Praaaang
Suara barang-barang yang terjatuh karena dilempar oleh seorang pria.
"Aku tidak ingin tahu, kita harus tetap bercerai!! Dan kau harus menandatangani surat perceraian ini!"
"Aku tidak ingin bercerai denganmu!! Hiks." jawab seorang wanita yang terduduk di lantai sambil menangis sesegukan.
Geram karena istrinya itu tidak mau menurut akhirnya pria itu menamparnya hingga sudut bibirnya berdarah.
Sedangkan di depan pintu kamar, seorang wanita lain yang sedang menatap aksi itu dengan tatapan sinis dan tersenyum penuh kemenangan.
'Akhirnya kau bisa merasakan apa yang aku rasakan selama ini Lena'
"Terserah! aku tidak akan pernah menemui mu dan Liam lagi"
Lalu pria itu pergi dengan wanita yang berada di depan pintu tanpa menghiraukan istrinya yang sedang menangis dan melewati seorang anak kecil yang sedang duduk dibawah meja yang masih mengenakan seragam sekolahnya.
Anak kecil itu menutup kedua telinganya sambil menangis dan menahan isakannya.
Lalu anak kecil itu keluar dari bawah meja dan menghampiri sang ibu yang juga menangis.
"Mamah..." panggil anak kecil itu dari arah pintu.
Karena mendengar ada yang memanggilnya, wanita itu langsung menghapus air matanya dan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa apa.
"Pangeran mamah udah pulang?"
"Ya, mama kenapa? Kok bibir mamah berdarah?" tanya anak itu seolah-olah dia tidak tau apa yang sudah terjadi.
"Ohh, ini gak apa-apa. Tadi kegores mungkin pas lagi beresin barang-barang di kamar."
"Kalo gitu Liam ambil obat dulu, buat obatin mamah"
Liam memilih berpura-pura tidak mengetahui apapun karena takut menambahkan luka Lena. apapun yang terjadi Liam bertekad akan terus menjaga Lena dan menjauhkannya dari pria yang berjulukan 'ayah'.
.o0o.
Liam merupakan anak tunggal dari pemilik perusahaan Permana Group yang berjalan dibidang furniture yang terbilang sangat besar dan sukses. Ayahnya juga merupakan pendiri sekolah, sekolah itu bernama SMA Bakti Permana.
Semenjak kejadian dimana sang ayah meninggalkan dirinya dengan ibunya, Liam menjadi pendiam, jarang berbicara, dan dingin terhadap siapapun terkecuali pada wanita yang selalu menjaganya, yaitu sang ibu.
Tahun demi tahun berlalu, walaupun sifat Liam seperti itu banyak kaum hawa yang mengidolakannya bahkan ia memiliki banyak fans. Salah satunya adalah Tika, teman sekolahnya sewaktu SMP hingga sekarang.
Sejak SMP Tika sangat terobsesi untuk memiliki Liam, hingga banyak siswi disekolahnya yang tidak berani mendekati Liam karena takut dengan Tika.
Liam sering kali pindah sekolah, kelas dua sampai kelas lima SD Liam pindah ke Amerika, lalu kelas enam SD Liam pindah ke London, dan sejak SMP Liam pindah lagi ke Indonesia hingga sekarang.
Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.
Dan hari ini Liam menjalankan aktifitas yang membosankan seperti biasanya.
Jam 06:30 pagi Liam sudah berada di cafe dekat sekolahnya. Liam memang selalu datang pagi tetapi dia selalu sengaja datang terlambat, alasannya karena dia tidak ingin para gadis hanya fokus kepadanya. Memang, terkadang tingkat kepercayaan diri Liam sangat tinggi. Tetapi, sifat percaya dirinya itu hanya ia tunjukan didepan teman-teman dan ibunya.
Liam melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 07:10 itu berarti lima menit lagi Liam baru akan datang ke sekolahnya.
Liam menoleh ke arah jendela dan melihat seorang siswi yang berdiri di depan gerbang yang tertutup yang didalamnya ada seorang satpam. Terlihat siswi itu seperti sedang berteriak sambil memohon-mohon untuk dibukakan pintu gerbang, namun tidak direspon oleh sang penjaga pintu gerbang.
Siswi itu terlihat kewalahan dan menyerah tetapi dia mencoba meneriaki satpam itu lagi, lagi dan lagi. Karena jam ditangan Liam sudah menunjukan pukul 07:30 akhirnya Liam keluar dari cafe dan bergegas menuju sekolahnya dengan mengendarai motor kesayangannya.
Tiiiin
Suara klakson motor Liam mengejutkan siswi itu dan membuatnya refleks menyingkir. Satpam yang mendengar suara klakson motor Liam langsung bergegas membuka gerbangnya dan mempersilahkannya masuk.
"Pagi, Den" sapa Pak Diman.
Liam hanya mengganggukkan kepalanya dan menjalankan motornya. Namun baru saja setengah dari motornya melewati gerbang Liam sudah berhenti, Lalu menoleh kearah siswi yang ia lihat dari dalam cafe.
"Lo, cepetan masuk!" ucap Liam dan langsung menggas motornya dan memarkirkannya di tempat parkiran khusus hanya untuk kendaraannya.
Lalu siswi itu langsung berlari melewati gerbang dan menghampiri Liam yang sedang menaruh helmnya. Tanpa basa-basi, cewek itu langsung berbicara.
"Thanks ya buat yang tadi, oh ya..nama gue Adella ." Adel memperkenalkan dirinya sambil menyodorkan tangan kanannya berharap malaikat yang sudah menolongnya itu menjabat tangannya dan tersenyum manis.
Namun apa yang Adel bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan, mata dan mulut Adel terbuka lebar karena Liam hanya berjalan melewatinya. Gadis itu hanya mengumpat dengan suara kecil, berharap cowok tadi akan mendapatkan karmanya.
Dengan cepat cewek itu mengikuti Liam, cowok itu sadar bahwa gadis tadi mengikutinya. Jadi ia mengambil ponselnya dari saku, lalu mengarahkan ponselnya ke arah samping untuk melihat Adel melalui layar ponselnya. Ternyata Adel sedang berjalan sambil menunduk.
Liam tersenyum sinis, dengan sengaja ia berhenti secara tiba-tiba dan mengkokohkan kakinya, karena ia tahu jika gadis itu akan menabrak punggungnya.
Bugh
"Aduh" ringis Adel sambil mengusap bagian kepalanya yang terbentur punggung Liam.
Adel hanya menatap Liam dengan tatapan kesal. Sedangkan Liam tetap berjalan kearah ruang kelasnya.
"Bener-bener deh tuh cowok," dengus adel.
-----------------------------------------------------------
Hay salam kenal..
Part ini abis direvisi, jadi banyak perubahan kata.
Makasih udah mau baca cerita aku.
Btw ini cerita pertama aku, aku masih semangat dan bakal lebih semangat lagi kalo kalian kasih voment 😊😘😁
YOU ARE READING
Ade(L)iam
Teen FictionHuruf awal namamu selalu di ucapkan oleh orang yang baru saja belajar mengenal huruf. Bahkan di setiap kata selalu ada huruf awal namamu. Mereka menghafal huruf itu dan menyimpannya di dalam pikiran mereka. Tetapi... Lain halnya denganku, Aku bahkan...
