1. Sama

2.4K 155 159
                                        

"Tuhan itu adil kepada semua hambanya."

"Kamu mau ikut Mama atau Papa?"

Satu kalimat yang selalu terngiang dalam fikiran gadis sederhana berumur 16 th bernama Nabila Stevani.

"Vaniii." Panggil Shinta Mama Vani dari taman belakang rumahnya.

Shinta suka pada tanaman, maka dari itu Shinta selalu meluangkan waktu untuk merawat tanamannya di halaman belakang rumahnya.

Warna hijau yang selalu menyejukkan saat dipandang oleh mata.

"Eh iya Maaa bentarrrr." balas Vani dari kamar, Lalu Vani beranjak menuju taman belakang rumah.

"Sini bantuin Mama nyiram tanaman, jangan dikamar terus."
Shinta tersenyum kearah anak kesayangannya itu.

"Iya Mama sayanggg." balas Vani dengan manja -selalu seperti itu.

***

Membaca novel itu salah satu hobi gadis itu.

Dikamar bercat pink bernuansa feminim sekali. Ya, sekarang malam minggu, biasanya Vani akan menghabiskan malam minggunya untuk hobi yang satu ini.

Di meja belajar, Handphone Vani bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk.

Ternyata benar itu dari grup
*Tahu Bulat* entah dari mana mereka mendapat inspirasi, mungkin dari tahu bulat itu sendiri.

[Tasya] : Malam minggu Malam mingguu 👻
[Vima ] : yelahh cewek cantik stay dirumah 🙆
[Bella] : terima kenyataan kalo lu itu jonesss huahahaaa 😼
[ Tyara] : sesama jones jan ribut please sadar diri napa😓
[Bella] : 🔪🔪🔪🔪🔪🔪
[Tasya] : Vani mana Vani oii
[ Vima] : biasalahh baca novelll wkwk
[Vani] : ...
[Tyara ] : najonggg bayi badak 😈

Dilihat 4 orang.

Vani meletakan novel dirak novelnya. Saking banyaknya koleksi novel yang ia punya.

***

Pagi hari setelah Vani menunaikan sholat shubuh.

Papa is calling...

"Assalamualaikum Paaa."
"Walaikum salam Vann, Vanni nanti Papa jemput ya nanti kita pergi jalan-jalan."
"Iya Papa sayang."
"Yaudah Papa tutup telfonnya ya gadis kecilku."
"Iya Papa."

Vani menghempaskan badannya ke kasur empuk miliknya seolah memiliki magnet yang selalu siap untuk menarik dirinya.

"Seandainya Mama dan Papa ga pisah."

Batin Vani untuk kesekian kalinya,
Menyedihkan memang.

***

Cahaya mentari masuk menelusup ke celah gorden dikamar Vani.
Jarum jam menunjukan pukul 08.15
Belum terlalu siang dibanding biasanya Vani bangun setiap hari minggu.

Vani bergegas kekamar mandi seolah tidak mau terlambat pergi dengan papa Vani yaitu Bima.

"Pagi Mama sayangggku muah." Vani mengecup pipi Shinta yg sedang menyiapkan sarapan untuk Vani dan Sena yaitu Ayah tiri Vani.

"Mama, Ayah, Vani habis ini mau pergi kerumah Papa yaa." Vani memulai obrolan dengan mereka orangtuanya.
"Iya Vann mau Ayah anterin? " tanya Sena ayah tiri Vani.
"Engga Yah nanti Papa mau jemput kesini katanya." balas Vani dengan sopan.

Vani memanggil Bapak tirinya dengan sebutan Ayah,
Sedangkan memanggil Bapak kandungnya dengan sebutan Papa.

Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil milik Bima Stevan ( Papa kandung Vani).

"Yah, Ma, Vani izin yaa mau pergi sama Papa. Assalamualaikum." Vani bersalaman sebelum pergi.

Dress berwarna jingga selutut, rambut terurai, flatshoes putih, sangat manis pada diri Vani.

Langkah Vani begitu bersemangat untuk menemui Papanya.

***

-Bioskop-
Vani, Papa bima dan ibu Tirinya.
Seperti keluarga yang sangat bahagia -nampaknya.

Terlihat ramai orang yang sedang menonton bioskop

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Terlihat ramai orang yang sedang menonton bioskop.

Setelah menonton bioskop mereka mencari makan direstoran.

Setelah itu mereka pulang, canda tawa selalu menghiasi disetiap perjalanannya.

***

Monday.

Aktivitas kembali seperti biasa.
Sehabis upacara dikelas XI Mipa 4 di SMA harapan bangsa.

Sebelum pelajaran berlangsung, Bu Rina mengabsen para Siswa terlebih dahulu.
"Chevin Dirgantara."
"Cevin Dirgantara? Ada?" tanya Bu Rina.
"Tidak berangkat Bu" jawab Reza Aldino selaku ketua kelas.
"Kemana dia?"

Keluh Bu Rina pada siswa kelas XI Mipa 4.

"Ya sudah sekarang buka lks kalian halaman 68 kerjakan dibuku tugas nanti dikumpulkan." kata Bu Rina.
"iya buuu" jawab siswa serentak.
Jam pelajaran berlalu sekarang waktunya istirahat.

Bel berbunyi.

Ting tung ting tung ting tung...

Para Siswa pergi kekantin, lain dengan Tasya, Vima, Bela, Vani dan Tyara.

Mereka memilih membawa bekal dari rumah.

"Guys ngrasa ada yg beda ga dari si Chevin?" tanya Vima.
Semua masih fokus mengunyah makanan,
"Kenapa ya kok Chevin jadi beda?" imbuh Vima kepada 4 orang sahabatnya.
"Eh cie nanyain nihh." balas Bela sambil membuka kotak bekalnya.
"Gataulah" balas Vani sambil memasukan nasi kedalam mulutnya.

"Pasti ada faktor X nih menurut gue. " balas Tyara tidak mau kalah. "Mungkin dia sakit kali." imbuh Tasya.
"Tapi gamungkin juga seminggu selalu berangkat kalo ga 3 kali ya 4 kali." balas Vani.

***

Chevin Dirgantara, sekarang berada di basecamp yang biasa mereka kumpul.
Eric, Dito , Fahri. Mereka adalah sahabat terbaik Chevin.

"Eh kutuu kenapa gaberangkat sekolah dicariin tuh sama Ibu kantin hahaha." celetuk Eric sembarangan. "Males." balas Chevin dengan ketus. "Gaboleh gitu brooo sekolah buat masa depan lu juga, nakal boleh goblok jangan." imbuh Fahri yang sedang merokok.

"Kita sebagai sahabat elu Vin kita keluarga, kalo lu ada masalah cerita sama kita." imbuh Dito seolah mendramatisir keadaan.

"Gue lagi kepikiran bokap sama nyokap kenapa pisah dan ga ngertiin perasaan gue sebagai anaknya haha tragis banget yak." akhirnya Chevin mau bercerita walaupun sedikit.

"Tenang bro elu masih punya kita sebagai keluarga kedua buat elu" jawab Eric sambil menepuk bahu Chevin. -itulah gunanya sahabat saling membangun saat ada yg merasa jatuh.

------------------------------------------
Hayhayyy semoga kalian suka 😊
Jangan lupa vote dan komennya 😍
-Anandabil-

MabestStories to obsess over. Discover now