Chapter 5 : The First Briefing

20.1K 1.2K 15
                                                  

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Yoonesha menyusuri lorong cerah dengan dinding kaca pada salah satu sisinya, sesuai arahan Elly. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa acuh di sekitarnya. Sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Ada yang memandang tajam pada berkas-berkas sembari berjalan tergesa, ada pula yang berteriak maupun berujar lirih pada seseorang di ujung sambungan telepon mereka. Di akhir lorong, Yoonesha menuruni tangga dan menjumpai ruangan besar di mana para staff dapat menyantap makan siang.

"Kau bisa bertemu dengannya di sudut kafetaria."

"Dia tak pernah terlihat duduk dengan orang lain."

"Dia akan memandang keluar sambil menyantap makan siangnya. Dia selalu makan tepat waktu."

Gadis itu menyapu pandang ke sekeliling saat kalimat Elly melintas di benaknya. Akhirnya, tepat di arah jam sepuluh, Yonesha melihat sosok yang ia kenal. Pria itu duduk memunggunginya, menatap dinding kaca yang menampilkan pemandangan luar.

Yonesha memantapkan langkahnya, ia menarik kursi yang berada tepat di hadapan Zhayn sebelum menyamankan dirinya di sana. "Apa kau mencari tahu tentangku selama ini?" tandasnya tanpa basa-basi. Zhayn tak berujar apapun, pria itu hanya memasang raut datar, sementara rahangnya bergerak pelan karena mengunyah.

"Ralat. Bagaimana kau bisa tahu tentang hubunganku dengan Elly, Tuan Muda Jannivarsh?" Untuk beberapa saat manik Zhayn membulat. Tetapi, pria itu kembali memasang raut datarnya seperti semula. Ia menunduk untuk membenarkan letak sendoknya sebelum kembali mendongak. Kini, menatap Yoonesha tepat di kedua matanya. Kelereng emasnya berkilau tajam karena sinar mentari. Pria itu menelan makanannya, sebelum menghela napas pelan.

"Apa itu penting?" sahutnya acuh-tak acuh.

"Apa maksudmu? Tentang kau mengetahui hubunganku dengan Elly padahal dia tak cerita pada Andy kekasihnya yang dekat denganmu itu? Atau karena aku sudah mengetahui identitasmu?" Yoonesha melipat kedua  tangannya di atas meja. Melempar tatapan dengan alis mencuram. Sebelum kembali melayangkan pertanyaan, tiba-tiba seorang pelayan membawakan senampan makanan dan minum.

"Makan. Temui aku di kantor setelahnya." Yoonesha membulatkan mata ketika memandang Zhayn yang bangkit dan berlalu meninggalkannya begitu saja. Astaga, pria itu bahkan masih mengatur makanannya. Gadis itu berniat memulai menyantap makan siangnya ketika samar ia mendengar bisik-bisik dari staff lainnya. Mereka jelas membicarakan Zhayn, melontarkan pujian, namun tak sedikit pula yang memberikan kritikan.

"Apa dia selalu jadi pusat perhatian seperti itu?" gumamnya kemudian. Berusaha mengabaikan sekeliling dan menikmati hidangannya. Sesaat, pandangan gadis itu terarah pada sepiring salad yang nyaris seperti tak tersentuh. Pria itu hanya memakan seperempat porsinya saja. Bahkan, tatanannya pun masih belum berubah. Yoonesha hanya menggeleng tak habis pikir melihatnya.

Agents : The Price of DutyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang