satu

12 1 0
                                        

"Zahra, ke kantin yuk", ajak gadis cantik berambut sebahu yang duduk disampingnya dengan bersemangat.

"Oke Yerra, mari kita berangkat", jawab Zahra pada Yerra dengan semangat pula.

Ya. Yerra. Gadis cantik berambut sebahu itu Yerra namanya. Lebih tepatnya Yerra Azillanamira. Sekarang ia duduk dibangku kelas dua SMA Nusa Bangsa. Dia bukanlah gadis yang dikagumi oleh siswa siswi karena kecerdasannya, kepandaiannya, dan perilaku sopan santunnya. Dia hanyalah gadis biasa yang menuntut ilmu dengan kemampuannya yang biasa saja tapi juga tidak terlalu biasa, bisa dibilang lumayanlah. Tetapi ia adalah gadis yang ramah juga periang.

"Yer, lo tau gak?", Tanya Zahra antusias sembari melahap baksonya.

"Gak" jawab Yerra singkat dengan raut muka yang datar juga tanpa menoleh kearah Zahra karena dia masih sibuk dengan semangkuk bakso dihadapannya.

"Ya elah Yerra" gerutu Zahra pelan "Lo gak tau anak baru yang udah mendunia di sekolah kita itu? Ada cogan baru, Yer" lanjutnya lagi.

"Biasa aja kali Ra. Nggak mendunia kali. Orang gue aja belum tau" jawab Yerra asal.

Memang Yerra tidak terlalu tertarik pada hal yang seperti itu.

"Itu mah lo nya aja yang kelewatan, Yerra" ucap Zahra seraya bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Yerra untuk kembali ke kelas.

***

Karena hari ini pelajaran kosong Yerra berniat untuk ke perpustakaan. Sekedar membaca novel atau apapun yang bisa ia baca. Daripada harus dikelas yang sangat ramai dengan kelakuan teman-temannya yang menggila.

"Permisi bu Ani" sapa Yerra pada guru yang menjaga perpustakaan.

"Eh Yerra, kok kesini? Bukannya ini waktunya pelajaran ya?" Tanya bu Ani dengan ramah tak lupa dengan senyum di bibirnya.

"Gurunya berhalangan untuk hadir bu, jadi kelas kosong. Ya udah saya kesini aja" jawab Yerra kemudian.

"Oh ya udah masuk aja" perintah bu Ani.

"Iya bu" lalu melenggang pergi meninggalkan bu Ani.

Yerra memilih di rak bagian novel. Ia melihat siswi yang sedang tertidur di bangku dekat rak. Dilewatinya saja siswi tersebut oleh Yerra sambil memilih novel yang akan ia baca.

Yerra yang sudah membawa novel ditangannya lantas duduk di bangku yang tidak jauh dari siswi tersebut. Dibacanya novel tersebut dengan suasana yang hening.

Sudah beberapa lembar yang dibaca dari novel tersebut. Namun Yerra merasa dirinya diperhatikan oleh siswi yang berada didekatnya itu. Yerra melanjutkan membacanya tanpa menoleh ke siswi tersebut.

"Yer" panggil siswi itu.

"Ya" jawab Yerra singkat namun matanya masih terpaku pada novel bacaannya.

Ia memikirkan sedikit panggilan tadi. Sepertinya Yerra mengenal suara itu. Tapi siapa?.

Lantas Yerra melihat siswi yang memanggilnya. Ia hanya bisa diam menatap siswi tersebut.

"Gue ke kelas" ujar Yerra sembari berdiri dari kursinya dan menginggalkan siswi itu bersama novel yang ia baca sedari tadi.

"Kenapa, Yer?" Ujar siswi itu pelan, namun masih bisa didengar oleh Yerra.

Yerra yang kini sudah membelakangi siswi itu pun memberhentikan langkahnya, namun Yerra tak menoleh sedikitpun. Ia hanya terdiam kaku dengan pertanyaan yang dilontarkan siswi tadi. Yerra melanjutkan langkah dan meninggalkannya.

"Maafin gue Raf" gumaman kecil yang amat sangat pelan yang ia ucapkan ketika sudah berada diluar perpustakaan. Matanya yang sedari tadi berkaca-kaca kini sudah meneteskan kristal beningnya.

Air matanya diusap dengan kasar lalu ia bergegas kembali ke kelas.

Yerra tidak tau jika di balik jendela perpustakaan sana ada sepasang mata yang memandangnya sedari ia keluar dari perpustakaan dengan mata yang penuh arti menyedihkan.

Hanya butuh waktu sebentar saja dan kini ia sudah sampai dikelasnya. Ia masuk dengan langkah santai. Ia juga bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.

"Yerra. Darimana aja lo?" Tanya Zahra dengan nada yang amat ketus. Memang sih tadi ia tidak bilang ke Zahra kalau mau ke perpustakaan.

Belum sempat ia jawab namun sudah ada yang menyahutnya "udah Yer sini. Kita senang-senang" ajak Rio.

"Okee.. kita lanjut" suara Yerra bersemangat seraya duduk disamping Zahra.

Rio memainkan gitarnya dan lagu pun mulai dinyanyikan.

Apa kau mengerti
Ku sedih sendiri
Tanpa ada kamu
Ku merasa sepi
Tlah lama ku menantimu
Diam sendiri menunggu
Ku sakit karenamu

Yerra terbelalak dengan lirik yang baru saja dilantunkannya. Ia hanya berharap agar tidak terbawa dalam alunan yang akan membuatnya menangis lagi.

Sungguh aku tak bisa
Sampai kapanpun tak bisa
Membenci dirimu
Sesungguhnya aku tak mampu
Sulit untuk ku bisa
Sangat sulit ku tak bisa
Memisahkan segala
Cinta dan benci yang kurasa

Dalam. Lagu itu sangat menusuk dalam hati Yerra. Kini ia sedikit terdiam namut tetap menyanyikannya.

feelingWhere stories live. Discover now