisa aku miliki, impian yang tidak sanggup aku gapai, kesepian yang selalu menyelimutiku, sekian hari itu membuat hidupku semakin berat. Atau mungkin aku akan menyerah sampai disini. :-(
YOU ARE READING
Hanya Aku - Sendiri
General FictionPenyendiri yang mencari dunia baru. Dia ingin merubah kehidupannya. Hanya satu hal yang membuat hidupnya sedikit bahagia, itu adalah Teman. Menjalin pertemanan adalah dunia yang ingin dia pegang erat-erat.
