Prologue

53.2K 2K 55
                                                  

This story contain some of mature contents like graphic of violence, law breaking, swearing or profanity, drinking alcohol, smoking, and sexual themes.

Please, read at your own discretion.

*

"Agents : The Price of Duty" adalah versi baru "My Cool Agent" dan cerita pertama dari Jannivarsh's Series. Terdapat beberapa alur baru yang berbeda dari versi sebelumnya.

Terimakasih untuk pembaca lama, dan selamat membaca untuk para pembaca baru. Semoga kalian menyukai kisah mereka dan menyimaknya hingga usai.

****

Malam semakin larut, semilir angin terasa lebih dingin dan hujan pun telah berhenti. Meninggalkan jejak basah di semua tempat yang ia lalui. Seorang gadis memacu kaki telanjangnya untuk terus berlari. Keringat membasahi tubuhnya, surainya yang panjang tampak lepek, namun tetap berkibar karena langkah lebarnya yang dipaksakan.

Deru napasnya memburu, kelerengnya bergerak ke berbagai arah. Ketakutan merayapi setiap inci jiwanya. Kakinya terseok, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh menghantam kerasnya jalanan.

Sakit. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia seakan tak mampu bergerak. Bahkan hanya untuk sekadar berteriak. Tubuhnya seperti membeku, terpancang di jalanan basah yang temaram.

Tubuhnya meremang dan menggigil karena rasa dingin dan ketakutan. Kelerengnya kehilangan harapan saat bayang-bayang hitam yang melumpuhkan keberanian merambati tubuhnya. Seiring dengan suara-suara mengerikan yang mulai memenuhi kepalanya. Gelap, dingin, dan sendirian. Sejurus kemudian cahaya menyilaukan menyeruak.

Seorang gadis tersentak di atas ranjang. Kaos yang dikenakannya lepek oleh keringat. Bahunya gemetaran hebat dengan mata tak fokus. Tangan gadis itu meraih rambutnya yang kusut. Meremasnya kuat-kuat. Berharap bisa mengusir kengerian yang memenuhi kepalanya.

Gelap, dingin, dan sendirian.

***

Mentari di musim semi memang begitu hangat. Menebar keceriaan bagi semua orang. Seorang anak lelaki tersenyum lebar dengan sekuntum rapeseed di tangannya. Ia menatap dua sosok di hadapannya dengan penuh kegembiraan.

Tetapi, mendadak senyumannya luntur. Langit menggelap dan dunianya seakan berputar. Dua sosok itu melangkah, tangannya terulur, berniat meraih si anak. Ia terperanjat dan memundurkan langkah ketika darah menetes dari tangan sosok tersebut.

Anak lelaki itu mendongak, dua sosok itu meluruh dalam genangan darah. Sekelilingnya menggelap, semilir angin dan hangatnya mentari telah lenyap. Bocah itu terisak, ia meringkuk di atas genangan anyir, di antara dua jasad yang mulai meluruh dan menghilang. Meninggalkan dirinya seorang dalam kegelapan. Hawa dingin mulai merambat dan ia menyadari kesendiriannya dalam kegelapan.

"Sir, Sir, Anda baik-baik saja?"

Suara itu menyentaknya. Menariknya kembali dari tidur singkat yang mengerikan. Ia terengah dengan gemetar yang tak terkendali. Seperti biasa. Tidur adalah hal terburuk yang seharusnya tak ia lakukan. Namun, ia tak punya pilihan. Manusia memang memerlukannya, bukan?

Agents : The Price of DutyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang