Derap langkah kaki menggema di koridor lantai 2 gedung B SMA Nusa Indah yang sudah sepi. Siswi berkuncir kuda ini lari untuk bisa cepat sampai ke kelasnya. Dirinya telat lima belas menit, dan masih beruntung guru piket hari ini akan menjaga gerbang sekolah dalam waktu lima menit lagi.
Cewek kelas sebelas ini langsung membuka pintu kelas, belum ada guru yang datang. Perasaannya lega. Ia langsung duduk di bangkunya, terletak di baris kedua dari depan, deret kedua dari pojok sebelah kanan kelas. Seperti biasa, suasana kelas ketika belum ada guru pasti riuh. Kali ini sekretaris kelas XI IPS-5 sedang memeriksa absen.
"Tumben baru dateng, Ra." katanya, lalu dijawab hanya dengan anggukan. Siswi ini masih mengatur napasnya yang terengah-engah.
Namanya Ara. Lengkapnya, sih, Asya Mutiara. Cewek kalem, tinggi, pintar, suka makan coklat, dan jarang marah. Ara juga menjabat sebagai bendahara kelas—meski terpaksa. Walau jarang marah, tapi kalau lagi nagih uang kas bisa galak banget, malah ngalahin beruang yang lagi kelaparan. Satu lagi, anaknya labil; apa aja bisa di-labil-in sama Ara, sampai-sampai temannya pada bingung karena yang diubah-ubah biasanya hal sepele.
Terakhir, sering ngaku kalau dirinya jorok.
"Pasti kesiangan."
"Tidur jam berapa lo?"
"Belom mandi, kan, lo?"
Rata-rata celotehan itu keluar dari mulut teman-temannya yang heran. Jarang sekali seorang Ara bisa telat. Mengetahui jika Ara sosok murid yang paling taat—dan terkadang takut—aturan.
Sekretaris melanjutkan absennya, "Ilham mana?" tanyanya pada semua teman di kelas.
Ara yang mendengarnya langsung menyahut, "Kayak nggak tau Iil aja, Va. Tadi gue barengan ke gerbang, tapi nggak tau lagi deh, itu anak kemana."
Eva—sekretaris—langsung menulis huruf A pada kolom absen di nama Ilham Lingga Afitra. Cowok paling bad di kelas, kerjaannya bolos, ngerokok, tawuran, pembangkang, dan sering ngeledekin guru. Pokoknya bandel banget, deh.
Biasanya bad boy yang dibaca Ara di Wattpad itu rerata ganteng, cool, maskulin. Tapi Ilham engga, dia beda. Mukanya pas-pasan, nggak ganteng tapi nggak jelek juga. Panggilan akrabnya Iil, tingginya sama dengan Ara, suka ngumpul bareng kakak kelas di pojokan kantin—ngerokok sambil kemayu ke adik kelas yang katanya gemes-gemes.
Eh, ini kenapa jadi ngomongin Iil?
"Selamat pagi!" Bu Ati masuk ke kelas membawa buku cetak tebal matematika, memasang wajah datar yang sudah lumrah melekat di diri Bu Ati.
Semula yang ramai berubah menjadi hening, antara siap tidak siap mendengarkan kata demi kata yang dilontarkan Bu Ati. Kadang ceramah dulu baru mengajar, kadang juga sebaliknya. Mungkin karena faktor U-nya yang akan memasuki kepala 5.
Bu Ati mulai mengabsen. Daftar hadirnya telah sampai di nama Ilham, "Iil kemana? Nggak hadir lagi? Sudah tiga kali lho dia absen di pelajaran saya. Kalian ngga ada yang tau? Masa teman kelasnya sendiri nggak tau. Kalian gimana, sih? Harusnya kasih tau Iil dong, kalau tugas dia itu belajar, bukan main-main nggak jelas. Kalian punya rasa peduli sesama teman nggak, sih? Kan setiap upacara selalu baca janji siswa, yang cinta dan peduli sesama teman. Kalian nggak menerapkannya? Gimana, sih?!" macem gerbong kereta Bu Ati berbicara, panjang kali lebar.
Berarti sekarang ini ceramah dulu, baru mengajar.
Ara yakin seratus persen, teman-teman sekelasnya tidak ada yang mendengarkan omongan Bu Ati. Paling hanya manggut-manggut saja jika kepergok dengan beliau.
Akhir dari orasinya, Bu Ati berdiri, mengucapkan kalimat lagi, "Pokoknya saya nggak mau tahu. Di jam saya berikutnya Iil harus hadir, kalian harus bisa membujuknya. Ini mau ujian semester, semuanya harus bisa di pelajaran saya." Lalu Bu Ati mulai menuliskan rumus-rumus matematika yang pasti bikin pusing.
"Ini kenapa kita yang dituntut gini, sih?" kata Eva yang duduk di belakang Ara.
Fale di samping Eva manggut-manggut, "Iya nyusahin banget."
"Namanya juga Iil." celetuk Ara.
•••
Semoga suka sama cerita ini ya, dan semoga rutin updatenya.
Jangan lupa vote dan comment!
Berharga banget buat saya.
Tengkyu!
14 April 2017
YOU ARE READING
Sebatas Hati
Teen FictionAra tidak tau apa yang dilakukannya, ia hanya membantu apa yang perlu dibantu. Seperti Ilham yang memintanya untuk mengajarkan pelajaran eksak. Ara tulus, dan kedengarannya Ilham juga tulus. Tapi dunia ini penuh sandiwara. Entah siapa yang jujur ata...
