Chapter 1 : Before the Encounter

39.6K 1.8K 66
                                                  

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Ms. Ariesha, kau bisa tidur di rumah dengan nyaman. Bukan di sini!" seluruh atensi kelas tertuju pada seorang gadis yang baru saja mendongak setelah mendengar namanya disebut. Dengan mata setengah terpejam, ia mengemas buku-buku tebal di meja dan memasukkannya ke dalam ransel.

Gadis bersurai cokelat itu menguap tanpa malu dan melampirkan tasnya ke pundak. Mengabaikan tatapan seluruh orang di kelas, ia melenggang santai menuju ke depan. "Kau memang sangat pengertian, Mr. Jones. Terimakasih atas perhatianmu." Gadis itu memasang senyum manis dan berjalan ke pintu keluar, meninggalkan sang dosen yang mengeluarkan sumpah serapah.

Gadis itu tak peduli akan pemikiran orang-orang di sekitarnya. Terserah jika mereka menganggapnya gadis kurang ajar, gadis tomboy, tak beradap, tak beretika, atau apapun sejenisnya. Tidak ada yang benar-benar tahu tujuannya berada di sini. Terjebak di bangku universitas dan menyimak pelajaran tentang hukum bukanlah pilihannya.

Tanpa membuang waktu, gadis ramping itu segera meninggalkan bangunan utama. Ia menghirup udara Singapura di sore hari begitu tiba di pelataran universitas. Helaan napas keluar dari mulutnya, ia menghempaskan tubuh di bangku halte. Dipandangnya lalu lintas yang ramai lancar. Sepuluh menit bergulir saat sebuah bis berhenti di depan halte, membuat gadis itu segera beranjak dari bangku dan memasuki bis.

Dering ponsel pintar menginterupsi gadis itu, ia segera mendudukkan diri dan meraih benda tipis tersebut dari saku celananya.

"Hallo, Lya?"

"Yoonesha, ini gawat, Mr. Jones mengacam jika ia takkan memberikan nilai yang layak untuk tugas-tugasmu!"
Gadis bernama Yonesha itu hanya terdiam, wajahnya tampak tak acuh setelah mendengar berita dari rekannya tersebut. Pandangannya sibuk mengamati jalanan yang dipenuhi gedung-gedung bertingkat.

"Yo, kau tak mungkin diam saja kan? Kelulusanmu bisa terancam!"

"Terus, kau mau memintaku berbuat apa?"

"Astaga, kau bisa meminta maaf atau apapun untuk menyelamatkan nilaimu!"

"Akan kupikirkan, sudah dulu, ya. Aku ingin tidur." Yoonesha memutus sambungan secara sepihak saat bis yang ia tumpangi berhenti di halte. Gadis itu segera melangkah turun dan menuju sebuah apartemen di seberang jalan.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Agents : The Price of DutyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang