Bagian 20

23.5K 2.3K 248
                                    

Bagian 20

"Aku nggak mau, Tante."

Aku menolak keputusan Tante Sita untuk membawaku ke rumahnya di Solo. Hari ini dia datang ke rumah sakit sekaligus mengajakku pindah. Aku tentu tidak mau. Lebih tepatnya, tidak mau kehilangan anggota keluargaku lagi kalau aku ikut dengan Tante Sita. Tentu kalian masih ingat dan akan selalu ingat setiap ancaman dari dia.

Aku tidak ingin mengambil risiko. Kalau saja aku bisa, aku akan membunuhnya sekarang juga. Melakukan apa yang telah dia lakukan pada orang tuaku. Aku akan dengan senang hati menusukkan belati ke tubuhnya. Tapi faktanya aku tak bisa melakukan apa pun selain menangis dan mencacinya, memukulinya dengan kekuatan tanganku yang tak seberapa.

"Tapi Tante nggak sampai hati biarin kamu sendiri di sini."

"Aku memang pengin sendiri."

"Tante takut psikologis kamu terganggu, Prilly. Ikut sama Tante saja, ya? Kamu kuliah di sana."

Kuliah. Bahkan aku belum berpikir lagi sampai ke sana. Mimpiku hancur seketika bersamaan dengan hancurnya perasaanku, "aku lumpuh."

Tante Sita terdiam mendengar ucapanku. Bagaimana aku bisa melanjutkan pendidikan dengan keadaan aku seperti ini? Merepotkan orang setiap hari?

"Kan ada Bintang yang menemani kamu."

"Tante pulang aja. Prilly mau istirahat."

"Tap-"

"Pulang, Tante."

Setelah pintu tertutup aku menangis terisak. Aku menangisi takdirku. Lagi. Untuk kesekian kalinya aku bertanya, kenapa harus aku? Kenapa aku kehilangan orang tuaku secara bersamaan?

"Kinan, kenapa nggak aku saja yang mengenal dia lebih dulu? Dan meninggalkannya lebih dulu? Kenapa kamu sejahat ini meninggalkan orang untuk menghancurkanku?"

•••••

Bergeming aku menatap sebuah bangunan di depanku, membuat aku kembali terisak. Sesaknya tak habis dimakan waktu. Aku benar seperti orang gila. Sebentar menangis, kadang tertawa, juga tersenyum sendiri mengingat saat orang tuaku masih ada.

"Kita masuk, ya."

Bintang mendorong kursi rodaku memasuki rumah yang beberapa hari tidak ditempati. Semuanya masih sama sebelum kejadian waktu itu. Kejadian yang membuatku seperti bukan diriku.

"Langsung istirahat, ya," aku menahan tangan Bintang yang bersiap menggendongku. Aku menggeleng tanpa bersusah menatapnya, "ya sudah. Gue balik dulu, ya? Kalau ada apa-apa panggil Bibi atau telepon gue. Nanti sore Vita ke sini, kok. Ya?" Aku mengangguk. Bintang mengelus puncak kepalaku sebelum akhirnya keluar meninggalkan aku di kamar. Sendiri.

Sampai kapan semua ini berakhir? Rasanya aku kehilangan arah. Ke mana pun orang membawaku maka aku ikut terseret tanpa protes.

"Permisi, Non. Makan siang dulu, ya?" Aku menggeleng, "Bibi suapin ya?" Aku tetap menggeleng. Emosiku tiba-tiba meningkat. Aku tidak tahu kenapa sekarang emosiku cepat sekali meningkat.

"Sedikit saja, Non. Tadi Den Bintang suruh saya buat-"

"Saya nggak lapar."

"Sedikit saja, ya."

PRANG!

Aku menepis tangan Bibi yang memegang sendok dan nampan hingga isinya berserakan di lantai.

"Aku bilang aku nggak lapar!"

"Tapi-"

"PERGI! AKU BILANG PERGI! JANGAN GANGGU AKU!"

Psychopath Boyfriend [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang